Rabu, 24 Juli 2019


Dulu Dianggap Gulma, Ciplukan Kini Jadi Emas

29 Jan 2019, 17:12 WIBEditor : Gesha

Buah Ciplukan yang dahulu dianggap gulma kini menjadi emas yang mendatangkan keuntungan bagi Kelompok Petani di Lembang | Sumber Foto:Waida Farm

Poktan binaan BP3K Lembang berhasil mengembangkan ciplukan dengan target produksi 700 kg per minggu.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang --- Bagi masyarakat Jawa Barat, ciplukan telah lama dikenal sebagai gulma yang biasa tumbuh di pinggir selokan. Namun siapa sangka, kini buah tersebut justru menjadi emas bahkan dijuluki sebagai goldenberry.

Di luar negeri, ciplukan dianggap sebagai superfood. Hal itu terjadi karena pergeseran gaya hidup masyarakat untuk lebih sehat dan back to nature, sehingga mendorong tingginya tingkat konsumsi sayuran, buah-buahan hingga produk-produk herbal. Goldenberry memiliki kandungan serat dua kali lipat dibanding kurma dan lebih banyak dari prune, blueberry, kismis dan aprikot.

Selain menjadi sumber vitamin C, vitamin B, fosfor, buah ini juga kaya akan flavonoid yang bisa membantu penyerapan vitamin C. Selain itu kandungan antioksidan yang tinggi mampu mencegah diabetes, mengatasi peradangan dan meredam pertumbuhan sel kanker.

Masih banyak manfaat lain dari buah ini bagi kesehatan, antara lain mengobati influenza, sakit tenggorokan, batuk, bronchitis, gondongan,bisul, borok, kencing manis, hingga mengobati sakit paru-paru. Bahkan bukan hanya buahnya saja yang bermanfaat, daun sampai akarnya pun berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Untuk rasa, ciplukan  memiliki rasa yang tidak kalah dengan tomat dan kurma. Rasanya yang asam manis renyah, enak untuk dijadikan campuran dessert atau jus buah atau smoothies bahkan buahnya dapat dikeringkan  untuk campuran biskuit atau cake seperti buah lainnya. 

Buah ini sebenarnya dapat  kita temui di hampir seluruh bagian di Indonesia, hal ini dikarenakan goldenberry mudah ditanam dan bisa tumbuh di ketinggian 0 – 1.800 meter diatas air. Selain di pinggir selokan, tumbuhan ini juga biasanya tumbuh liat dilereng gunung atau tebing sungai. 

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan potensi dari buah ini, beberapa kelompok tani (Poktan) di Lembang, Kabupaten Bandung yaitu Poktan Kuncup Mekar, Buana Tani,  Mulya Tani,  Bina Tani Mandiri telah berhasil membudidayakan ciplukan varietas Holand yang memiliki ukuran lebih besar dari varietas lainnya. 

Dari  7.600 pohon, mereka memiliki target produksi  700 kg per minggu. Harga jualnya pun cukup menjanjikan yakni Rp 50 ribu– Rp 60 ribu/kg, dan bila di jual eceran mencapai kisaran harga Rp 15 ribu per kemasan.  

“Banyaknya manfaat dan khasiat yang terkandung membuat permintaan goldenberry di Jawa Barat dan luar jawa semakin meningkat. Hal ini menjadi peluang dan berkah tersendiri bagi poktan di lembang ini untuk ikut membudidayakannya”, ungkap seorang penyuluh pertanian yang juga koordinator penyuluh dari BP3K Lembang, Darwin.

Untuk pemasaran, Poktan binaan BP3K Lembang tersebut berminta dengan Waida Farm Sumedang dan dipasarkan kebeberapa supermarket Jawa Barat dan sekitarnya. "Kedepan kami akan bentuk  asosiasi ‘Goldenberry Lembang’ (GBL) sekaligus menjadi brand goldenberry produksi Lembang. Kami yakin, dengan potensi alam Lembang, petani dapat mengembangkan produksi goldenberry dan mampu meraup kentungan lebih,” jelas Darwin.

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018