Sunday, 24 October 2021


Perang Gerilya Diversifikasi Pangan

14 Oct 2021, 12:22 WIBEditor : Yulianto

Talkshow diversifikasi pangan | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih didominasi satu komoditas yakni beras. Bahkan terjadi pergeseran ke produk terigu dan turunan. Kombinasi beras dan terigu tersebut hampir terjadi di seluruh Tanah Air.

Kondisi tersebut jika dibiarkan, maka akan menjadi masalah besar dalam mewujudkan kemandirian pangan.  Ibaratnya, kini terjadi perang antara pangan lokal dengan pangan berbahan baku impor. Namun perlu strategi jitu dari pangan lokal untuk memenangkan perang tersebut.

“Upaya percepatan diversifikasi pangan harus digencarkan dengan meningkatkan produksi dan mendorong pertumbuhan konsumsi pangan lokal,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Sarwo Edhy di Jakarta, Kamis (14/10).

Saat Talk Show Diversifikasi Pangan Lokal, Biasakan Makan Beragam dari Keluarga yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Badan Ketahanan Pangan, Sarwo mengatakan, pekerjaan rumah (PR)-nya saat ini adalah menggerakkan UMKM hilir untuk memproduksi pangan lokal guna memenuhi permintaan.

Indonesia sendiri memiliki setidaknya 73 komoditas pangan lokal sumber karbohidrat, seperti jagung, talas, pisang, kentang, hanjeli, sorgum, ganyong dan jenis pangan lainnya. Dengan potensi tersebut, menurut Sarwo, diversifikasi pangan lokal sangat mungkin dilakukan mengingat banyaknya potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan Indoneisa.

“Sebagian besar pangan lokal sebenarnya telah lazim dikonsumsi masyarakat, namun memnag belum termanfaatkan secara optimal,” ujarnya. Untuk itu, Sarwo berharap, dapat disosialisasikan ke masyarakat Indonesia melalui kepala dinas di tingkat kabupaten dan provinsi melalui UMKM yang bergerak di hilir.

“Ini untuk memberikan pemahaman masyarakat bahwa kenyang tidak harus dari nasi,” ujarnya. Dengan demikian, dapat menurunkan konsumsi pangan pokok yang fokus hanya satu jenis yakni beras.

Mengubah Persepsi

Sarwo mengakui, tantangan mengubah konsumsi memang tidak mudah. Sebab harus mengubah budaya, kebiasaan dan habitat selama ini. Karena itu harus ada startegi diverisifikasi pangan lokal yang paralel. Pertama, peningkatan produksi pangan lokal. Kedua, promosi, kampanye, baik secara formal dan Informal.

Ketiga, memperbaiki akses terhadap pangan lokal dengan cara menguatkan UMKM dan membuka aksee ke pasar off line mauapu pasar online (digital marketing). “Perlu dilakukan kampanye, edukasi dan promosi lebih masfi untuk mendukung diverisifikasi pangan, termasuk di media masaa,” katanya.

Sementara itu Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan BKP, Yasid Taufik mengakui, pentingnya sosialisasi pangan lokal, terutama bagaimana mengubah persepsi keluarga terhadap makan. “Sekarang secara umum persepsinya tidak makan nasi, berarti tidak makan,” tegasnya.

Untuk itu menurut Yasid, bagaimana mengubah persepsi pangan lokal yang inferior menjadi superior. Sebab, saat ini masyarakat Indonesia sudah terjebak pada pangan berbahan baku impor yakni gandum dan produk turunannya.

Karenanya dalam ‘perang’ diversifikasi pangan, peran PKK menjadi sangat penting dalam mengubah persepsi tersebut. Melalui PKK nantinya menjadi penetrasi pangan lokal ke keluarga. “Jika pangan berbahan baku terigu menggunakan alat yang canggih,maka kita harus melakukan dengan gerilya. Nah, peran PKK sangat penting, karena akan getok tular,” katanya.

Hal ini menurut Yasid menjadi tantangan diversifikasi pangan. Sebab, kampanye tanpa penetrasi akan sulit. Jadi dalam perang gerilya diversifikasi pangan sasarannya adalah keluarga. Konteks jenis pangannya pun berbeda tiap daerah.

Sementara itu, ahli gizi IPB Yulina Eva Riany menilai kampanye diversifikasi pangan lokal sudah cukup lama. Namun diakui untuk mengubah persepei masyarakat tidak mudah, karena banyak faktor yang mempengaruhi, baik internal maupun eksternal.

Faktor internail berkaitan gengsi dan pengetahuan gizi masyarakat. Sedangkan faktor eksternal adalah produksi dan ketersediaan. Dari sisi budaya, pangan lokal dipersepsikan sebagai pangan yang tidak bergengsi dan makanan orang dulu. “Ada pegerseran budaya yang membuat masyarakat tidak familiar dengan pangan lokal,” ujarnya.

Sedangkan dari sisi sosial menurut Yulina, anak muda lebih menyukai makanan yang sedang viral, bahkan mengalahkan pangan lokal. Sementara sisi keluarga juga sangat mempengaruhi. Jika sejak kecil sudah terbiasa makan nasi, maka ketika dewasa persepsinya makan adalah nasi.

Karena itu pernan orang tua, bukan hanya ibu rumah tangga tapi juga kaum bapak sangat mempengaruhi anak-anak dalam mengonsumsi pangan. Jadi pembiasaan makan sejak dini, terutama kebiasaan makanan keluarga akan berpengaruh.

“Jadi strategi mengubah persepsi adalah kita melibatkan anak anak. Orang tua yang memberikan pilihan makanan, bukan menyerahkan pilihan kepada anak-anak,” tuturnya. Karena itu, peran Pemda melalui PKK sangat startegi dalam mengubah persepsi pangan. Bagiaman PKK di DKI Jakarta dan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah? Ikuti link Youtube SINTATV.

LINK SERTIFIKAt : SERTIFIKAT TALKSHOW DIVERSIFIKASI PANGAN

LINK SINTA TV : SIARAN SINTA TV

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018