CEO Minaqu Home Nature, Ade Wardhana
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di masa kini, kesukaan masyarakat tak hanya di Indonesia namun dunia tengah mengalami pergeseran tanaman florikultura, dari bunga-bungaan menjadi tanaman pot ukuran minimalis atau sering disebut potted plant.
Tanaman hias bukanlah konsep baru. Faktanya, manusia telah menyimpan tanaman dan pohon dalam pot selama ribuan tahun, sejak taman gantung Babilonia. Namun akhir-akhir ini, tanaman hias telah menikmati ledakan popularitas yang besar, terutama dengan Milenial dan Gen Z. Lihat saja di media sosial, tagar seperti #plantsofinstagram, #urbanjungle dan #plantsmakepeoplehappy sedang tren di Instagram, dan seluruh platform penuh dengan apartemen nyaman yang penuh dengan tanaman pot (potted plant).
Bahkan karena berbagai alasan, Milenial dan Gen Z menunggu lebih lama untuk memulai keluarga atau memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Dipilihnya tanaman hias bagi kebanyakan milenial dan Gen Z karena cenderung jauh lebih baik daripada hewan peliharaan ketika ditinggalkan selama berhari-hari atau berminggu-minggu untuk bekerja atau liburan.
Jika ada yang lebih disukai Milenial dan Gen Z selain tanaman hias, adalah kesehatan dan tanaman memberikan banyak manfaat mental dan fisik. Faktanya, berinteraksi dengan tanaman hias sebenarnya dapat menurunkan tekanan darah, menenangkan sistem saraf, dan meningkatkan perasaan secara umum.

Tanaman hias memang membutuhkan penyiraman, pemangkasan, repotting, pembersihan, dan banyak lagi, tetapi banyak orang menganggap praktik ini santai karena mengharuskan kita untuk memperlambat dan merawat sesuatu dengan hati-hati. Namun merawat tanaman dapat memberikan rutinitas yang menghibur di dunia yang tidak pasti.
Data terakhir dari Asociația Internațională a Horticultorilor (AIPH), Belanda hingga saat ini menjadi produsen tanaman hias yang menguasai 40 persen pasar florikultura dunia, semakin berkembang menjadi produsen potted plant disamping negara Belgia, Polandia dan Jerman.
“Tidak ada lagi tanaman flori bunga di Belanda. Semua beralih ke potted plant. Di sisi lain, Indonesia punya banyak sumberdaya genetik potted plant yang bisa dikembangkan,” ungkap CEO Minaqu Home Nature, Ade Wardhana saat Focus Group Discussion Kiat Sukses Bisnis dan Ekspor Florikultura yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (23/6).
Banyak jenis potted plant asli Indonesia yang bisa ditingkatkan produksinya untuk memenuhi pasar trend tanaman hias ini. Mulai dari Labisia, Aglaonema, Amydrium, Scindapsus, Alocasia, Rhaphidophora, hingga Homalomena. "Indonesia sebenarnya termasuk negara dengan megabiodiversity potted plant yang cukup besar. Jenis Alocasia Indonesia saja paling banyak daripada Amerika Selatan," tambahnya.
Untuk menangkap pasar potted plant yang terbuka lebar ini, pemberdayaan breeder-breeder lokal di Indonesia seharusnya terus dilakukan regenerasi dengan sumberdaya green house dan inovasi teknologi yang terus terbarukan. Tentunya untuk bisa mengejar ketertinggalan Indonesia, minimal dari Thailand yang sudah 30 tahun fokus pada house plant. Bahkan memiliki breeder Petani besar dengan fasilItas kultur jaringan yang lengkap untuk bisa kreatif mengembangkan varietas baru dengan harga tinggi.