Saturday, 08 August 2026


Kue Putu Dikukus Pakai Paralon, Waspadai Bahaya Mengintai

21 Jul 2026, 16:13 WIBEditor : Yulianto

Kue putu, makanan tradisional yang menggugah selera

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bagi sebagian masyarakat kue putu menjadi makanan tradisional yang kerap menggugah selera. Apalagi suara khas gerobak sang penjual menjadi nostalgia tersendiri. Apalagi saat memasak menggunakan cetakan bambu.

Namun, kini banyak ditemui pedagang kue putu yang menggunakan pipa polyvinyl chloride (PVC)/paralon dalam proses pembuatannya. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, karena bahaya mengingtai.

Menanggapi fenomena ini, pakar pangan Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo mengingatkan, pipa PVC sebaiknya tidak digunakan mencetak dan mengukus kue putu.

Fenomena pedagang yang beralih dari batang bambu ke pipa paralon ini dinilai sangat berbahaya karena dapat memicu perpindahan komponen plastik beracun ke dalam makanan.

“Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi,” ungkapnya seperti dikutip dari laman IPB University.

Prof Eko menjelaskan, proses pengukusan kue putu menggunakan uap air bersuhu 100 derajat celcius agar terjadi gelatinisasi pati beras (bahan utama) pada suhu sekitar 80 derajat celcius. Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi atau perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu.

“Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius,” ucapnya ketika diminta tanggapannya oleh tim IPB today.

Kondisi suhu tinggi tersebut memicu migrasi zat tambahan seperti stabiliser mengandung Pb (timbal) yang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal. Selain itu, ada kemungkinan migrasi monomer pembentuk PVC yang bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Bambu Paling Aman

Menurutnya, alat cetak dan kukus tradisional dari bambu merupakan alternatif yang aman dan lebih ramah lingkungan, dengan tetap memastikan proses pencucian dilakukan dengan baik. Hal tersebut sekaligus mempertahankan nilai kultural kuliner tradisional.

“Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi,” tambahnya.

Karena itu, Prof Eko mengingatkan pentingnya tanggung jawab lintas sektor dalam mengedukasi masyarakat. Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen.

“Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat,” katanya.

Reporter : Julian
Sumber : IPB University
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018