Wednesday, 22 January 2020


Mengenal Lebih Jauh Museum Perkebunan Indonesia

13 Jan 2020, 15:30 WIBEditor : Clara

Halaman depan Museum Perkebunan Indonesia | Sumber Foto:BPCB Kemendikbud

Museum yang digagas oleh Soedjai Kartasasmita dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 10 Desember 2016

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan-Perkebunan merupakan penyumbang devisa tertinggi di sektor pertanian karena sebagian besar merupakan komoditi ekspor. Seperti minyak kelapa sawit yang merupakan devisa tertinggi penyumbang ekspor yang luasan arealnya terbesar di dunia. Makanya tidak heran komoditi perkebunan asal Nusantara selalu ditargetkan untuk ranah ekspor.

Museum Perkebunan Indonesia merupakan museum yang berada di Kota Medan (Sumatera Utara) dengan alamatnya di Jl. Brigjend Katamso No.53. Melihat dari bangunannya yang bergaya arsitektur Kolonial Belanda, ternyata memang demikian. Bangunan tua yang menjadi tempat Museum Perkebunan Indonesia dinamakan Gedung Avros.

Avros sendiri merupakan singkatan dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Ooskust van Sumatera dan merupakan sebuah organisasi perkebunan karet Sumatera Timur yang berdiri pada tahun 1911 yang di kemudian hari berganti nama menjadi Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS PPS).

Museum yang digagas oleh Soedjai Kartasasmita dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 10 Desember 2016 ini menyimpan koleksi yang menginformasikan pengetahuan dan sejarah perkembangan perkebunan di Indonesia.

Koleksi museum berada di dalam dan luar ruangan. Di luar ruangan terdapat koleksi pesawat terbang Piper PA-28 Warrior yang dahulu digunakan untuk menyebarkan pupuk atau menyiram tanaman tembakau. Selain itu, terdapat lokomotif tua sebagai sarana angkut di perkebunan kelapa sawit.

Untuk koleksi yang berada di dalam ruangan, terdiri atas dua lantai. Keseluruhannya menampilkan sejarah perkebunan Indonesia. Dipamerkan berupa produk perkebunan Indonesia seperti kelapa sawit, kopi, cokelat, teh, dan tebu. Masing-masing komoditi dilengkapi dengan sejarah atau asal-usulnya beserta perlengkapan dan peralatan produksinya.

Di antara koleksi yang disimpan, terdapat bukti penggunaan sidik jari sebagai data ratusan ribu karyawan perusahaan perkebunan dari Biro Dactyloscopi pada tahun 1939. Selain itu ada jam yang bunyinya terdengar hingga ratusan kilometer, sehingga menjadi acuan waktu bagi masyarakat sekitar perusahaan.

Tidak hanya sebatas liburan biasa, dengan berkunjung ke Museum Perkebunan Indonesia kita jauh lebih mengenal bumi Nusantara. Kita jadi tahu bahwa ternyata alam Indonesia ini indah, loh. Tanam apa saja tumbuh dan dapat menghasilkan uang. Jadi tunggu apa lagi, kalau ke Medan jangan lupa mampir ke Museum Perkebunan Indonesia.

 

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018