Wednesday, 21 October 2026


Petani Sumedang Kaget, Pohon Mangga bisa Simpan Stok Karbon

28 Jan 2022, 14:17 WIBEditor : Yulianto

Kampung mangga di Sumedang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Petani mangga yang berlokasi di di Desa Jembarwangi, Kabupaten Sumedang, kaget. Ternyata, pohon mangga yang selama ini mereka pelihara menjadi salah satu sumber penyimpanan stok karbon. Bahkan sangat efektif dalam rangka menurunkan gas rumah kaca atau global warming.

Ketua Kelompok Tani Mukti Desa Jembarwangi, Inta Suminta menyatakan rasa bangganya dengan Kampung Mangga yang dikembangkan kelompok taninya. Bahkan dirinya tidak menyangka kalau Kampung Mangga ini mampu berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Inta mengaku, baru mengtahui kalau ternyata Kampung Mangga yang petani budidayakan bisa menjadi penyumbang dan menjaga stok karbon. “Jadi, kami bangga sekali bahwa kami mampu berperan untuk kepentingan dunia dalam menghadapi global warming,” katanya.

Saat berkunjung ke Kampung Mangga di Desa Jembarwangi, Kabupaten Sumedang, Koordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam Direktorat Perlindungan Hortikultura, M. Agung Sunusi mengungkapkan bahwa buah-buahan tahunan seperti mangga ternyata mampu menyimpan stok karbon.

Pengembangan Kampung Mangga ini mampu memberikan sumbangsih yang cukup signifikan bagi penurunan gas rumah kaca. Artinya, semakin banyak Kampung Mangga yang dikembangkan di Indonesia, penyimpanan stok karbon akan lebih banyak dan mampu menjaga kelestarian lingkungan.

“Jadi, pengembangan Kampung Mangga tidak hanya memiliki nilai ekonomis tetapi juga menguntungkan bagi lingkungan sekitar kita,” jelas Agung.

Kampung Mangga di Desa Jembarwangi ini mempunyai hamparan seluas 200 ha dan ditanami dengan tiga varietas mangga, yaitu Gedong Gincu, Harum Manis, dan Cengkir. Dari ketiga varietas ini, yang paling mendominasi adalah varietas Gedong Gincu.

Agung menambahkan, selain mangga, buah manggis,  jeruk, nangka, sukun, alpukat, dan durian juga mampu menghasilkan stok karbon. Namun, berdasarkan riset dan pengukuran yang dilakukan oleh timnya, mangga memberikan carbon stok yang paling besar karena lingkar batang dan diameternya lebih besar.

“Dari segi pengukuran, mangga ini sumbangsihnya sangat besar. Karenanya, kami datang ke sini untuk melihat sampai sejauh mana implementasinya di Kampung Mangga Sumedang. Kabupaten Sumedang juga patut berbangga hati karena Kampung Mangga ini akan mampu menjadi paru-paru dunia,” tutur Agung.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari menjelaskan, secara alami, tumbuhan diberi kemampuan mengonsumsi karbondioksida di atmosfer dan mengubahnya menjadi bentuk energi yang bermanfaat bagi kehidupan melalui fotosintesis. Sebagian besar energi ini disimpan tumbuhan dalam bentuk biomassa dan sekitar 50 persen dari biomassa merupakan karbon.

"Direktorat Perlindungan Hortikultura telah melakukan pengukuran carbon stok untuk buah tahunan. Diantaranya adalah mangga, manggis, durian, jeruk, alpukat dan nangka. Dari hasil pengukuran tersebut, komoditas mangga memiliki nilai carbon stok yang paling tinggi," ungkap Inti.

Terkait program Kampung Hortikultura ini, Kaprodi Pascasarjana Klimatologi Terapan IPB University, I Putu Santikayasa turut menyampaikan apresiasinya terhadap program Kampung Hortikultura yang telah menggunakan tanaman-tanaman buah tahunan.

Menurut Santikayasa, pengembangan Kampung Hortikultura dengan tanaman buah tahunan ini akan memberikan kontribusi terhadap mitigasi dampak perubahan iklim dengan menurunkan gas emisi rumah kaca.

“Tanaman buah tahunan pada Kampung Hortikultura mampu menyerap emisi karbon yang ada di atmosfer. Program ini juga mendukung program pemerintah lainnya dalam perubahan iklim, khususnya mitigasi perubahan iklim dengan menurunkan gas emisi rumah kaca,” jelasnya.

Dalam mengembangkan program prioritas Kampung Hortikultura, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menerapkan pertanian yang ramah lingkungan. Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebagai langkah antisipatif dalam menghadapi tantangan pangan yang kian kompleks akibat dampak perubahan iklim.

“Arahan dari Bapak Menteri Pertanian adalah kita harus melakukan tindakan terhadap dampak perubahan iklim yang berpotensi menimbulkan ancaman kekeringan dan krisis pangan global. Namun, kondisi ini juga dapat menjadi peluang karena banyak kegiatan pertanian yang mampu mengurangi emisi gas karbon,” ujar Prihasto.

Reporter : Julian
Sumber : Ditjen Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018