Sunday, 09 May 2021


Sambut Lebaran, KWT Pandeglang Tawarkan Kue Kering Talas Beneng

24 Apr 2021, 10:23 WIBEditor : Yulianto

Sambut Lebaran, KWT di Pandeglang tawarkan kue kering talas beneng | Sumber Foto:Yoyoh

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang— Tanpa terasa Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung waktu. Salah satu sajian ‘wajib’ di ruang tamu saat hari bahagia adalah kue kering.

Jadi tak heran menjelang Lebaran banyak masyarakat mencari kue kering. Peluang bisnis tahunan ini pun ditangkap Kelompok Wanita Tani (KWT) Mitra Srikandi dan KWT Mawar Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang Banten yang memproduksi kue kering.

Untuk menciptakan citara rasa berbeda dari kue kering umumnya, tepung talas beneng menjadi pilihan sebagai  bahan bakunya.  Apalagi talas beneng adalah jenis umbi-umbian asli Pandeglang yang memiliki karakteristik berbeda dari talas daerah lain.

Bahkan talas beneng bernilai strategis sebagai bahan pangan lokal untuk ketahanan pangan. Yoyoh Rachmatunnisa, Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Cipeucang pendamping KWT mengatakan, tekstur kue dari talas beneng lebih ringan dan lebih renyah bila dibandingkan dengan kue kering berbahan dasar terigu 100 persen.

“Rasa kue kering talas beneng tidak jauh berbeda dengan kue kebanyakan yang terbuat dari 100 persen tepung terigu. Hanya dengan bahan baku talas beneng tekstur kue lebih renyah, lebih ringan dan ngeprul,” ucapnya,  Kamis (22/4).

Kue kering yang diproduksi KWT di Pandeglang  lebih dari 15 macam. Beberapa diantaranya adalah kastengel, nastar, coco crunch dan  bola coklat. Kue  yang dibuat KWT tersebut sudah dipesan sebelumnya oleh masyarakat, sehingga tak perlu lagi mencari pembeli.

“Nastar beneng, kastengel beneng,nastar bola coklat beneng, coco crunch beneng dan rupa – rupa kue kering lainnya kami buat sebagian besar berbahan baku talas beneng dan sudah pesanan, “ tuturnya,

Saat ini, tak kurang dari 300 toples kue kering yang dicap dengan nama Rhino ini selesai diproduksi. Harga jualnya Rp 55.000 per toples setengah kilogram (kg). Namun Yoyoh memprediksi, jumlah pemesan masih terus bertambah seiring semakin dekatnya hari raya Lebaran.

“Selain berbahan dasar tepung talas beneng, KWT ini juga memproduksi kue berbahan dasar tepung jagung dan lain – lain,” katanya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, Kementerian Pertanian selama ini tidak hanya menekankan pada upaya peningkatan produksi pangan, melainkan juga peningkatan nilai tambah, daya saing, hilirisasi, pemasaran dan ekspor produk pertanian.

Diharapkan dapat memberikan efek pengganda (multiplier effect) untuk sektor pembangunan lainnya.“Penanganan pascapanen dan pemasaran hasil pertanian membuka kesempatan berusaha serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian,” katanya.

Menyoroti pangan lokal Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan lokal adalah produk pangan yang sudah lama diproduksi dan berkembang di masyarakat. 

Komoditas pangan lokal bisa dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif maupun pangan utama. Salah satu keunggulan pangan lokal adalah bisa diolah terlebih dahulu. “Contohnya adalah talas yang bisa dijadikan banyak produk olahan seperti tepung, kue sayur roti biskuit, kripik, dan lainnya,” ujarnya.

 

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018