Thursday, 02 July 2020


Lakukan Ini, Hindarkan Padi Keracunan Besi di Lahan Rawa

10 Jun 2020, 14:36 WIBEditor : Gesha

Irigasi berselang | Sumber Foto:istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru --- Saat musim kemarau, pertanaman padi lahan rawa sangat beresiko dengan dengan keracunan zat besi (ferrum). Langkah seperti apa yang bisa dilakukan petani untuk menghindarkan resiko tersebut?

"Pada musim kemarau terjadi pemasaman air yang tinggi, pengurangan (reduksi) air yang tinggi dan remineralisasi kandungan besi (fe) serta daya oksidasi dari fe yang rendah," ungkap peneliti utama dari Balai Penelitian Tanaman Rawa (Balittra), Prof. Dr. Masganti dalam Webinar Intensifikasi Pertanian Berkelanjutan Dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa, Selasa (9/6).

Mengapa keracunan zat besi sangat berbahaya bagi tanaman padi?Prof Masganti menjelaskan bahwa keracunan zat besi ini bisa membuat tanaman padi pertumbuhannya terhambat sehingga menurunkan produktivitasnya antara 30% sampai 90 persen. "Semua itu tergantung pada kualitas ketahanan varietas padi tersebut, fase keracunannya hingga usia dari pertanaman," tambahnya.

Meskipun beberapa tanaman padi memiliki kemampuan toleransi Fe di bagian tertentu. "Ada yang bersifat excluder yaitu menahan Fe di akar, ada pula yang bersifat includer yaitu menahan Fe di daun," jelasnya.

Lantas bagaimanakah cara pengendalian keracunan besi ini?Prof Masganti menjelaskan setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan. Mulai dari pengelolaan lingkungan tumbuh dan pengelolaan toleransi tanaman itu sendiri. "Apabila ingin bertanam padi di lahan rawa, lakukan tanam setelah 2 minggu lahan digenangi agar konsentrasi Fe rendah," tuturnya.

Pengelolan Air

Setidaknya ada tiga pengaplikasian yang bisa dilakukan petani untuk menghindari keracunan besi. Mulai dari pengelolaan air, ameliorasi hingga pemupukan. "Keracunan besi lebih besar pada lahan daerah yang menurun kearah hilir sehingga membuat air terperangkap. Satu-satunya jalan adalah dengan melancarkan drainasenya," jelas Prof. Masganti.

Karena itu, disarankan untuk petani mengelola air dengan benar sehingga produktivitas bisa ditingkatkan dan efisiensi pemupukan lebih meningkat serta di satu sisibiaya produksi menurun.

Prof Masganti menjelaskan ada 5 cara pengelolaan air untuk menghindari tanaman padi dari keracunan besi. Mulai dari Sistem Irigasi Berselang (Intermittent) setiap satu minggu, Sistem Irigasi Berselang (Intermittent) setiap satu minggu vs dua minggu, Sistem Irigasi Berselang (Intermittent) setiap dua minggu, Saluran Cacing dan Pelindian.

"Irigasinya diseling, satu minggu atau dua minggu dimasukkan airnya kemudian dikeringkan. Kalau untuk Intermittent dua minggu ini cocok untuk tipe luapan B," tambah Prof Masganti.

Kemudian cara kedua adalah dengan cara ameliorasi yaitu upaya pembenahan kesuburan lahan melalui penambahan bahan-bahan tertentu, seperti bahan organik, anorganik, maupun kombinasi dari keduanya. "Kapur lebih bagus untuk menurunkan kadar Fe di tanah," tuturnya.

Cara ketiga adalah dengan pemupukan. Namun Prof. Masganti menekankan perlu petani kekurangan zat hara apa. Umumnya keracunan zat besi karena dipicu kekurangan zat hara yaitu kalsium, fosfat dan kalium. "Selama ini kan pemberian pupuk Kalium hanya dilakukan 1 kali saja. Namun sekarang harus bertahap dilakukan yaitu pada umur 4 minggu kemudian diulang di umur 7 atau 8 minggu," jelasnya.

Prof Masganti juga menekankan jika di lahan rawa pasang surut dengan tipe luapan A dan B yang sering terjadi pasang besar maka pemupukan ini harus memperhitungkan kapan pasang besar terjadi. Jika tidak, pupuk akan terbawa arus pasang.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018