Saturday, 22 February 2020


Virus Hebat Budaya Global Petani Gunungkidul

24 Jan 2020, 17:36 WIBEditor : Ahmad Soim

Kayu Jati Gunungkidul | Sumber Foto:Dok

Bahkan ada salah satu desa di dekat Kecamatan Prambanan tanaman jati liarnya sudah ditawar (“borong”) sekitar RP 750 juta, hampir senilai dana desa per tahun, RP 1 milyar.

 

Oleh Dr IR Tri Pranadji, MSI, APU - peneliti di Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Inilah pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan kehidupan petani. Yakni, ketika pada pertengahan tahun1982, Dr. Ir, Hidajat Nataatmadja, sebagai Pembimbing, menugaskan saya untuk terlibat dalam tim Penelitian di PAE,   terjun meneliti langsung ke kehidupan petani di Gunungkidul.

Fasilitas ini saya manfaatkan untuk menyelesaikan tugas pendidikan akhir saya di Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Ini sekligus juga sebagai langkah pertama saya memasuki dunia penelitian pertanian yang sebelumnya belum pernah saya bayangkan, yang sekitar 10 tahun  kemudian (1992-1995) saya sudah harus menjadi peneliti senior (Ahli Peneliti Utama) di Pusat Sosial Ekonomi Pertanian, sebelum mengijak usia 37 tahun.

Dalam sebuah wawancara dengan petani di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, saya menanyakan petani bernama Sopawiro. Ibaratnya sebagai seorang investigator saya melakukan investigasi pada petani tanpa harus tahu (“empaty”), “Apakah petani tersebut suka atau tidak suksa”. Pendeknya petani harus mau menjawab pertanyaan-petanyaan yang saya lontarkan. Tidak terbayangkan oleh saya bahwa itulah saat paling berharga saya bahwa saya  harus berusaha memahami kehidupan petani di pedesaan.

Dengan pedoman sebuah Daftar Pertanyaan tertutup atau Kiesioner, sampailah saya pada pertanyaan: “Jenis tanaman  apa saja yang Bapak tanam di lahan pekarangan? Ini pak?”Jawab petani. Saya menanaminya dengan pohon jati dan tanaman buah-buahan. Mengingat sudah “akrab” dengan petani, pertanyaan jadi lebih rileks dan mendalam.   “Manfaat apa yang akan Bapak dapatkan dari jenis tanaman tersebut?” Jawab petani: Begini pak, tanaman pohon jati nanti (15-20 tahun lagi) rencananya akan saya jadikan sokoguru untuk rumah saya; mumpung sekarang tidak dilarang lagi menaam pohon jati; sedangkan tanaman buah-buahan  adalah agar anak-anak tidak ‘jajan’ buah-buahan lagi di pasar. Dari tanaman ini juga dapat dihasilkan kayu bakar untuk masak di rumah.  Selagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bisa produksi atau hasilkan sendri, sebaiknya kita tidak usah membeli atau keluar uang. Selain itu pak, jika tanaman pohon-pohonan sudah besar, mereka sudah bisa hidup sendiri tanpa harus banyak dibantu petani; berbeda dengan tanaman semusim pak, Selagi tidak sibuk di tanaman semusim, kita bisa cari uang di kota pak, sementara itu tanaman pepohonan tetap bisa terus tumbuh dan berkembang.

Logika hidup seperti ini bukan hanya logika sorang petani (bernama Sopawiro) di Gununkidul, melainkan logika budaya hidup agraris petani kecil di lahan kering  yang agak marjinal di Gunngkidul. “Apa yang salah dengan logika budaya agraris seperti itu?”

Mungkin kita bisa berandi-andai bahwa “Apa petani  tidak sebaiknya justeru bisa meperbanyak jam kerja di kota untuk kumpulkan uang, ditabung dan beli kayu untuk bangun atau perbaiki rumah?”sebagaimana logikanya kaum TKI yang bekerja di luar negeri?”

20-30 Tahun Kemudian

Paling tidak ada 2 (dua) momen penting yang saya harus berkunjung kembali ke Gunungkidul; pertama, dalam ranga penelitian unuk menyusun Disertasi, kedua, tugas dinas penelitian perubahan iklim.

Pada momen pertama, awal 2000-an, saya sungguh terkejut bahwa Gunungkidul yang semula dikenal cedhak watu (dekat batu) sekarang menjadi cedhak ratu; ekonomi yang semula relatif susah menjadi relatif mudah. Ekosistem yang semula didominasi lahan kering agak marjinal menjadi ekologi hutan jati yang relatif subur.  Hampir dapat dikatakan bahwa tiada penggalan lahan kering yang tidak tertanami pepohonan, terutama pohon jati. Di tengah belantara hutan jati, petani bisa membuat sumur untuk mengairi tnaman bahan pakan, dan usahatani tanaman semusim, termasuk tanaman hortikultura. Yang hampir pasti bahwa dahulu Gunngkidul dikenal sebagai lumbung ubikayu karena tandus, saat ini Gunngkidul telah menjadi “mutiara baru” dari “selatan’ yang subur, banyak air, dan menghIdupi.

Sebagai ilustrasi, saya ditunjukkan oleh seorang petani di Kecamatan Playen bahwa untuk membayar ongkos Naik Haji (ONH),pada tahun 2000-an seorang petani di Kecamatan Playen cukup menebang sebuah pohon jati seharga sekitar Rp 65 juta, padahal ia mempunyai sejumah pohon jati yang siap tebang. Bahkan beberapa petani di Kecamatan Ngawen mengatakan bahwa dari Gunungkidul siap memenuhi kebutuhan daging sapi se Jabodetabek, karena pupulasi sapi dan penyedian pakan di Gunngkidul cukup memadai. Dengan harga sesuai pasar internasional.

Saat ini Gunugkidul merupakan daerah pertanian maju dan seakan-akan anti kekeringan di musim kemara. Virus hutan jati dari Gunungkidul ini telah mewabahi ke daerah utara, timur, dan Kabupaten Klaten, Surakarta telah terimbasi virus jati Gunungkidul ini. Bahkan ada salah satu desa di dekat Kecamatan Prambanan tanaman jati liarnya sudah ditawar (“borong”) sekitar RP 750 juta (hampir senilai dana desa per tahun, RP 1 milyar). Kalau daerah Kabupaten Gunungkidul hampir keseluruhan telah terinfeksi”virus “pohon jati.

Di balik kesuksesan “global petani Guungkidul, menurut Pranadji (2006) terdapat modal sosial budaya yang kuat. Kekuatan inilah yang diserap oleh Bapak Sopawiro menjadi ‘energy besar’ untuk menghijaukan Gunungkidul dan sekitarnya dengan hutan jati dan tanaman pepohonan lain,

Ada seorang penduduk Desa Kedungpoh yang mencoba menekuni pembuatan mebel dan peralatan rumahtangga dari kayu jati, satu kegiatan ekonomi kreatif yang ditumbuhkan oleh  berkembangnya hutan jati, suatu indikasi transformasi dari ekonomi agraris ke ekonomi kreatif di pedesaan.

Salah Besar

Adalah ‘salah besar’ jika sorang peneliti atau pejabat pemerintah menganggap bahwa petani adalah makhluk dungu. Tidak rasional, tidak bervisi ke depan, dan hanya mengikuti maunya sendiri Pendapat itu bisa muncul karena kita tidak kritis dan tidak mau menggali seluk beluk kehidupan petani.  Untuk itu, memang butuh waktu dan ihtiyar yang kreatif.

Saya merasa beruntung ketika Dr Ir Hdajat Nataatmadja tanpa sengaja mempertemukan saya dengan sorang petani bernama sopawiro. Pak Sopawiro merupakan contoh seorang petani yang cukup cerdas, mepunyai visi ke depan yang bagus, dan juga petani yang rasional dan kreatif. Seakan-akan di tangannyalah kemajuan Pertanian itu berada. Ia rela jika harus bersabar untuk mewujudkan visinya, yaitu menanam sebuah pohon jati untuk membangun sokoguru rumahnya, menungguinya hingga siap ditebang atau ia pungut hasilnya. Ia juga tidak tergiur mengumpulkan uang untuk mengejar kebutuhan rumah tangganya. Namun, ia pun cukup sabar untuk menahan diri agar pengeluaran rumah tangganya tidak membuatnya menjadi”bangkrut”. Selagi ia bisa memenuhi dari hasil kerjanya mengapa pula jika harus membeli yang berarti pengeluaran rumah tangganya  harus bertambah?”,

Bogor, 24 Januari 2020

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018