Rabu, 12 Desember 2018


Keripik Salak Dari Banjarnegara Siap Go Internasional

24 Sep 2018, 17:53 WIBEditor : Gesha

Keripik Salak Banjarnegara Siap Go Internasional | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarnegara --- Salak Indonesia mempunyai cita rasa yang khas, tidak bisa disamakan dengan buah salak dari negara lain. Buah salak ini merupakan salah satu unggulan buah segar untuk diekspor. Beberapa negara tujuan ekspor buah salak antara lain ke Uni Emerat Arab, Saudi Arabia, China, Malaysia, Singapore dan Kamboja. Salah satu sentra salak yang terkenal dengan olahannya adalah Kabupaten Banjarnegara.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan, Totok mengemukakan buah salak merupakan icon dari Kabupaten Banjarnegara sehingga Dinas Pertanian sangat serius dalam upaya meningkatkan produksi, kualitas dan nilai tambah dari komoditas salak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banjarnegara. 

Salah satu bentuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing adalah melalui industri olahan yang didukung dengan sarana promosinya, sehingga salak Banjarnegara menjadi lebih dikenal oleh masyarakat dalam negeri maupun luar negeri.

Adalah PT BAMS Banjarnegara merupakan perusahaan industri olahan yang mengembangkan beberapa olahan buah-buahan.

Lokasi industri tersebut di Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Keripik buah menjadi unggulan produksinya. Jenis buah yang rutin diproduksi sebagai kripik yaitu salak, pisang dan nangka.

Perusahaan tersebut mempersyaratkan buah yang akan diolah menjadi kripik merupakan buah pilihan dengan tingkat kematangan 70%. Pemasok bahan baku olahan kripik buah berasal dari petani di Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya. 

Manager Produksi, Johan mengatakan dalam satu bulan pabriknya mampu memproduksi kripik buah sebanyak 3 kontainer dengan total volume sekitar 30 ton per hari.

Proses pembuatan keripik dilakukan dengan memperhatikan faktor kebersihan dan pilihan bahan baku, sehingga menghasilkan produk yang aman konsumsi dan berkualitas.

Diakui Johan, pemasaran kripik buah saat ini masih di Pulau Jawa.  Namun demikian volume permintaan pasar terus meningkat, bahkan pasar luar negeri telah terbuka bagi produknya antara lain untuk Jerman, Perancis, China, Eropa dan Amerika.

Standarisasi Ekspor

Johan menambahkan bahwa mereka telah mampu menghasilkan produk keripik salak dan nangka organik.  Hal ini didukung dengan dimilikinya sertifikat organik untuk kebun produksi dan pengolahannya. Sertifikat organik dipersyaratkan untuk memenuhi pasar Eropa dan Amerika. 

Untuk menghasilkan produk kripik organik, maka ketentuan organik mesti dipenuhi sejak di kebun, proses pengolahan hingga pengemasannya, termasuk minyak goreng dan sanitazernya juga harus menggunakan produk organik. Dengan demikian kripik salak dan nangka Banjarnegara telah siap masuk pasar luar negeri.

Dalam kunjungan kerjanya ke Banjarnegara, Direktur Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Sri Wijayanti Yusuf mengemukakan perbaikan kualitas dimulai di lapangan dengan menerapkan Standar Operastional Prosedure/Good Agricultura Practices (SOP/GAP) dan Pengendalian OPT dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Selanjutnya ditingkat pascapanen menerapkan Good Handling Practices (GHP) serta Good Manufacturing Practices (GMP) untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan aman konsumsi bagi masyarakat maupun industri olahan.

Sri menambahkan bahwa saat ini Direktorat Jenderal Hortikultura sedang mengembangkan 250 desa organik berbasis hortikultura. Untuk itu diharapkan industri olahan tersebut dapat bekerjasama dengan petani dari desa organik binaan Kementerian Pertanian.

Industri olahan buah mendukung pengembangan pertanian khususnya hortikultura dari hulu ke hilir. 

Manfaat industri olahan antara lain meningkatkan nilai jual produk, memanfaatkan hasil panen yang berlebih, memperpanjang masa simpan serta menumbuhkan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018