Sunday, 09 May 2021


Membangkitkan Kembali Nanas Palippu

23 Apr 2021, 06:25 WIBEditor : Yulianto

Pemberian bibit tanaman nanas Palippu | Sumber Foto:Dok. Mursidah

TABLOIDSINARTANI.COM, Wajo---Potensi nanas di Indonesia cukup baik, sayangnya masih belum diupayakan secara optimal. Hal ini terjadi di Desa Palippu, Kecamatan Tanisitolo, Kabupaten Wajo.

Desa Palippu sangat dikenal sebagai penghasil nanas dengan cita rasa yang sangat enak. Namun pada tahun 1998 saat krisis moneter banyak petani nanas beralih menanam kakao dan mete. Melonjaknya harga dua komoditas perkebunan tersebut membuat petani beralih dari menanam nanas menjadi kakao dan mete.

“ Jauh sebelum krisis moneter melanda dunia termasuk  Indonesia, Desa Palippu sangat terkenal sebagai daerah sentra penghasil nanas dengan cita rasa yang sangat enak, kata Kepala Desa Palippu, Abdul Rafiq.

Untuk membangkitkan kembal nanas Palippu, menurut Rafiq, perlu langkah kongkrit agar Desa Palippu  yang memilik luas wilayah 10,9 km2 dengan ketinggian 105 mdpl  kembali menjadi sentra produksi nanas. Keunikan nanas Desa Palippu adalah varietas madu, sehingga menghasilkan cita rasa yang sangat enak dan harum.

Namun jika ditanam di daerah lain, meskipun  di desa sebelah Palippu seperti Desa Wewangrewu, Mario dan Pasar Baru, maka akan berbeda rasa dan aromanya. Bahkan dari budidaya nanas, pendapatan petani lebih menjanjikan dibandingkan budidaya kakao dan mente.

Rafiq mengatakan, Desa Palippu merupakan desa yang memiliki luas kebun yang lebih besar dibanding luas persawahan.  Total lahan perkebunan sebesar 188 ha dan  luas penanaman nanas  sekarang ini hanya 20 ha.  

Upaya pemerintah desa untuk menarik minat petani mengembangkan nanas adalah dengan pemberian bantuan bibit sebanyak 20.000 bibit, jaring 40 roll sebagai pengendalian hama babi hutan dan kegiatan “Maddenggeng” sebagai pengendalian babi hutan secara kroyokan.

“Kami juga membagikan  1.400 pot dari ban bekas mobil yang disebarkan ke  setiap rumah  di sepanjang jalan desa sebagai  wadah tanam nanas sebagai tanaman hias,” katanya. Upaya  tersebut sebagai langkah kongkrit agar minat masyarakat Desa Palippu menanam nanas dapat kembali terpacu. 

Bagi masyarakat Desa Palippu, budidaya nanas bukan menjadi hal yang baru. Biasanya petani memperbanyak nanas  dengan tunas dari indukan yang sudah berbuah atau sudah dipanen, sehingga bibit nanas selalu tersedia. Berarti budidaya nanas tidak memerlukan biaya yang mahal.

Petani Desa Palippu juga telah memiliki trik  dalam membudidayakan nanas, sehingga panen bisa secara bertahap dan berkesinambungan . Trik ini diperoleh secara turun temurun dari orang tua mereka, sehingga   produksi nanas berjalan secara kontinyu. Begitu pula dengan bibit/tunas yang tersedia sepanjang waktu.  

“Masyarakat Palippu harus bisa membuka pola pikirannya untuk  kembali mengembangkan  komoditi nanas. Apalagi kondisi Desa Palippu memang cocok ditanami nanas dan merupakan sentra nanas yang terbesar di Kabupaten Wajo,ujar A.Mursidah, Analis Pasar Hasil Pertanian Kabupaten Wajo.  

Lebih Untung dari Kakao

Ambo Upe, petani nanas di Desa Palippu mengakui, budidaya nanas lebih menguntungkan dari kakao atau mete. Pendapatan petani kakao dan mente di Palippu  maksimal berkisar Rp 10 juta/tahun.  Sedangkan petani nanas dengan luas lahan hanya 1 ha bisa memperoleh hasil  hingga Rp 90-100 juta/tahun.

Pendapatan itu dengan asumsi harga nanas Rp 20-25 ribu/buah (musim panen raya).  Namun jika panen di luar  musim, maka harga nanas  berkisar Rp 30- 35 ribu/buah ditingkat petani. Sedangkan di tingkat pedagang dapat mencapai Rp 70 ribu/buah.

Dalam 1 ha, nanas dapat dibudidayakan sebanyak 7.000 pohon. Sebagai langkah awal,  lahan 1 ha bisa ditanami sebanyak 5.000 pohon  dan dapat dipanen pertama  sebanyak 4.000 pohon.

Dalam kurung waktu 15-18 bulan, 1 ha lahan sudah  dapat tertanami sebanyak 7.000 pohon  sehingga dapat  menghasilkan Rp 157,5 juta/musim panen. Ini merupakan pendapatan yang cukup fantastik bagi petani nanas di Desa Palippu,” kata Ambo Upe.

Seperti kita ketahui, nanas merupakan tanaman buah tropis yang berbentuk semak tropis yang kaya akan vitamin, enzim, dan senyawa antioksidan. Nanas memililiki beberapa nama daerah yakni danas (sunda), naneh (Sumatra), nanas (jawa), fanrreng (bugis).

Nanas mengandung vitamin C tinggi dan mineral mangan. Tidak hanya mangan yang bertindak sebagai antioksidan kuat, nanas juga diperkaya vitamin B1 (Tiamin) yang berperan dalam memproduksi energi tubuh. Selain itu, sebagai satu sumber serat  dan sumber enzim bromelain yang baik.

Nanas menjadi buah primadona bagi masyarakat, baik dikonsumsi dalam bentuk buah  segar maupun produk olahan seperti selai.  Beberapa daerah di Indonesia  menjadikan nanas sebagai  bahan dasar menu  sajian seperti “salada (Sulawesi Selatan) “ dan asinan di daerah lain   dalam setiap  acara hajatan.  

 

Reporter : Mursidah/Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018