Wednesday, 21 October 2026


Jaga Stabilitas Pasokan Cabai, Pemerintah Lakukan Ini

09 Mar 2021, 11:45 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura saat berkunjung ke sentra produksi cabai

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Cuaca ekstrim yang terjadi sejak awal tahun membuat harga cabai rawit bergejolak. Banjir dan serangan hama penyakit membuat pasokan berkurang. Berbagai langkah pun dilakukan pemerintah.

Berdasarkan data Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas pertanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada Oktober-Desember 2020 seluas 431 hektar yang tersebar di Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Sedangkan pada Januari-Februari 2021 seluas 404,7 ha yakni di Kalsel, Sumut, Sumbar, Sulteng, Kalbar, Jambi, Jatim, dan NTT.

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan, pihaknya bersama seluruh jajarannya memonitor kondisi pertanaman cabai di lapangan dan melakukan upaya meredam gejolak harga agar tidak berkepanjangan. Namun ia menegaskan, keliru bahwa penyebab kenaikan karena tidak adanya produksi.

Produksi tetap ada, petani tetap menanam cabai rawit walaupun memang ada penurunan luas tanam sebagai akibat dari harga sepanjang tahun 2020 yang kurang kompetitif,” katanya.

Sementara itu Direktur Tanaman Sayuran dan Obat, Ditjen Hortikultura, Tommy Nugraha mengatakan, berbagai upaya yang akan dilakukan Direktorat Jenderal Hortikultura dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga. Diantaranya, mendorong petani untuk menerapkan inovasi rainshelter pada penanaman cabai off season (Juli-Agustus).

“Untuk menjaga pasokan cabai di DKI Jakarta sebagai barometer harga komoditas nasional, maka perlu ada buffer stock berupa standing crop di wilayah-wilayah daerah penyangga  yang dapat dikendalikan Pemerintah,” tuturnya.

Selain itu ungkap Tommy, melakukan kerjasama dengan offtaker  yang mampu memindahkan produksi dari daerah-daerah yang surplus produksi ke daerah yang kekurangan produksi. Kemudian, menyerap produk petani disaat harga jatuh sehingga petani tetap berminat untuk selalu bertanam sepanjang tahun.

Tommy menambahkan, pihaknya juga melakukan edukasi ke masyarakat untuk mengkonsumsi cabai olahan (kering, bubuk, pasta, sambal botol, saus), sehingga tidak tergantung kepada cabai segar. Masyarakat juga dapat melakukan pengawetan sendiri saat harga cabai sedang murah.

“Kami juga terus menggerakkan masyarakat rumah tangga untuk dapat bertanam aneka cabai di pekarangan, sehingga tidak terlalu terpengaruh apabila terjadi lonjakan harga cabai di pasaran,” katanya.

Namun demikian Tommy mengakui, dalam mengimplementasikan berbagai upaya tersebut harus ada sinergi dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, petani sebagai produsen, namun juga perlu peran konsumen.  “Perlu adanya kerjasama dalam melakukan edukasi terhadap konsumen untuk mengubah pola konsumsinya," ujarnya.

Berdasarkan Data Early Warning System (EWS) Direktorat Jenderal Hortikultura, diprediksi neraca ketersediaan cabai rawit aman pada Maret hingga Mei mendatang. Surplus produksi pada bulan ini diperkirakan sebanyak 12 ribu ton, dan akan meningkat pada April sebanyak 42 ribu ton, serta Mei sebanyak 48 ribu ton.

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

 

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018