Thursday, 06 August 2020


Inilah Jurus Pemerintah agar Harga Cabai Tak Terjun Bebas

12 May 2020, 20:34 WIBEditor : Yulianto

Harga cabai dikhawatirkan terjun bebas saat panen raya nanti | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Cabai menjadi salah satu dari 11 kebutuhan pokok dan penting yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Sebab, gejolak harganya bisa bikin pedas ekonomi negara.

Jika produksi kurang, maka harga akan terbang bagaikan roket. Sebaliknya, saat produksi melimpah, harga akan terjun bebas.  Seperti Ramadhan kali ini, sebagian besar wilayah sentra mulai panen raya sejak April lalu dan diprediksi panen berlangsung hingga Juli mendatang.

Melimpahnya hasil panen tersebut ternyata tidak sebanding dengan permintaan pasar akibat kebijakan PSBB dibeberapa daerah tujuan pasar. Akibatnya memang terjadi kelebihan pasokan yang berdampak jatuhnya harga, sehingga petani kekurangan modal untuk menanam kembali. “Kondisi saat ini di luar prediksi,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto di Jakarta.

Sebelumnya menurut Prihasto, pemerintah sudah mengatur pola tanam dan membuat peringatan dini dalam bentuk data Early Warning System (EWS) yang dikirimkan ke seluruh wilayah setiap bulan. "Tujuannya tak lain untuk mencegah terjadinya over supply. Namun yang terjadi saat ini adalah kejadian di luar kendali kami,” katanya.

Meski demikian, Direktorat Jenderal Hortikultura sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan jatuhnya harga. Diantaranya, sistem tunda jual yang sudah disosialisasikan ke Petugas Dinas Pertanian dan Petani Champion cabai di seluruh wilayah sentra sejak awal April.

Teknisnya Direktorat Jenderal Hortikultura memfasilitasi sewa cool storage di beberapa wilayah yang nanti digunakan petani untuk menyimpan hasil panen petani. Nanti dijual ketika harga sudah membaik. Kami juga fasilitasi biaya distribusi dari daerah produksi surplus ke daerah minus," kata Prihasto.

Prihasto juga berpesan agar petani lebih cerdas dan tidak kaku dalam berbudidaya. Misalnya dengan pola budidaya tumpangsari. Jadi, petani tidak hanya menanam cabai, tapi tumpangsari dengan komoditas lainnya. “Jadi jika harga cabai jatuh, masih ada pemasukan dari komoditas lain yang masih memberikan keuntungan," katanya.

Tak hanya itu, dalam rangka mendukung program penanganan dampak Covid-19 terhadap kelompok tani, Direktorat Jenderal Hortikultura telah merelokasi anggaran untuk memfasilitasi bantuan benih hortikultura. Antara lain benih cabai, sayur-sayuran lainya dan benih buah-buahan.

Berdasarkan data EWS Agustus hingga Oktober mendatang, produksi khususnya untuk aneka cabai diprediksi akan mengalami surplus nasional yang sangat tipis. Hanya sekitar 5 ribu-9 ribu ton pada September-Oktober. Hasil produksi tersebut dampak dari mulai terjadinya musim kemarau dan menurunnya minat tanam petani karena rendahnya harga yang terjadi saat ini.

Hal tersebut menjadi perhatian pemerintah. Dengan kebijakan bantuan benih yang diberikan, diharapkan petani tetap dapat menamam pada Mei-Juni ini, sehingga produksi cabai dapat memenuhi permintaan pasar.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, pihaknya kini tengah fokus pada penyediaan 11 bahan pokok penting. Hal tersebut tidak lain agar masyarakat mendapatkan kepastian pangan ditengah pandemi virus Covid-19, serta mengantisipasi agar tidak terjadi gejolak harga menjelang hari Raya Idul Fitri.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018