Sunday, 09 May 2021


Penanganan Paus Terdampar Perlu Partisipasi dan Kesadaran Masyarakat

21 Feb 2021, 23:26 WIBEditor : Gesha

Partisipasi masyarakat pesisir diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pencegahan maupun penanganan paus terdampar memerlukan partisipasi dan sinergi semua pihak, tak terkecuali masyarakat pesisir. 

Peristiwa terdamparnya puluhan ekor paus pilot maupun mamalia laut lainnya di pesisir pantai Indonesia bukan hanya 1-2 kasus saja. Data dari World Wide Fund for Nature (WWF), dalam periode 2015-2019 terdapat 304 kasus mamalia laut terdampar di pantai Indonesia. 

Beberapa hari sebelum terjadinya paus terdampar, masyarakat pesisir sebenarnya sudah mengetahui adanya aktivitas yang tidak biasa dari mamalia laut tersebut. Misalnya peristiwa 40 ekor paus pilot yang terdampar di Selat Madura, ada laporan masyarakat yang melihat rombongan paus pilot berada di perairan selatan Madura, tepat 1 hari sebelum terdampar. Serupa dengan kejadian terdamparnya paus pilot pada Juni 2016. 

"Ketika ada masyarakat yang melihat aktivitas tidak biasa dari  mamalia laut, harus mulai dicermati. Apakah butuh istirahat saat ruaya atau serangan predator, seharusnya ada kewaspadaan mengenai peluang terdampar," tutur Dosen Hidrobiologi Laut, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB University), Adriani Sunuddin S.Pi, M.Si dalam kegiatan The Ocean Voice, Minggu (21/2).

Sayangnya, kesaksian masyarakat tersebut tidak menjadi kesadaran bersama untuk bisa dilakukan pencegahan. "Penyebarluasan informasi dari masyarakat tersebut sebenarnya bisa diteruskan ke dinas Kelautan dan Perikanan di daerah, atau UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sebenarnya sudah memiliki tim tanggap," tuturnya.

Diakui Nani (panggilan akrab Adriani), sebagai negara maritim, Indonesia sudah miliki pedoman untuk mengatasi dan menangani peristiwa terdamparnya mamalia laut. "Tim respon cepat sudah tersedia namun pada dasarnya, kita masih butuh ada peningkatan kapasitas penyebarluasan informasi untuk konservasi mamalia laut," tuturnya.

Pelatihan tanggap darurat evakuasi dan penanganan keterdamparan mamalia laut, pun sudah dilakukan oleh para ahli. Namun, partisipatif masyarakat pesisir sangat diharapkan. "Idealnya, pada saat penanganan mamalia laut terdampar, yang dibutuhkan adalah clearing area dari kegiatan manusia untuk menekan stres mamalia laut," jelasnya.

Karakteristik individu dari kelompok paus kemudian dilakukan oleh para ahli untuk menentukan pimpinan kelompok dan menjadi penanganan utama. "Kemudian kita deteksi mana individu paus yang bisa dilepasliarkan, mana yang butuh untuk direhabilitasi untuk penanganan medis," tuturnya.

Penanganan paus terdampar yang mati dengan dikubur, sudah tepat karena jika bangkai dibiarkan dan membussuk keluarkan bakteri dan parasit justru lebih membahayakan. Namun untuk menguburkan tidak mudah karena beratnya per ekor sampai 2 ton. 

Untuk mencegah kejadian serupa, Nani memerlukan partisipasi semua pihak terutama generasi Milenial yang sanggup mencerna dengan baik informasi yang sahih dan menyebarluaskannya kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan kesadar lingkungan pesisir. 

Upaya ini harus cepat dan tanggap dilakukan segera oleh semua pihak karena meskipun paus pilot belum termasuk terancam punah, tetapi dengan peristiwa terdampar yang cukup sering, pada akhirnya akan mengurangi populasi jenis paus ini. 

Diakui Nani, Paus pilot sempat mengalami status konservasi menjadi least concern yaitu tidak dianggap butuh intervensi langkah konservasi khusus, karena mampu beruaya dalam kelompok besar dan informasi populasi nya belum diketahui lengkap untuk wilayah yang sudah diketahui sebarannya. 

"Tetapi jika mengkaji kembali dari jumlah terdampar, resiko terdampar dari populasi paus pilot ini dan dikroscek dengan perairan mana yang beresiko terdampar, bisa jadi status itu berubah karena ancaman terhadap kepunahan tidak hanya terkait predasi tetapi juga faktor aktivitas perikanan berlebih (menjadi by catch dari beberapa jenis alat tangkap tertentu)," jelasnya. 

Untuk diketahui, paus pilot terdiri dari dua jenis yakni paus pilot sirip pendek dan paus pilot sirip panjang. Dilihat dari sebarannya, paus pilot sirip panjang ada yang berasosiasi dengan perairan Kutub Utara maupun Selatan. Sedangkan sebaran paus pilot sirip pendek, ada di wilayah tropis Utara dan Selatan sampai ke batas Subtropis.

Dilihat dari sebaran geografis, berkelompok dan ukuran tubuh yang besar, maka paling tidak bisa disimpulkan paus pilot ini memiliki daya ruaya tinggi dan biasa melintasi perairan dari satu samudera ke samudera lain.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018