Sunday, 26 June 2022


Asbindo Dukung Keberlanjutan Ekspor Florikultura

23 Jun 2021, 15:15 WIBEditor : Gesha

Asbindo mendukung keberlanjutan ekspor florikultura | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Mampu menembus pasar mancanegara merupakan satu prestasi yang membanggakan ditengah masih tingginya volume dan nilai impor produk florikultura Indonesia. Guna  dapat mendukung keberlanjutan kegiatan ekspor florikultura dari tanah air, Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) kini aktif melaksanakan berbagai kegiatan yang melibatkan langsung pelaku usaha khususnya yang berorientasi ekspor.

“Pada akhir bulan Juni ini misalnya, kami akan menggelar  pelatihan ekspor florikultura. Melalui kegiatan ini diharapkan pelaku usaha florikultura kian terpacu  untuk masuk atau lebih mengembangkan kegiatan ekspornya,” kata Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Hesti Widayani,  saat menjadi narasumber acara FGD virtual  yang digelar Tabloid Sinar Tani, Rabu (23/06).

Hesti mengemukakan, saat ini 50 persen pasar florikultura dunia dikuasai negeri Belanda dimana nilai ekspornya mencapai 10,9 miliar dolar AS, disusul Colombia (1,4 miliar dolar AS) dan negara Jerman yang mampu meraup devisa hingga 1 miliar dolar AS. Indonesia  sendiri masuk di peringkat ke-51 dengan nilai ekspor sekitar 21 juta dolar AS di tahun 2020. Dibandingkan tahun 2018 ,telah terjadi peningkatan volume  dan nilai ekspor florikultura secara signifikan di tahun 2020.

Meski nilainya masih kecil, namun yang menggembirakan  Indonesia masuk dalam peta sebagai negara pengekspor florikultura dunia.” Yang jadi tantangan kita bersama  adalah bagaimana bisa menjaga agar kegiatan ekspor ini bisa berkelanjutan. Jangan hanya mengambil dari hutan mengekspor  terus berhenti,” tuturnya.

Asbindo sebagai wadah berhimpunnya para pelaku usaha florikultura menilai penting dilakukannya suatu strategi agar kegiatan ekspor bisa dijaga keberlanjutannya juga bagaimana agar  volume dan nilai ekpornya dapat terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Ada tiga hal, yang menurut Hesti, perlu menjadi perhatian supaya ekspor bisa berkelanjutan, pertama perhatikan keberadaan dan kondisi nursery sebagai pihak yang melakukan kegiatan perbanyakan tanaman. Kedua, perhatikan eksportirnya dan ketiga, tingkatkan peran asosiasi yang terlibat di dalamnya.

Perlu diupayakan agar nursery khususnya yang berorientasi ekspor telah terdaftar dan tersertifikasi. Dipantau pula prasarana dan sarana pendukungnya, sejauh mana teknologi dan inovasi dalam berbudidaya, apakah sudah melakukan upaya peningkatan jumlah dan mutu produk serta peningkatan daya saing produknya.

Pihak eksportir juga perlu diperhatikan apakah sudah berbadan hukum , dokumen legalnya apakah sudah lengkap (NPWP, NIB dan lain-lain), bagaimana dengan izin ekspornya serta apakah telah memahami persyaratan dan peraturan negara tujuan ekspor.

Asosiasi dalam hal ini  perlu didorong agar bisa berkontribusi melakukan pembinaan terhadap anggotanya antara lain dengan berpartisipasi melakukan pelatihan serta mengupayakan bisa terjalin pertukaran informasi diantara anggota. Disamping aktif  melakukan kegiatan sosiasisasi  terkait regulasi dan informasi usaha florikultura (aspek budidaya, pasar , manajemen) , pihak asosiasi juga diharapkan  dapat mewakili dan menyuarakan  kepentingan anggota serta mampu membangun jejaring kerja dan kemitraan dengan pihak-pihak terkait.

Sejauh ini Asbindo juga  telah berupaya menjadi mitra pemerintah yang baik  dalam mendukung berjalan lancarnya kegiatan bisnis florikultura juga menyuarakan apa yang menjadi keinginan anggota. “Bulan Agustus tahun lalu PPN produk florikultura turun menjadi 2 persen dari sebelumnya mencapai 10 persen. Ini tentu menggembirakan anggota karena  Asbindo hampir enam tahun berjuang untuk bisa menggolkan penurunan PPN ,” jelas Hesti.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018