
Petani memetik cabai.
TABLOIDSINARTANI.COM, Palangka Raya---Sambal atau cabai tak bisa lepas dari masyarakat nusantara, bahkan tanpa cabai ibarat makan tanpa garam. Menu masakan dengan bumbu cabai memang sudah menjadi bagian gaya hidup bangsa Indonesia. Masakan pedas sudah menjadi ciri khas masyarakat yang terlihat dari setiap sajian selalu didampingi cabe/sambal.
Karena itulah, permintaan cabai terus meningkat secara signifikan, meski penggunaannya dalam setiap menu tak banyak. Persoalannya, kondisi naiknya harga cabai yang kerap terjadi menjadi permasalahan tersendiri bagi pemerintah. Seperti pada Juni 2022, lonjakan harga cabai sebesar 0,17% (month to month/mtm), cabai rawit sebesar 0,11% (mtm), bawang merah sebesar 0,08% (mtm) menjadi penyumbang inflasi.
Seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah, selama periode Juni-Nopember 2022. Akibat lonjakan harga cabai membuat inflasi naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah pada September 2022 lalu mencatat ada dua kota yang kenaikannya sangat signifikan yakni Kota Palangka Raya dan Kabupaten Sampit dengan inflasi sebesar 1,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,23 di provinsi setempat.
Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro mengatakan, terjadinya inflasi di provinsi ini karena adanya kenaikan indeks kelompok transportasi (7,45 persen), dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,85 persen). "Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga naik 0,59 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sekitar0,34 persen," ucapnya.
Ada beberapa komoditas lain yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi di Kota Palangka Raya. Diantaranya, bensin, beras, pasir, bahan bakar rumah tangga, kacang panjang, pisang, mie kering instant, angkutan antar kota, tarif kendaraan travel, dan daging ayam ras.
"Untuk komoditas yang mengalami penurunan harga dan memperlambat laju inflasi di Palangka Raya antara lain: angkutan udara, bawang merah, tomat, semangka, minyak goreng, ikan gabus, cabai rawit, telepon seluler, gula pasir, dan tahu mentah," ucap Eko.
Gertam Babe
Sebagai upaya menekan inflasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Gerakan Tanam Bawang Merah dan Cabai (Gertam Babe) Berkah seluas 30 ha. Salah satunya di Jalan Tjilik Riwut Km 38 Kota Palangka Raya. Acara tersebut langsung dipimpin Gubernur Kalteng, H. Sugianto Sabran dan didampingi Wakil Gubernur Kalteng, H. Edy Pratowo, Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, serta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Prov. Kalteng Hj. Sunarti.
Sunarti menyatakan, lahan pengembangan Gertam Babe yang disediakan seluas 50 ha. Namun sementara ini yang digunakan dalam penanaman bawang merah dan cabai masih sekitar 30 ha. "Karena yang 20 ha sudah ada kandang ayam dan sayuran lainnya seperti tomat, terong, dan daun bawang," ujarnya seraya menambahkan, dalam 1 ha lahan bisa ditanami 15 ribu bibit cabai.
Sugianto Sabran mengatakan, penanaman bawang dan cabai ini hanya program jangka pendek dan menengah. Namun, pihaknya ke depan akan dioptimalkan menjadi jangka panjang. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas harga Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting (Bapokting) di pasaran dan menekan laju inflasi daerah, Pemprov. Kalteng
"Selain program tanam cabai dan bawang ini, untuk jangka yang lebih panjang dan terstruktur, saya instruksikan kepada Bupati/Wali Kota agar menganggarkan secara khusus untuk ketahanan pangan di masing-masing daerah. Kita harus belajar dari inflasi yang terjadi saat ini, harus tau langkah-langkah yang dilakukan,” ucap Sugianto.
Salah satu komoditas yang mengalami penurunan harga yakni cabai rawit. Hal ini karena sudah banyak petani yang menanam cabai di Kota Palangka Raya. Data BPS pada Oktober 2022 beberapa kecamatan produks cabai mengalami kenaikan. Paling tinggi terdapat di Kecamatan Bukit Batu sebanyak 2.269 kwintal, Kecamatan Sebangau 44 kw, Kecamatan Jekan Raya 30 kw, Kecamatan Pahandut 20 kw. Total produksi cabai rawit di Kota Palangka Raya pada Oktober 2.696 kwintal.
Salah satunya petani mandiri dari Kelurahah Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya, Iwan mengatakan, dirinya sudah bertanam cabai 4 tahun mengguakan varietas ORI 212 dan hasilnya sangat memuaskan. Saat ini tanamannya sudah berumur 70 hari dan sudah panen sebanyak 7 kali. Dalam satu kali panen hasil yang didapat bisa mencapai 70 kg. “Saya selalu menggunakan ORI 212 karena buahnya melimpah dan alhamdulillah sampai saat ini jarang terserang hama maupun penyakit,” ucap Iwan saat ditemui di lahan miliknya seluas 0,25 ha.
BPS mencatat ada sejumlah barang yang turun harga di tengah lonjakan inflasi yang tembus 5,95 persen (yoy) pada September 2022. Kepala BPS Margo Yuwono menyebutkan komoditas yang turun harga yaitu bawang merah, cabai merah hingga ikan segar.
Penurunan harga tersebut memberikan andil ke deflasi sebesar 0,08 persen pada kelompok makanan, minuman dan tembakau pada bulan lalu. "Kalau dilihat komoditas yang mengalami deflasi dan memberikan andil kepada deflasi di September, diantaranya adalah bawang merah, cabai merah, minyak goreng, tomat, cabai rawit, dan ikan segar," ujarnya.