Kamis, 09 Februari 2023


Sumber Pangan Alternatif, Tepung Garut Andalan KWT Sinta Bara

13 Jan 2023, 09:32 WIBEditor : Herman

Tepung Garut Produksi KWT Sinta Bara | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarnegara --- Potensi besar tanaman garut sebagai bahan pangan memang belum banyak dikenal. Namun ditangan para wanita tangguh yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinta Bara, produk olahan dari tanaman garut/ararut/irut ini menjadi salah satu produk andalannya.

Tanaman garut (Maranta arundinacea) adalah tumbuhan yang menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Di berbagai daerah, tana ini memiliki nama atau penyebutan yang berbeda diantaranya sagu, sagu bamban, sagu belanda, sagu Betawi, angkrik, jlarut, kaerut, dan banyak lagi.

Rimpang segar mengandung air 69–72%, protein 1,0–2,2%, lemak 0,1%, pati 19,4–21,7%, serat 0,6–1,3?n abu 1,3–1,4%.

Umbi garut berpotensi sebagai pengganti beras, karena selain cara budidayanya yang sangat sederhana dan bisa ditanam dimana-mana, kandungan gizi pada tepung umbinyapun hampir sama dengan beras

Tiap 100 gram tepung garut mengandung karbohidrat 85,2 gram atau setara dengan 355 kalori. Ini lebih kecil dibanding tepung gaplek yang mencapai 88,2 gram setara 363  kalori. Tetapi angka tersebut lebih tinggi dari beras yang hanya 78,9 gram (360 kalori) dan gandum 77,3 gram (365 kalori).

Tepung garut baik untuk dikonsumsi oleh orang yang lemah atau yang baru sembuh dari sakit, karena mudah dicerna oleh penderita masalah perut atau masalah usus. Tepung ini juga digunakan sebagai pengenyal berbagai macam makanan, bumbu, sup, gula-gula, masakan dan makanan pencuci mulut seperti puding dan es krim,

Menyadari potensi umbi garut sebagai pangan alternatif, tidak heran bila Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah mengadakan Sosialisasi Pengembangan Garut di Aula Dinas Pertanian KP Kab. Banjarnegara.

Sosialisasi diikuti oleh  Poktan Margo Rahayu dan Poktan Mugi Rahayu. Sedangkan narasumber yang mengampu kegiatan sosialisasi tersebut terdiri dari Dinas Pertanian Perikanan & Ketahanan Pangan Kab. Banjarnegara, BPTP Jateng dan  Kelompok Wanita Tani Sinta Bara.  

Pertemuan ini bertujuan untuk membangun kemitraan pemasaran garut sebagai tindak lanjut kegiatan pengembangan garut yang dilakukan di Desa Majalengka  &  Desa Depok Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara

Budidaya Garut

Ketua Kelompok Tani Margo Rahayu 3, Rasipan yang mempunyai anggota aktif sebanyak 18 0rang petani ini mengatakan poktannya merupakan salah satu kelompok tani penerima bantuan pengembangan tanaman Garut dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Kelompok Tani ini menerima bibit garut siap tanam sebanyak 9.000 polibag dan pupuk organik.

Rasipan yang tinggal di desa Depok, kecamatan Bawang, kabupaten Banjarnegara itu  mengatakan bahwa ia belum pernah membudidayakan tanaman garut secara intensif. Biasanya tanaman garut, yang ia kenal dengan nama angkrik, hanya tumbuh liar dibawah tegakan pohon. Namun manfaat umbi garut sebagai bahan pangan sudah diketahui dan dinikmati turun temurun.

Sebanyak 2.500 batang tanaman garut ditanam Rasiman disela tanaman pisang dan ubi kayu. Sesuai petunjuk dari PPL, tanah tetap diolah dulu sebelum ditanami. Karena tanaman garut, seperti tanaman pada umumnya menghendaki tanah yang gembur, karena pada struktur tanah yang gembur, pada saatnya nanti umbi dapat tumbuh dengan leluasa.

Selanjutnya ia memberi  pupuk kandang sebanyak 1 ton   kemudian dibuat bedengan dengan ukuran panjang sesuai dengan kondisi lahan, lebar 120 cm dan tingginya antara 25 - 30 cm. Jarak antara bedengan yang satu dengan yang lain adalah 30 - 50 cm.Jarak tanam antar tanaman 30 x 20 x 1 cm.

Sekarang ini umur tanaman sudah 3,5 bulan. Dari pengamatan Rasipan, ternyata tanaman yang tumbuh dibawah naungan tegakan pohon lebih subur dari pada tanaman yang tumbuh di lahan terbuka.

“Saya berharap dapat menghasilkan umbi garut sebanyak 10 – 12 ton per Hektar, seperti yang dikatakan narasumber waktu saya mengikuti sosialisasi,” ungkapnya

Satu-satunya hama yang dikhawatirkan Rasipan adalah tikus yang kerap menyerang umbi garut yang tumbuh liar di desa.

Tentang pemasaran hasil, Resipan optimis umbi garut bakal laku dijual. Pasalnya di desa sebelah, yaitu desa Majalengka, ada Kelompok Wanita Tani Sinta Bara yang memproduksi berbagai varian tepung termasuk didalamnya tepung garut.

Hilirisasi Tanaman Garut

Kelompok Wanita Tani “Sinta Bara” yang saat ini berusia 10 tahun merupakan wujud kegelisahan atas keterbatasan ekonomi keluarga.

“Waktu itu kebanyakan ibu-ibu muda ini pergi merantau ke kota besar untuk mengadu nasib.” Ujar ketua Ketua KWT Sinta Bara, Maesaroh

Dengan dibentuknya KWT, para Wanita Tangguh ini memutuskan untuk mengolah berbagai hasil pertanian. Dimulai dari memproduksi oleh-oleh hajatan berupa kerupuk yang memang sudah menjadi tradisi di daerah tersebut.

Kemudia secara perlahan tapi pasti, produk yang dibuat KWT pun mulai beragam . Seperti produk tiwul instan, yang menjadi salah satu produk andalan, selain itu ada juga berbagai jenis tepung dan olahan hasil pertanian lainnya.

“Untuk tepung kita ada tepung mocaf, tepung garut, tepung ubi ungu dan teung jagung<’ ujarnya.

Khusus tepung garut, produksi per bulan mencapai 3 sampai 4 ton. Sehingga setiap bulan KWT Sinta bara memerlukan 15 sampai 30 ton umbi garut basah. Karena menurut pengalaman Maesaroh, rendemen umbi garut menjadi tepung diantara 20 % - 10 % saja.

Sekarang harga umbi basah sebesar Rp 2.000,- - Rp 3.000,- per kg. Harga jual tepung garut eceran Rp 30.000,- per kg. Pembelian dalam  jumlah banyak dihargai Rp 20.00 per kg. Kemasan yang ditawarkan  bervariasi. Mulai kemasan 500 gram, 1 kg dan zak 35 kg.

Produksi sekarang sudah berjalan lancer. Mereka telah memiliki kios sebagai outlet produk. Beberapa peralatan produksi sudah dimiliki, misalnya alat penepung, alat pengering, alat pengemas. Mereka juga pernah menerima bantuan dari pemerintah maupun BUMN. Pemasaranpun telah berkembang. Dari pasar local, sekarang toko-toko online besar telah memajang produk KWT Sinta bara.

Maesaroh dan teman-temannya sangat merasakan manfaat dari kegiatan KWT ini. Mereka jadi punya ketrampilan dan punya tambahan pendapatan tanpa harus meninggalkan desa dan keluarga.

Beberapa kali Maesaroh diundang sebagai narasumber pelatihan atau seminar. Undangan tersebut selalu dilakoni dengan senang hati. Karena baginya berbagi ilmu dan pengalaman tidak akan mengurangi apapun miliknya. Justru akan menambah teman dan saudara serta jaringan.

Pameran, expo atau workshop dibeberapa kota sampai di Ibu Kota Jakarta pernah diikuti pula. Hal itu penting dilakukan. Walau sering tombok biaya operasional, namun keuntungan jangka panjang, dengan makin dikenalnya produk Sinta Bara tentu akan dipetik pada saatnya.

Kedepan masih ada harapan dan keinginan Maesaroh beserta anggotanya,untuk lebih mengembangkan usaha KWT ini. Namun keinginan tersebut nampaknya harus disimpan dengan sabar sambil terus bekerja.

Disadari bahwa peralatan dan sarana masih banyak yang dibutuhkan. Demikian pula Sumber Daya Manusia mereka juga masih perlu di tingkatkan. Misalnya mereka butuh tenaga manajemen yang mumpuni, tenaga pembukuan akutansi yang lebih baik. Terlebih diera teknologi informasi ini mereka harus benar-benar melek teknologi computer dan sarana media sosial. Mereka membutuhkan uluran tangan dari manapun untuk membantu.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018