
Pemberian bibit tanaman nanas Palippu
TABLOIDSINARTANI.COM, Wajo---Potensi nanas di Indonesia cukup baik, sayangnya masih belum diupayakan secara optimal. Hal ini terjadi di Desa Palippu, Kecamatan Tanisitolo, Kabupaten Wajo.
Desa Palippu sangat dikenal sebagai penghasil nanas dengan cita rasa yang sangat enak. Namun pada tahun 1998 saat krisis moneter banyak petani nanas beralih menanam kakao dan mete. Melonjaknya harga dua komoditas perkebunan tersebut membuat petani beralih dari menanam nanas menjadi kakao dan mete.
“ Jauh sebelum krisis moneter melanda dunia termasuk Indonesia, Desa Palippu sangat terkenal sebagai daerah sentra penghasil nanas dengan cita rasa yang sangat enak,” kata Kepala Desa Palippu, Abdul Rafiq.
Untuk membangkitkan kembal nanas Palippu, menurut Rafiq, perlu langkah kongkrit agar Desa Palippu yang memilik luas wilayah 10,9 km2 dengan ketinggian 105 mdpl kembali menjadi sentra produksi nanas. Keunikan nanas Desa Palippu adalah varietas madu, sehingga menghasilkan cita rasa yang sangat enak dan harum.
Namun jika ditanam di daerah lain, meskipun di desa sebelah Palippu seperti Desa Wewangrewu, Mario dan Pasar Baru, maka akan berbeda rasa dan aromanya. Bahkan dari budidaya nanas, pendapatan petani lebih menjanjikan dibandingkan budidaya kakao dan mente.
Rafiq mengatakan, Desa Palippu merupakan desa yang memiliki luas kebun yang lebih besar dibanding luas persawahan. Total lahan perkebunan sebesar 188 ha dan luas penanaman nanas sekarang ini hanya 20 ha.
Upaya pemerintah desa untuk menarik minat petani mengembangkan nanas adalah dengan pemberian bantuan bibit sebanyak 20.000 bibit, jaring 40 roll sebagai pengendalian hama babi hutan dan kegiatan “Maddenggeng” sebagai pengendalian babi hutan secara kroyokan.
“Kami juga membagikan 1.400 pot dari ban bekas mobil yang disebarkan ke setiap rumah di sepanjang jalan desa sebagai wadah tanam nanas sebagai tanaman hias,” katanya. Upaya tersebut sebagai langkah kongkrit agar minat masyarakat Desa Palippu menanam nanas dapat kembali terpacu.
Bagi masyarakat Desa Palippu, budidaya nanas bukan menjadi hal yang baru. Biasanya petani memperbanyak nanas dengan tunas dari indukan yang sudah berbuah atau sudah dipanen, sehingga bibit nanas selalu tersedia. Berarti budidaya nanas tidak memerlukan biaya yang mahal.
Petani Desa Palippu juga telah memiliki trik dalam membudidayakan nanas, sehingga panen bisa secara bertahap dan berkesinambungan . Trik ini diperoleh secara turun temurun dari orang tua mereka, sehingga produksi nanas berjalan secara kontinyu. Begitu pula dengan bibit/tunas yang tersedia sepanjang waktu.
“Masyarakat Palippu harus bisa membuka pola pikirannya untuk kembali mengembangkan komoditi nanas. Apalagi kondisi Desa Palippu memang cocok ditanami nanas dan merupakan sentra nanas yang terbesar di Kabupaten Wajo,” ujar A.Mursidah, Analis Pasar Hasil Pertanian Kabupaten Wajo.

Lebih Untung dari Kakao
Ambo Upe, petani nanas di Desa Palippu mengakui, budidaya nanas lebih menguntungkan dari kakao atau mete. Pendapatan petani kakao dan mente di Palippu maksimal berkisar Rp 10 juta/tahun. Sedangkan petani nanas dengan luas lahan hanya 1 ha bisa memperoleh hasil hingga Rp 90-100 juta/tahun.
Pendapatan itu dengan asumsi harga nanas Rp 20-25 ribu/buah (musim panen raya). Namun jika panen di luar musim, maka harga nanas berkisar Rp 30- 35 ribu/buah ditingkat petani. Sedangkan di tingkat pedagang dapat mencapai Rp 70 ribu/buah.
Dalam 1 ha, nanas dapat dibudidayakan sebanyak 7.000 pohon. Sebagai langkah awal, lahan 1 ha bisa ditanami sebanyak 5.000 pohon dan dapat dipanen pertama sebanyak 4.000 pohon.
Dalam kurung waktu 15-18 bulan, 1 ha lahan sudah dapat tertanami sebanyak 7.000 pohon sehingga dapat menghasilkan Rp 157,5 juta/musim panen. “Ini merupakan pendapatan yang cukup fantastik bagi petani nanas di Desa Palippu,” kata Ambo Upe.
Seperti kita ketahui, nanas merupakan tanaman buah tropis yang berbentuk semak tropis yang kaya akan vitamin, enzim, dan senyawa antioksidan. Nanas memililiki beberapa nama daerah yakni danas (sunda), naneh (Sumatra), nanas (jawa), fanrreng (bugis).
Nanas mengandung vitamin C tinggi dan mineral mangan. Tidak hanya mangan yang bertindak sebagai antioksidan kuat, nanas juga diperkaya vitamin B1 (Tiamin) yang berperan dalam memproduksi energi tubuh. Selain itu, sebagai satu sumber serat dan sumber enzim bromelain yang baik.
Nanas menjadi buah primadona bagi masyarakat, baik dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun produk olahan seperti selai. Beberapa daerah di Indonesia menjadikan nanas sebagai bahan dasar menu sajian seperti “salada (Sulawesi Selatan) “ dan asinan di daerah lain dalam setiap acara hajatan.