Saturday, 06 March 2021


Rully Lesmana, Manisnya Pasar Telur Asin di Mancanegara

27 Jan 2021, 12:40 WIBEditor : Yulianto

Rully Lesmana (kiri) bersama Mulyono Machmur | Sumber Foto:Mulyono

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mungkin jarang terekspos, ternyata telor asin asal Indonesia banyak peminatnya di mancanegara. Menurut eksportir telur asin, Rully Lesmana, saat ini permintaan telur asin, terutama yang matang berasal dari Dubai, Australia, bahkan Amerika Serikat.

“Mereka minta telor asin mateng dalam bentuk vakum,” katanya saat FGD Sinar Tani di Jakarta, Rabu (27/1).  Rully yang saat ini beternak sebanyak 6 ribu ekor telah mengekspor telur asin ke Singapura sejak tahun 2011 sekitar 100 ribu butir telur.

Rully mengatakan, dirinya lebih memilih membidik pasar ekspor karena harganya lebih stabil dibandingkan harga di dalam negeri. “Dari sisi harga sebenarnya tidak jauh beda, tapi pasar ekspor harganya plat. Beda dengan di dalam negeri yang fluktuatif,” ujarnya.

Namun Rully mengakui, ekspor telur asin ke Singapura tidak mudah, karena harus memenuhi persyaratan tidak boleh mengandung perwarna merah. Untuk itu, ia pun membangun peternak bebek sendiri di Subang, Jawa Barat.

Membangun peternakan bebek sedniri menjadi alasan Rully menjaga kualtas produk telurnya. Sebab ketika dirinya mengambil telur bebek dari peternak lain, maka akan sulit mengawasi kualitasnya. “Waktu saya masih mengambil telur dari peternak, ternyata saat dites positif mengandung pewarna merah. Kalau begini saya akan repot dan bikin sport jantung,” ujarnya.

 

Saat beternak bebek, Rully pun sempat mencoba membuat pakan sendiri. Dengan membeli konsentrat dan menambah bahan baku sendiri harapannya harga pakan akan lebih murah. Namun menurutnya, meski memeng lebih murah, tapi ternyata membuat pakan sendiri kurang efisien, tidak mudah dalam menjaga kualitas dan juga cukup merepotkan.

“Akhirnya saya pilih membeli pakan jadi dari pabrik. Meski lebih mahal, tapi kualitasnya bisa lebih terjamin,” ujarnya. Namun demikian, Rully berharap, harga pakan dari industri tidak terus naik, karena akan memberatkan peternak. Sebab biaya pakan komposisinya mencapai 70 persen dari biaya produksi.

Dengan harga pakan yang cukup mahal, untuk menjual telur asin bebek di dalam negeri, terutama pasar eceran akan sulit bersaing dengan peternak bebek angon (lepas liar). Karena itu untuk pasar lokal, Rully memilih membidik pasar swalayan yang harganya lebih bagus.  

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018