Saturday, 15 August 2020


Budidaya Tanaman Obat, Hasilnya Bisa Obati Kantong Petani

04 Jul 2020, 09:15 WIBEditor : Yulianto

Budidaya tanaman obat hasilnya menggiurkan | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jarang dilirik petani, ternyata budidaya tanaman obat hasilnya cukup menggiurkan dan mampu ‘mengobati’ kantong petani. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, permintaan terhadap tanaman obat meningkat tajam.

Chevi Permadi, Ketua Kelompok Tani Berkah Alam di Sukabumi, menyatakan  bahwa usaha budidaya tanaman obat sangat prospektif karena permintaan yang terus meningkat. Bahkan saat pandemi Covid-9 dirinya mengaku sangat kewalahan memenuhi permintaan pasar.

Chevi mengungkapkan, sebagai kelompok penangkar benih, biasanya permintaan pada awal tahun (Januari-April) tidaklah banyak, bahkan cenderung berkurang karena sudah melewati musim tanam. Namun demikian, saat pandemi Covid-19 merebak, justru permintaan pada periode tersebut melonjak hingga 200%. “Itu belum termasuk permintaan jahe untuk konsumsi,” katanya.

Secara hitung-hitungan, budidaya jahe merah menguntungkan.  Chevi mengungkapkan dalam satu hektar lahan butuh investasi sebesar Rp 70,2 juta untuk kebutuhan benih, pupuk dan tenaga kerja. Panen yang dihasilkan bisa mencapai 15 ton/ha, bahkan hingga 18 ton/ha, jika benih dan pupuk yang digunakan berkualitas baik.

Dengan asumsi harga per kilogram jahe merah sebesar Rp10.000, maka panen jahe merah bisa meraih omset sebesar Rp150 juta.  Setelah dikurangi investasi, keuntungan yang diperoleh petani bisa mencapai Rp79,8 juta. “Jika dirata-rata, penghasilan petani mencapai Rp 5 juta per bulan,” katanya.

Kepala Bidang Humas Industri Jamu dan Farmasi PT Sido Muncul Tbk Bambang Supartoko menyatakan pentingnya peningkatan produksi tanaman obat. Pasalnya sebagian besar tanaman obat yang dimanfaatkan untuk industri jamu dan farmasi saat ini masih diambil dari alam.

“Sekitar 70% masih diambil dari alam, dan baru 30% yang berasal dari budidaya. Namun dengan peningkatan konsumsi tanaman obat perlu dikuti dengan inovasi, baik di on farm maupun off farm,” tutur Bambang.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018