
Penyelamatan ikan endemik
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Ikan endemik banyak bertebaran di sejumlah perairan umum. Bahkan, ikan endemik ini punya nilai ekonomi tinggi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan fisheries park yang mengusung model pengelolaan kawasan perikanan lahan rawa di Patra Tani, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, untuk menyelamatkan ikan endemik.
Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja mengatakan, model yang diberi nama Area for Conservation and Fish Refugia (SPEECTRA) ini dipilih lantaran sesuai dengan tipologi lahan rawa banjiran yang banyak terdapat di Provinsi Sumatera Selatan. " Model ini kita usung untuk menyelamatkan ikan ekonomis penting seperti ikan belida sumatera (Chitala hypselonotus), ikan gabus (Channa striata), dan ikan toman merah (Channa moruloides)," papar Sjarief Widjaja, di Jakarta, (2/12).
Menurut Sjarief, perairan rawa banjiran (flood plain area) mempunyai posisi strategis dan berfungsi sebagai tempat spawning, nursery dan feeding ground ikan. Rawa banjiran bisa memberikan manfaat dalam pemenuhan sumber pangan sekaligus mencukupi kebutuhan gizi masyarakat dari protein ikan.
"Optimalisasi pengelolaan di perairan rawa dengan cara memaksimalkan fungsi lebung buatan bisa mendukung peningkatan produktivitas rawa banjiran," ujarnya.
Sjarief mengatakan, fisheries park seluas 50 hektare (ha) akan dibuat kolam-kolam dengan luasan masing-masing 1 ha. Kolam tersebut terdiri dari kolam untuk domestikasi, pembesaran serta kolam pemancingan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air kolam, dibuat pola buka-tutup pintu air dari Sungai Musi sekaligus agar pada saat-saat tertentu, anakan ikan bisa keluar dari Patra Tani ke sungai.
Sesuai rencana, Speectra akan dikemas dengan gaya menarik dan informatif serta dilengkapi dengan saung-saung pusat informasi tentang ikan, lengkap dengan tanaman asli rawa banjiran seperti meranti. Model Speectra ini merupakan yang pertama di Sumsel dan tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan di daerah lain sebagai tempat sumber plasma nutfah lingkungan sekitarnya.
Kepala Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluh Perikanan (BRPPUPP) Palembang, Arif Wibowo mengatakan, ide kemunculan Speectra dilatarbelakangi oleh kegelisahannya melihat rawa banjiran sebagai ekosistem yang rentan. Mengingat, keanekaragaman ikan di rawa banjiran lebih cepat mengalami penurunan dibandingkan ekosistem lain.
"Kerusakan lingkungan ini diindikasikan dengan rendahnya keanekaragaman ikan dan besarnya dominasi komunitas ikan oleh spesies ikan kecil," ujarnya.
Menurut Arif, Speectra sebagai model rehabilitasi sekaligus ekosistem buatan pada daerah rawa yang berupa lebung-lebung. Selain cocok untuk tempat penebaran benih (restocking), kolam-kolam Speectra bisa menjadi tempat perlindungan atau suaka perikanan bagi ikan perairan umum di daratan.
Diharapkan, Speectra akan menjadi penyeimbang antara konservasi dengan pemanfaatan ekonomi. Pada saat dibuat percontohan seluas 3 ha, ikan yang masuk kesitu ada ikan Sepat Siam (Trichogaster pectoralis), Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus) , Gabus (Channa striata), Betok (Anabas testudineus), Tambakan (Helostoma temminckii), Lele (Clarias spp.), dan Sepatung (Peristolepis fasciatus).