Monday, 16 March 2026


Kerjasama dengan Korsel, Tiga Wilayah jadi Lokasi Smart Farming

18 Oct 2022, 08:58 WIBEditor : Yulianto

Petani tomat di Malang

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Beberapa wilayah di Jawa Timur bakal menjadi lokasi pengembangan smart farming yang bekerjasama antara Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dengan Pemerintah Korea Selatan.

Untuk menindaklanjuti rencana tersebut, Director of international Cooperation Department of Korean Agency of Education, Promotion and Information Service in Food, Agriculture, Forestry and Fisheries (EPIS), melalui Action Officer (PAO), Han Hyuk Joo melakukan Baseline Study melihat perkembangan smart farming di Indonesia.

Penyusunan Baseline Study untuk melihat kondisi awal petani sebelum pelaksanaan proyek Enhancing Millenial Farmers Income (EMFI) by Adopting K-SMART di Indonesia. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan mengunjungi beberapa wilayah kerja Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan yang memiliki potensi pengembangan tomat dan paprika. Ada tiga wilayah yang bakal menjadi lokasi, Kabupaten Pasuruan, Kota Batu dan Kabupaten Malang.

Pada 8 – 10 September 2022 lalu, PAO Korea Selatan dan Widyaiswara dari BBPP Ketindan menengok pertanaman tomat di lahan terbuka di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan salah satu sentra pengembangan tomat di Kabupaten Malang.

“Belum ada petani yang menanam paprika di wilayah Kabupaten Malang apalagi ditanam di Green House, ungkap Saikoni Koordinator Penyuluh Pertanian di Kabupaten Malang. Selain itu, lanjutnya, tomat juga masih ditanam di lahan terbuka, karena wilayah Malang masih memiliki potensi lahan yang cukup luas.

Sementara itu,  Kepala Dinas TPHP Malang, Avicenna  mengatakan, pihaknya menyambut baik kerjasama Pemerintah Korea Selatan, BBPP Ketindan dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan di Kabupaten Malang. “Harapan kami kegiatan smart farming ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Malang khususnya petani tomat,” ujarnya.

Metode kegiatan Baseline Study ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan petani seputar kegiatan budidaya dan analisis usahataninya. Selanjutnya dilakukan observasi lapangan di lahan untuk melihat kondisi tanaman dan penerapan teknologi yang dilakukan petani.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi bersama beberapa orang petani, diperoleh informasi bahwa rata-rata petani masih menerapkan teknologi secara konvensional. Selain itu, banyak petani mengandalkan bahan kimia sebagai solusi utama dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Sementara itu, informasi dari petani rata-rata biaya produksi budidaya tomat Rp. 2.000 – 3.500 pertanaman sesuai dengan luas tanam. Sebenarnya biaya usahatani tomat dapat ditekan lebih rendah karena mulsa dan ajir dapat digunakan hingga 3 kali musim tanam.

Rata-rata pendapatan petani tomat tidap musim sangat tergantung dari harga yang diterima petani saat panen. Jika, petani memperoleh harga tinggi, maka mereka dapat memperoleh keuntungan yang signifikan.

Berdasarkan informasi petani dan penyuluh pertanian di lapangan, pada musim tanam lalu harga tomat cenderung sangat fluktuatif. Harga tinggi terjadi antara Mei – Juni 2022 yaitu sekitar Rp. 6.000-12.000/kg karena momen hari raya. Namun setelah itu harga tomat cenderung turun drastis.

Bahkan hingga minggu kedua September, harga tomat di tingkat petani hanya Rp. 800/kg.  Guna mengatasi rendahnya harga tersebut, petani melakukan strategi dengan budidaya tanaman tumpangsari agar memperoleh nilai tambah melalui optimalisasi lahan dalam kegiatan usahataninya.

Realita di lapangan, banyak petani yang masih belum diuntungkan dari usahataninya, karena harga di pasar tidak stabil dan keuntungan lebih banyak dinikmati pedagang. Ditambah lagi lemahnya pencatatan keuangan usahatani yang mengakibatkan ketidakpastian pendapatan petani tiap bulan.

Untuk itu, perlu adanya literasi dan edukasi keuangan bagi rumah tangga petani agar dapat membiasakan diri untuk mencatat, baik keuangan rumah tangga maupun keuangan usahatani. Selain itu, perlu adanya kegiatan peningkatan nilai tambah melalui olahan tomat agar petani dapat meningkatkan kesejahtaraan petani dan keluarganya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, ke depan Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pertanian yang konvensional namun harus menggunakan smart farming dan digitalisasi. Salah satu negara yang sudah eksis dalam pengembangan smart farming adalah Negeri Ginseng Korea Selatan.

Karena itu petani Indonesia khususnya petani milenial perlu dikenalkan dan ditingkatkan kapasitasnya sehingga dapat mengadopsi teknologi pertanian yang lebih modern dan dapat bersaing di pasar global.

Sementara itu Kepala BPPSDMP, Dedy Nursyamsi mengatakan, di era moden ini kita tidak bisa terlepas dari penerapan terknologi. Sudah saatnya kita tinggalkan cara-cara lama dan menggunakan cara-cara baru yang berbasis internet of things.

Reporter : Nining Hariyani/ Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018