Thursday, 03 December 2020


Cabai Rp 10 Juta untuk Tetangga

30 Jul 2020, 14:16 WIBEditor : Ahmad Soim

Cabai Merah yang menyejukkan hati | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Matahari pagi jatuh di pucuk tanaman cabai yang lebar dan gemuk. Warnanya semburat. Memantul dari daun hijau ke buah yang mengurai gemuk berwarna merah di bawah dahannya yang rimbun.

Tak ada yang mengalahkan indahnya tanaman sayuran seperti cabai dan tomat. Buahnya berwarna merah cerah saja sudah memberikan kepuasan batin sebelum berubah menjadi penghasilan saat buah itu berpindah ke tangan tengkulak. Indahnya sudah dinikmati, kepuasan batin sudah didapat, maka nanti cabai yang akan dijual tidak beda dengan barang bekas. Petani seperti aku tidak beda dengan tukang loak. Menjual barang bekas.

Di lahan seluas 0.3 hektare untaian buah panjang berwarna merah itu sungguh indah. Dia gemuk dan berukuran besar karena cabai ini adalah jenis cabai yang manis, yang disebut cabai Teropong, yang pedasnya tidak menyengat, cocok untuk bahan penyedap dendeng batokok atau sambal khas Cirebon yang diiris kecil-kecil, campuran untuk nasi Jamblang, makanan rakyat yang terkenal itu.

Sebagai seorang sarjana pertanian yang baru belajar bertani, maka semua kemampuan ditumpahkan dengan menerapkan perencanaan seperti seorang ahli, pemupukan sesuai petunjuk, dan pemeliharaan dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Waktu tanam pun sudah diperhitungkan baik-baik. Empat bulan ke depan adalah Idul Fitri. Ini adalah hari spesial di mana masyarakat, tidak hanya yang muslim, merayakannya dengan menyajikan makanan istimewa, hampir tanpa memperhitungkan kondisi keuangan keluarga. Walaupun ada insentif dari perusahaan dan hadiah lebaran, tak pelak tabungan dikeluarkan, simpanan ditarik, bahkan kalau perlu kartu kredit digesek untuk dibayar kemudian hari.

Jangan ditanya soal rasional atau tidak,  karena Idul Fitri adalah istimewa.  Bukan persoalan rasio dan akal, tapi persoalan hati, perasaan dan kepuasan batin. Pada hari ini kita sungkem kepada orang tua dan dituakan, dan bersilaturahim dengan saudara dan handai taulan.

Dalam perhitungan seorang ekonom dan statistisi, maka menjelang Idul Fitri harga cabai akan meningkat karena permintaan akan melonjak. Waktu tanam itu sengaja dirancang agar hari-hari menjelang Idul Fitri akan bersamaan dengan saat panen di kebunku. Tetangga sudah terkagum-kagum melihat kebunku. Ini pasti akan untung besar. Dari luasan kecil yang tidak seberapa itu, untung Rp 10 juta sih perkiraan minimal. Itu kata mereka.

“Beda ya, kalau tanam cabai dirancang oleh seorang ahli,” katanya sambil memandang kebun yang sedang memamerkan keindahannya.

Bulan puasa merangkak mendekati ke penggalan di pertengahan. Cabai sudah matang dan siap untuk dipetik. Informasi harga di koran dan televisi kupelototi setiap hari tapi harga cabai malas bergerak. Sedikit bergerak-gerak, lama-lama malah loyo dan anjlok. Anjlok.

“Ini mustahil. Gak masuk akal. Kenapa bisa begini,” pikirku.

“Harga cabai lagi murah, Pak,” kata tetangga.

”Pasti ada impor membanjiri pasar kita. Barangnya bagus dan harganya murah,” sambungnya.

Benar sekali. Kenaikan harga saat Idul Fitri sudah diantisipasi. Konsumen harus diamankan sehingga ditetapkan untuk impor. Konsumen tidak boleh resah dan inflasi harus dihindari, maka harga ditekan jangan sampai berpengaruh pada kondisi ekonomi.

“Waduh!” keluhku

Akhirnya sampai juga harga cabai lebih rendah dari upah memetiknya. Maka keputusan paling rasional dan membahagiakan adalah mengundang tetangga untuk panen cabai dan membawa pulang hasil petikannya. Hikmahnya tetap ada dan perlu disyukuri. Indahnya tanaman cabai sudah dinikmati, hasil penjualannya nol besar. Tapi nilai ibadahnya mudah-mudahan diterima Allah Yang Maha Mulia.

Kondisi ini dialami para petani sejati. Ada kalanya untung besar dan ada kalanya rugi. Mengapa mereka tetap bertahan menanam lagi pada musim berikutnya? Karena secara rata-rata mereka mendapat keuntungan dari usahanya. Bagaimanapun, semoga petani yang luas usahanya tak seberapa itu seharusnya tetap mendapat keuntungan agar pendapatan dan kesejahteraannya meningkat. Aamiin.

Pelajaran dari pengalaman ini adalah, tanpa ada upaya pengamanan pasca panen, risiko semacam ini bisa selalu terjadi. Kalau saja ada alat pengering cabai, sehingga cabai yang berharga murah bisa dikeringkan dan disimpan. Lagi pula cabai kering itu harganya mahal.

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018