Wednesday, 21 October 2026


Dobel Manfaat Agrowisata Hortikultura di Bantul

11 Nov 2018, 07:22 WIBEditor : GESHA

Dengan ditata dan dikelola oleh kelompok tani, kawasan hortikultura bisa mwnjadi bentuk agrowisata yang menarik. Sehingga mendatangkan dobel manfaat bagi petani

Kawasan Hortikultura di Bantul jadi agrowisata

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bantul --- Kawasan hortikultura di suatu daerah ternyata bisa diolah secara kreatif menjadi bentuk agrowisata. Sehingga ada dobel manfaat yang dirasakan oleh petani setempat.

Salah satu contoh pengembangan wisata agro berbasis hortikultura ada di Bantul. Wisata agro ini berhasil mengaitkan budidaya bawah merah, cabai dan buah dengan pariwisata.  

Dengan konsep pertanian terpadu dan ramah lingkungan, pada lahan yang terbatas tersebut ditanami bawang, sayuran, buah buahan, dan ternak sapi. 

“Pertanaman ditata dengan apik dan harmoni sehingga indah menjadi daya tarik wisata. Dengan pemandangan pegunungan, pengunjung dipastikan merasa betah di sini,” puji Direktur Jenderal Hortikuktura, Suwandi saat mengunjungi lokasi agrowisata.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi mengatakan hamparan bawang merah dan cabai rawit lalap dijadikan wisata agro ini cukup menantang.

Tanaman musiman diatur pola tanam antar waktu dan lokasi sehingga berproduksi sepanjang waktu. 

“Salah satu daya tariknya memetik dan makan cabai rawit pedas tapi tidak terasa pedas bila dimakan sekaligus batang buahnya, disamping bagus untuk selfie,” katanya.

Lebih lanjut Pulung menyebutkan saat ini baru beberapa wisatawan lokal yang datang, namun dengan berbagai pembenahan. Diharapkan ke depan semakin banyak pengunjung wisatawan.

“Ini usaha cukup menguntungkan bagi para petani, pendapatan bisa diperoleh dari hasil produk, penganan olahan, kompos, maupun dari pengunjung,” sebutnya.

Melihat hasil dan manfaatnya, Pulung mengungkapkan beberapa wilayah sudah dikembangkan pertanian unik sesuai potensinya.

Ada kebun anggur berwarna warni di Bambanglipuro, dikelola bagus dan diminati pengunjung.

Selain itu, terdapat juga inovasi menanam cabai Pantai Parangtritis seluas 700 hektare. Diberi kompos 20 ton, hasil produksi cukup bagus 8 ton perhektare. Selain cabai, juga ditanam bawang merah, terong dan sayur lainnya.

“Alhasil Bantul dikenal sentra sayuran dan bawang merah sudah tembus pasar hingga Jabodetabek,” ungkapnya.

Dikembangkan

Ketua Kelompoktani Lestari Mulyo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Juwari mengatakan kelompok taninya menanam bawang merah di lahan seluas 105 hektar dengan biaya tanam mencapai Rp 90 juta per hektare.

“Bila dikelola semi organik biaya hanya Rp 60 juta perhektare. Kini sedang dikenalkan tanam benih biji bawang merah lokananta sehingga efisien hanya Rp 9 juta perhektare, dari pada benih umbi Rp 40 juta perhektare,” jelasnya.

Budidaya bawang merah ini mendapat bimbingan yang intensif dari balai penyuluhan Imogiri tentang penggunaan pengendalian hayati dengan light trap dan likat kuning.

Dirjen Hortikultura mengapresiasi agrowisata hortikultura di Bantul ini dan akan terus didorong dengan direplikasi di tempat lain. Kementan menberikan fasilitas berupa bantuan bibit unggul dan sarana pendukungnya.

“Sinergisme antar sektor sesuai perannya mutlak diperlukan, sehingga diperoleh manfaat optimal baik pada sisi hulu dan hilir. Seluruh tahapan proses produksi menjadi bernilai ekonomi. Ujungnya adalah kesejahteraan petani semakin membaik,” terangnya.

 

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018