Minggu, 14 April 2024


Geliat Klaster Budidaya Nila Salin di Karawang

16 Peb 2024, 14:54 WIBEditor : Yulianto

Nila Salin, pilihan budidaya ikan di daerah salinitas tinggi | Sumber Foto:KKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Nila salin yang tahan hidup di air dengan salinitas tinggi, bisa menjadi pilihan pembudidaya di sejumlah kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.  Lantaran adaptasi terhadap lingkungan cukup tinggi, nila salin bisa dibudidayakan di  tambak-tambak yang mangkrak. Guna mendorong budidaya nila salin di masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)  membangun percontohan kluster budidaya ikan nila salin di Karawang, Jawa Barat.

Nila salin selain bergizi juga lezat ketika dikonsumsi. Tak heran apabila  nilai salin banyak diminati masyarakat. Selain diminati pasar lokal, jenis ikan ini juga diminati pasar manca negara. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Tb Haeru Rahayu mengatakan, Indonesia merupakan salah satu produsen nila andalan dunia. Dari data Trademap 2021, Indonesia berada pada posisi kelima pengekspor ikan nila di pasar global.

"Permintaan terhadap komoditas ikan nila untuk ekspor, terutama dari Amerika Serikat, juga tinggi, khususnya dalam bentuk fillet,” kata Tb Haeru Rahayu, di Jakarta, belum lama ini.

Tebe, panggilan akrab Tb Haeru Rahayu mengatakan, potensi pasar nila salin masih terbuka lebar, baik pasar domestik maupun ekspor. Karena itu, untuk memenui pasar lokal dan ekspor, produksi nilai salin perlu didorong, dan masyarakat atau pembudiaya  diharapkan bisa memanfaatkannya untuk membudidayakannya.

Untuk mengembangkan budidaya nilai salin di masyarakat,  Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang melakukan pembangunan modelling kluster budidaya ikan nila salin. BLUPPB Karawang akan bersinergi dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Diharapkan, dengan adanya kluster percontohan  ini akan meningkatkan produksi ikan nila. Model percontohan budidaya ikan nila salin yang diterapkan adalah berbasis darat (land base), dan bukan danau (lake base). Kluster budidaya tersebut juga diharapkan dapat mengantisipasi kerusakan lingkungan di perairan umum.

Menurut Kepala BLUPPB Karawang,  M Tahang,  kegiatan modelling budidaya ikan nila salin Karawang dibangun diatas lahan seluas 36 hektar. Fasilitas yang dibangun untuk mendukung modelling ini terdiri dari 48 petak kolam pembesaran seluas masing-masing 4000 m2 dan 10 petak pembesaran seluas 2000 m2.

Pada petak pemeliharaan dilengkapi dengan e feeder/ mesin pakan otomatis serta monitoring IoT untuk mengukur salinitas, suhu, DO, pH dan amoniak. Selain itu dibangun juga prasarana pendukung seperti ruang genset, laboratorium mini, ruang jaga tambak, kantor utama dan ruang klontrol, bangsal panen, gudang pakan, Gudang peralatan, ruang administrasi, kolam pendederan, workshop serta dilengkapi dengan IPAL.

Seperti diketahui, BBPBAT Sukabumi  mulai menggenjot produksi benih ikan nila jenis unggul yang dapat hidup di air payau. Benih ikan nila salin ini  memiliki keunggulan pertumbuhan yang lebih cepat, dapat dipanen lebih cepat dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit.

Budidaya nila salin bisa dikembangkan di eks lahan tambak udang. Di Panturan Jawa , diperkirakan adanya penurunan produktivitas tambak di Pantura akibat penurunan daya dukung yang diperkirakan mencapai luas 78.600 ha (Satu Data KKP). Lahan eks tambak tersebut bisa dikembangkan untuk budidaya nila salin.

Pembudidaya bisa membudidaya nilai salin dengan teknologi  yang berskala tradisional, intensif, ataupun polikultur. Alhasil, dengan budidaya nila salin, akan mendongkrak perekonmian masyarakat secara signifikan. (Humas Ditjen Perikanan Budidaya)

Reporter : Humas Ditjen Perikanan Budidaya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018