Wednesday, 21 October 2026


Budaya dan Zero Tarrif, Peluang Akselerasi Ekspor Florikultura ke Jepang

16 Jun 2021, 18:15 WIBEditor : Gesha

Bunga banyak dibutuhkan masyarakat Jepang sebagai bagian budaya

TABLOIDSINARTANI.COM, Tokyo --- Beragam budaya masyarakat Jepang yang memerlukan bunga dalam jumlah besar, menjadikan pasar ekspor florikultura ke Jepang sangat potensial. Tidak hanya negara di Asia dan Afrika, eksportir florikultura juga berasal dari Negara yang cukup jauh seperti Eropa dan Amerika.

“Berdasarkan data dari Ministry of Agriculture, Forestry, and Fisheries (MAFF) of Japan tahun 2021, nilai pasar florikultura Jepang untuk impor sangat besar, yaitu 52.4 Milyar Yen atau 12 persen dari produk domestic 380.1 milyar Yen (88 persen), "kata Atase Pertanian KBRI di Tokyo, Dr. Sri Nuryanti pada Focus Disscussion Group virtual bertema “Peluang dan Tantangan Ekspor Florikultura” yang diselenggarakan Sinar Tani, Rabu (16/6).

Hal ini karena masyarakat Jepang menggunakan bunga dan tanaman hias untuk berbagai acara seperti Seremoni (Pemakaman dan duka cita, pernikahan, ulang tahun pernikahan), Hadiah (ucapan selamat dan Hari Ibu), dan Dekorasi (Jamuan makan, tanaman pot, Ikebana dan Landskap).

"Contohnya setiap pertengahan Agustus warga Jepang pulang kampung merayakan festival Obon, yaitu mengunjungi makam leluhur sebagai penghormatan,”tambahnya.

Dirinya mencontohkan Ketika kantornya pindah ke Shinjuku City, Tokyo, para relasinya di Jepang mengirimkan rangkaian bunga ucapan selamat dengan jenis bunga anggrek berwarna putih dan merah jambu. Di Jepang sangat spesifik warna bunga didominasi merah, putih, dan merah jambu, yang membedakan hanya jenis bunganya pada setiap acara.

“Misalnya Hari Ibu, jenis bunga Anyelir warna merah, pemakaman dan duka cita jenis krisan satu kuntum besar berwarna putih, kemudian pernikahan jenis mawar berwarna merah dan merah jambu.” Tuturnya

Bahlan hampir setiap weekend (akhir pekan), warga Jepang menikmati hamparan bunga, jadi bunga bagaikan “food for soul”, sehingga setiap musim mereka mengatur sedemikian rupa hingga warna bunga dapat berubah tanpa harus ditanam lagi.

Selain budaya, hubungan baik antara Indonesia dan Jepang (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement –IJEPA) membuahkan pemberlakuan tariff nol persen untuk produk ekspor Indonesia ke Jepang, harus bisa dimanfaatkan untuk akselerasi ekspor Florikultura kesana. “Bila kita mampu memenuhi standar Jepang, maka akan memboosting ekspor melalui zero tariff,” kata Sri Nuryanti.

Namun Sri berpendapat dukungan logistic yang bagus, sangat berpengaruh pada kegiatan ekspor impor florikultura, terutama bunga segar/bunga potong. 

“Sebanyak 25 persen bunga potong diimpor, yaitu 1,27 milyar potong bunga, terutama mawar, anyelir, dan krisan. Sementara produksi domestic sebanyak 75 persen yaitu 3.87 milyar potong bunga, " jelasnya. 

Sedangkan untuk umbi bunga Lili dan Tulip 80 persen adalah impor dari Belanda. Jepang mengimpor bunga potong terbanyak dari Columbia dan China (bunga anyelir), Kenya dan India (bunga mawar), serta Malaysia dan Vietnam (bunga Krisan). "Hal ini karena mereka mempunyai system logistic yang bagus untuk produk bunga segar sehingga memenuhi standar kualitas yang berlaku di Jepang, “ bebernya

Sedangkan Indonesia, ekspor bunga Krisan Indonesia hanya ke Jepang, yaitu bibit Krisan dari PT Transplant Indonesia ke Taiyo No Hana di Okinawa. 

Untuk meningkatkan ekspor florikultura ke Jepang, pihaknya bahkan memfasilitasi produsen bunga dari Tomohon, Sulawesi Utara untuk berkonsultasi dengan Chiba University, satu-satunya universitas di Jepang yang mempunyai jurusan disiplin ilmu Hortikultura.

"Menurut ahli Krisan di Chiba University, kunci bertanam bunga Krisan adalah kebersihan air irigasi sehingga tidak akan muncul bercak daun. Sehingga diharapkan partisipasi dari penyuluh atau peneliti untuk membimbing petani Florikultura di Indonesia untuk menerapkan Good Agriculture Practise (GAP),"tambahnya.

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018