Sunday, 26 June 2022


Socfindo Bangun Agrowisata Herbal Organik

30 Nov 2021, 11:51 WIBEditor : Yulianto

Socfindo Conservation | Sumber Foto:Socfindo

TABLOIDSINARTANI.COM, Sergei---PT Socfindo Sumatera Utara mengembankan agrowisata berbasis tanaman herbal yang juga sebagai taman konservasi. Bahkan menjadi taman edukasi bagi petani dan masyarakat.

Pengembangan tanaman herbal ini sudah dimulai sejak tahun 2020 dengan luas lahan 1.000 meter sebanyak 200 – 300 jenis tanaman herbal. Dengan dibantu kelompok tani dan gapoktan, kini sudah 1.300 jenis tanaman herbal dan 200 jenis tanaman anggrek baik yang tidak dilindungi dan dilindungi.

“Awalnya pembuatan taman herbal atau tanaman obat keluarga ini dikembangkan di lahan 1 ha,” kata LuLuk Williams, isteri Principal Directur PT Socfindo didampingi Heni Suwignyo isteri General Manager PT Socfindo saat kontributor tabloidsinartani.com berkunjung ke Socfindo Conservasian (Taman Herbal Kebun), Bandar Desa Martebing, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, beberapa wkatu lalu.

Luluk mengatakan dalam mengelola Taman Herbal ini melibatkan semua istri  staf PT Socfindo, termasuk dalam usaha pengumpulan berbagai jenis tanaman herbal. “Jadi selain dari membeli, karyawan juga dengan mencari di hutan-hutan yang ada di pegunungan Tanah Karo, Parapat Simalungun serta tempat lainnya,” katanya.

Dalam penataan lokasi serta pembagian jenis tanaman, Luluk mengatakan, melibatkan sarjana IPB. Bahkan kini telah tersusun buku yang memuat 1.300 jenis tanaman herbal dan tanaman anggrek, baik cara bertanam, serta manfaat tanaman tersebut serta pengolahannya menjadi obat-obatan herbal. “Untuk mendapatkan buku tersebut, masyarakat atau penggiat tanaman herbal dapat menghubungi pengelola,” kata Luluk.

Dalam upanya mengembangkan Tanaman herbal di lingkungan PT Socfindo telah dilakukan sosialisasi kepada pimpinan kebun (manager) seperti di Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang, Labuhan Batu, Asahan,Batu Bara serta Provinsi Aceh. Dalam merawat tanamanan menggunakan pupuk organik dan penggunaan pestisida nabati. “Jadi tanaman ini tidak ada yang menggunakan pupuk kimia, begitu juga pemberantasan hama dan penyakit,” katanya.

Luluk juga berharap taman organik Sucfindo Conservasian ini menjadi tempat destinasi  wisata herbal. Masyarakat dapat berkunjungan untuk belajar bertanam herbal organik serta mengolah tanaman menjadi obat dengan bimbingan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Balai POM.

Bagi masyarakat berkunjung cukup memberikan kontribusi Rp 1.000/orang untuk biaya perawatan. Khusus kelompok wanita tani cukup bersurat tanpa dikenakan biaya,” katanyaSucfindo Conservasi ini telah dikunjungi Menteri BUMN, Eric Thohir dan Menteri Perdagangan, M Luffi.

Reporter : RE. Gultom
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018