Saturday, 23 January 2021


Pesan Petani Sukses: Ini Kiat Bisnis Aglaonema untuk Pemula

17 Dec 2020, 10:39 WIBEditor : Yulianto

Tanaman aglaonema kini permintaannya melonjak | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor--- Di tengah pandemi Covid-19, permintaan tanaman hias naik pesat. Ketika perekonomian masyarakat umumnya menurun, namun tidak dengan pasar tanaman hias. Masyarakat yang cenderung beraktifitas dari rumah, akhirnya memilih berkebun di pekarangan rumah.

Naiknya permintaan tanaman hias diakui Wartono, petani sekaligus pelaku usaha asal Ciapus Bogor yang kini kebanjiran order. “Tren dan permintaanya jauh lebih besar dari saat sebelum pandemi, Cuma permintaan kalau dulu biasanya pedagang sekarang ini semua golongan dan kalangan. Juga permintaannya menjadi lebih banyak dan membludak, bisa lima puluh kali lipat,” ujar Wartono, pemilik Gress Nursery di Ciapus, Bogor.

Tingginya permintaan tanaman hias mendorong masyarakat terjun ke bisnis tanaman hias. Sayangnya, banyak yang belum mengetahui selak beluk bisnis tersebut. Untuk itu, Wartono berbagi tips untuk mengembangkan bisnis tanaman hias, khususnya aglaonema.

Bagi seorang penjual sekaligus produsen, Wartono menjual aneka aglaonema mulai kisaran Rp 35 ribu. Untuk yang berukuran remaja bukanlah hal yang mengherankan bisa mencapai Rp 1 juta. Bahkan Golden Hope dibanderol Rp 20 juta.

Wartono menyarankan, untuk  usaha tanaman hias kita harus sabar dan tekun, karena mengembangkan aglaonema itu tidak mudah. Kadang  bagi pemula tidak sabar menunggu penghasilan cepat. Apalagi tanaman aglaonema tidak mudah dalam budidayanya.

“Ini karena kebiasaan orang-orang kita. Tanaman ini bukan barang cetakan. Kita harus sabar nungguin beranak dan harus melakukan perawatan dengan benar. Aglaonema ini lebih sulit dari tanaman yang lain. Mungkin kalau pemain tanaman di luar bisa lebih cepat, karena sistem kultur jaringan, sedangkan di sini hanya dengan sistem stek saja,” tuturnya.

Wartono bercerita, dirinya autodidak ketika mengembangkan bisnis aglaonema. Menekuni tanaman aglaonema baginya berasal dari hobi dan nyaman menekuni tanaman ini.  “Awalnya saya autodidak belajar dan tidak mengenal tanaman sama sekali. Dulu saya hanya tukang kebun dan kesibukan lainnya  menguru kebun villa. Saat ini saya ingin usaha, tapi tidak tahu ingin usaha apa. Akhirnya saya menemukan hal yang membuat saya nyaman. Saya berawal dari hobi, bukan niat usaha malahan dari awalnya,” paparnya.

Ia mengaku hobi merawat memiliki kenyamanan tersendiri dan tidak menyangka bisnisnya bisa menghasilkan. Sebelumnya dirinya pernah mencoba usaha lain, seperti ternak ikan dan segala macam, tetapi yang lebih menghasilkan malah usaha tanaman hias ini.

Jika sekarang Wartono memiliki areal 3.000 meter persegi, siapa sangka miliarder ini memulai usahanya dari lahan hanya dengan sebidang tanah 2x3 meter persegi. Wartono sendiri memfokuskan pada budidaya aglaonema. Namun beberapa jenis tanaman juga dibudidayakan seperti aneka philodendron, keladi dan beberapa jenis tanaman hias daun lainnya. Bahkan penjualan tanaman hias telah menembus pasar ekspor.

Jika ditanya besaran omset per bulan, maka tidak tanggung-tanggung, angka menembus Rp 1 miliar per bulan.  “Selama pandemi, per bulan rata-rata Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar,” ujar Wartono malu-malu.

Pasokan kurang

Dengan meningkatnya permintaan tanaman hias, Wartono mengakui, stok yang dimiliki tidak mampu memenuhi permintaan pasar, karena petani bunga sedikit. Bahkan bunga lokal sangat kurang jumlahnya.

“Permintaannya banyak, tetapi petaninya tidak ada. Itu menjadi masalah tersendiri karena kita kekurangan barang-barang lokal. Sejauh ini kami mengembangkan produk hasil sendiri, namun adakalanya mengambil juga dari rekan-rekan yang lain,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pecinta Tanaman Hias Bogor, Gunawan optimistis bisnis tanaman hias selama masa pandemi akan terus berkibar dan ini kabar baik bagi para penjual tanaman hias. “Selama Covid akan terus ramai karena orang hobi menanam. Selama hobi menanam, bisnis tanaman hias akan terus ramai,” ujarnya bangga.

Gunawan menyebutkan, para petani tanaman hias Ciapus sudah terbiasa bermain di pasar ekspor. Produksi yang dimiliki umumnya untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Eropa, Amerika, Cina, Hongkong hingga Australia.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo terus menggaungkan program Gratieks atau Gerakan Tiga Kali Ekspor untuk semua komoditas pertanian, termasuk tanaman hias. Produksi tanaman hias hingga triwulan II pada 2020 berdasarkan data BPS mencapai 342.422.645 pcs. Sementara itu ekspor volumenya mencapai 4.176.294 kg atau setara dengan 12.176.244 dollar AS.

Besarnya angka ekspor benih tanaman hias menunjukkan bahwa bisnis benih tanaman hias masih sangat terbuka. Sedangkan, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa jajarannya telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung program Gratieks tersebut, yakni melalui GEDOR Horti (Gerakan Dorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura).

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018