Thursday, 23 September 2021


Inilah Strategi Rebut Pasar Florikultura di Jepang

16 Jun 2021, 12:32 WIBEditor : Gesha

Krisan sangat disukai di Jepang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Tokyo --- Negara Jepang sebenarnya memiliki peluang besar pasar Florikultura yang bisa direbut oleh Indonesia. Namun perlu strategi khusus agar bisa diterima. 

"Dalam ekspor produk Pertanian, Florikultura termasuk kelompok ekspor yang tidak perlu didahului kesepakatan G to G (Government to Government) sehingga bisa langsung ekspor. Ini peluang yang lebih bagus daripada produk hortikultura lain, misalnya Mangga atau produk peternakan yang lebih sulit dan panjang prosesnya, " ungkap Atase Pertanian di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Sri Nuryanti saat Focus Group Discussion (FGD)Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura yang digelar Tabloid SINAR TANI, Rabu (16/6). 

Meskipun bisa langsung ekspor, tanaman Florikultura, baik bunga-bungaan, umbi bunga maupun tanaman daun, harus lolos persyaratan dan prosedur karantina yang diterapkan oleh Kementerian Pertanian dan Perikanan Jepang (prosedur karantina di Jepang bisa dilihat pada laman http://www.pps.go.jp/english/faq/index.html

"Tentunya harus disertai Phytosanitary Certificate sebagai pernyataan bebas hama dan penyakit karantina, "tegasnya. 

Penerbitan Phytosanitary pun tak bisa sembarangan karena harus dilakukan pemeriksaan di lokasi budidaya dan dideklarasikan secara jelas (clear) Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK). Adapun list Florikultura yang harus diperiksa secara ketat bisa dilihat pada laman https://www.pps.go.jp/english/law/list1-2.html

"Ekspor Florikultura ke Jepang selain aman, bersih, bebas dari OPT, Kuantitasnya (jumlah) harus memenuhi sepanjang tahun sehingga harus dipersiapkan kalender tanam dan kalender panen Florikultura agar pasokannya kontinu, " jelasnya. 

Aspek ketelusuran juga menjadi syarat yang harus bisa dipenuhi eksportir Florikultura di Indonesia. "Keterlusuran kita masih sangat rendah, penyiapan dokumentasi mulai dari pengolahan lahan, media tanam, bibit, selama tanam, panennya, shipmentnya, hingga pemeriksaan dokumennya, belum bisa dipersiapkan dengan baik oleh pelaku usaha Florikultura. Agar bisa menjadi bukti jika terjadi penolakan dari negara Jepang, " ungkapnya. 

Sehingga, Sri menyarankan agar pelaku usaha Florikultura bisa merebut pasar ekspor di Jepang, sebaiknya dimulai dari lahan yaitu dengan mempersiapkan dan membudidayakan Florikultura dengan baik dan benar (Good Agriculture Practise/GAP), melakukan panen dan pascapanen dengan baik dan benar (sesuai Good Handling Practise/GHP) sehingga bisa dihasilkan produk yang sehat dan bebas OPTK. 

"Dokumentasikan semua kegiatan dengan baik dan benar mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pascapanen, pengemasan, hingga pengiriman bisa ditelusuri," pesannya. 

Sri menambahkan, dengan standar Jepang yang tinggi, apabila pelaku usaha Florikultura bisa memenuhinya maka peluang pasar Internasional lebih mudah diraih. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018