Saturday, 19 September 2020


Buah Naga Desa Beji Wonogiri Terbang ke Jerman

10 Jul 2020, 19:42 WIBEditor : Yulianto

Siswarsini, Ketua KWT Pelangi Kelurahan Beji menyiapkan buah naga yang akan diekspor | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonogiri---Memasuki Desa Beji, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri ada pemandangan menarik. Di setiap pekarangan rumah penduduk dan sepanjang tepi jalan desa tumbuh tanaman buah naga.

Posisi wilayah desa yang berada di areal perbukitan memang cukup sulit untuk mendapatkan lahan yang berupa hamparan. Karena itu, masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya buah naga.

Inisiasi penanaman buah naga di desa itu awalnya adalah untuk pemberdayaan masyarakat.  Namun tak dikira ternyata manfaatnya sangat terasa, terutama dari sisi peningkatan nilai tambah maupun peningkatan penghasilan. Bahkan kini buah naga dari Desa Beji telah menembus pasar ekspor.

Petugas PPL Kecamatan Nguntoronadi, Wahyu Nugroho menjelaskan, buah naga dari kawasan ini telah menjadi produk unggulan ekspor ke Jerman. Setidaknya sekitar 750 kg/minggu, buah naga organik rutin dikirim ke Jerman.

“Hampir semua keluarga di Desa Beji menanam buah naga organik dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair yang diproduksi sendiri oleh petani,” tuturnya Rabu (8/7).

Wahyu mengatakan, setiap pekarangan rumah rata-rata memiliki 5-10 tiang beton penyangga pohon buah naga dan tiap tiang berisi 4 - 5 pohon. Ada sekitar 300 petani buah naga, sekitar 97 sudah bersertifikasi internasional. Diperkirakan produksi buah naga mencapai 15-16 ton/musim.

Semuanya sudah standar organik untuk pasar Eropa. Jumlah itu akan terus ditambah untuk memenuhi permintaan pasar mancanegara yang belum terpenuhi seluruhnya yaitu sebesar 1 ton/minggu,” katanya.

Menurutnya, kemitraan dengan eksportir buah naga semakin meningkatkan pendapatan petani. Jika biasanya buah naga yang dijual di pasar lokal dengan harga fluktuatif dan tergantung pada kondisi pasar, maka harga buah naga ekspor mencapai Rp 20.000/kg dengan harga tetap sesuai perjanjian kerjasama dengan eksportir.

Siswarsini, Ketua KWT Pelangi Kelurahan Beji  menambahkan, ekspor buah naga pada awalnya dimulai dari pertemuan antara Gapoktan Beji Makmur, Petugas Penyuluh Lapangan dan anggota KWT dengan eksportir asal Kulonprogo. Dalam pertemuan tersebut akhirnya disepakati eksportir yang siap membantu sertifikasi internasional buah naga organik.

“Setelah menjalani beberapa persyaratan kriteria yang harus dipenuhi, mulai dari SOP penanaman buah naga sampai soal penanganan sampah, hinga lolos uji dan akhirnya sejak tahun 2018 lalu kami pun bisa mulai ekspor,” tambahnya.

Setelah terbit sertifikat internasional dilanjutkan dengan pengiriman sampel buah naga organik ke Jerman. Pengiriman itu dibalas dengan kunjungan importir asal Jerman beberapa waktu kemudian.

Pertanian Organik

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto terus mengupayakan agar pengembangan buah organik dapat terus ditingkatkan. Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. “Didasarkan atas prinsip kesehatan, kelestarian, siklus dan ekologi. Ini yang sering digaungkan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo,” kata Anton, sapaan akrab Dirjen Hortikultura.

Anton menjelaskan, pertanian organik merupakan sebuah solusi pertanian berkelanjutan, khususnya petani. Pertanian organik seiring dengan pangsa pasar yang semakin terbuka, tidak hanya bernilai ekonomis tinggi, tapi juga penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

"Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, terlebih di tengah pandemi Covid 19 ini, buah organik kini banyak dicari konsumen baik domestik maupun mancanegara, ini merupakan peluang besar bagi para petani untuk lebih meningkatakan produksi buah organik,” tuturnya.

Menurut Anton, lahan pertanian yang dikelola secara organik akan lebih tahan terhadap hama dan penyakit karena diperlakukan secara alami tanpa bahan kimia. Sehingga dengan sendirinya memberikan tingkat kesuburan sehingga tanah menjadi lebih sehat yang otomatis meningkatkan ketahanan tanaman itu sendiri.

Sementara itu Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman mengungkapka, salah satu pasar buah yang terbuka luas adalah Eropa, karena permintannya terus meningkat. Sayangnya belum dapat dimanfaatkan dengan baik, karena pasar Eropa menghendaki produk buah organik. “Kami sudah berkoordinasi dengan Atase Pertanian di KBRI Brussel dan eksportir buah ke Eropa mengenai hal ini,” ungkapnya.

Liferdi menegaskan, untuk memanfaatkan celah pasar buah organik yang terbuka lebar di Eropa, pihaknya akan menggiatkan dan mengupayakan pengembangan kawasan buah yang berbasis organik. “Terutama untuk buah yang diminati di Eropa, salah satunya buah naga,” katanya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018