Kamis, 15 November 2018


Menambang Rupiah Dari Potensi Lereng Gunung Wilis

19 Okt 2018, 15:45 WIBEditor : Gesha

Kaur Pemerintahan Desa Blimbing, Suyut menuturkan banyak potensi yang bisa dikembangkan dari alam lereng Gunung Wilis | Sumber Foto:PENDIM KEDIRI

TABLOIDSINARTANI.COM, Kediri --- Dengan memperhatikan kondisi alam suatu wilayah, tentu dapat melihat potensi usaha tani apa yang sesuai untuk dikembangkan. Seperti di Desa Blimbing, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri melihat dari bentang alamnya yang berada di lereng Gunung Wilis, Tim Ekspedisi Lereng Gunung Wilis Penrem 082 menggali potensi usaha tani apa yang sesuai dikembangkan di desa tersebut.

Berdasarkan cerita dari Kaur Pemerintahan Desa Blimbing, Suyut, dulu petani di desa ini lebih senang menanam rambutan. Tetapi harga jualnya yang murah, lambat-laun mulai beralih ke tanaman jeruk.

Sehingga jeruk menjadi menjadi sumber utama pendapatan warga Desa Blimbing karena hasilnya bisa 5 hingga 6 kali dibanding tanaman jagung, ketela maupun padi. “Dengan harga yang baik, petani di sini mulai berbondong-bondong menanam jeruk,” terangnya.

Buah jeruk yang ditanam warga desa, ada dua varietas, yakni: keprok siyem (siam) dan batu lima.

Bahkan untuk yang varietas batu lima, usia 3 hingga 4 tahun sudah mulai terlihat buahnya. “Rasa buah, jeruk yang ditanam warga Desa Blimbing tidak kalah dibanding jeruk dengan varietas yang sama di desa-desa lain,” jelas Suyut.

Untuk saat ini, jual beli buah jeruk yang diberlakukan warga disini, setiap pembeli tidak usah beli lewat pihak ketiga, tetapi bisa langsung memetik buahnya di lokasi penanaman, dengan harga jual yang bervariasi “Kalau hasilnya melimpah, sistem jual belinya memberlakukan pembelian satu pohon penuh alias tanpa menghitung bobot buah jeruk dan transaksinya langsung ditempat,” terang Suyut.

Untuk harga jual, warga mematok nilai sebesar Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu per kg untuk varietas keprok siyem, sedangkan untuk varietas batu lima, warga mematok harga Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kg.

“Untuk yang batu lima, apabila ada acara pameran yang diadakan oleh Pemerintah Daerah pasti akan dimunculkan,” jelas Suyut.

Bukan hanya jeruk saja yang dikembangkan di sini, tanaman perkebunan, yakni cengkeh turut dibudidayakan. Menurut Suyut membudidayakan cengkeh ini nilai ekonomisnya cukup tinggi.

Dalam 3-4 tahun sejak ditanam sudah dapat berbuah dan harga jualnya tinggi, yakni Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu per kg. “Bukan hanya buahnya saja yang dapat dimanfaatkan, ranting dan daunnya pun dapat diolah menjadi minyak atsiri. Pemeliharaannya pun cukup mudah, tidak perlu banyak air dan pemupukan yang teratur tanaman cengkeh dapat tumbuh subur,” jelasnya.

Dengan melihat kondisi alam lereng Gunung Wilis yang dapat ditanami jeruk dan cengkeh, tentu menjadi sumber pemasukan yang sangat menjanjikan. Selain itu, dapat mendongkrak kesejahteraan petani, khususnya di Desa Blimbing ini. (Dodik- Pendim Kediri)

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018