Saturday, 15 August 2020


Melongok Tata Kelola Kampung Berbasis Urban Farming di Bogor

26 Jul 2020, 19:02 WIBEditor : Gesha

Komunitas hidroponik Kota Bogor | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Urban Farming sebenarnya bisa diatur dengan indah bahkan kian mempercantik tata kota jika dilakukan dengan serius oleh pemerintah daerah (Pemda). Salah satunya adalah Babakan Sumantri di Kelurahan Pasir Kuda, Bogor Barat, Kota Bogor 

Dalam ilmu arsitektur, konsep Urban Farming berasal dari akar pemikiran yang sama dengan Arsitektur Hijau, namun penerapannya lebih mendalam. Urban Farming mengkombinasikan Arsitektur Hijau dengan pertanian dan menerapkannya di area perkotaan. Desain arsitektur Landsekap sendiri memadukan antara manusia dengan lingkungan agar lebih fungsional dan estetik dan keduanya menjadi lebih berkelanjutan jika penerapannya benar.

Tata kelola perkotaan akan menjadi berkelanjutan jika memperhatikan konsep arsitektur Landsekap yang memadukan ketiga hal tersebut, termasuk konsep urban farming. Karena itu diperlukan konsep desain arsitektur Landsekap yang bisa mengakomodasi urban farming dalam tata kota agar menjadi indah.

"Desain yang pernah saya lakukan misalnya di Babakan Sukamantri RW 7, Kelurahan Pasir Kuda, Kecamatan Bogor Barat. Kami menamakannya Basuhiles  atau Babakan Sukamantri Hijau Lestari," ungkap Dosen Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Andrianto Kusumarto.

Bagaimana konsep ini dibuat?Andrianto menuturkan masyarakat atau stakeholder harus mengetahui potensi positif maupun negatif di wilayah tersebut. "Kemudian buat konsepnya dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, LSM dan asosiasi profesi, serta swasta, “ kata Andrianto.

Andrianto sendiri mendata, Babakan Sumantri memiliki banyak potensi positif, mulai dari banyak ruang-ruang di permukiman tersebut yang dapat dibuat sebagai Urban Farming, terdapat bank sampah yang sudah dikelola masyarakat, termasuk potensi sosial berupa peternakan sapi perah dan kambing yang bisa diolah menjadi produk olahan dengan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun begitu, dirinya juga tidak menampik adanya potensi negatif dari pertumbuhan penduduk di Babakan Sumantri ini. Mulai dari turap yang ada di sepanjang Sempadan sungai masih dimanfaatkan masyarakat sebagai pondasi rumah, Sempadan sungai yang semestinya sebagai jalur hijau dan tempat  bersosialisasi dan tertutup aksesnya ke tepi sungai, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan  terutama di sungai.

Karena itu, dalam perancangannya Basuhiles dibuat dengan kampung tematik berkelanjutan, pemanfaatan lahan sempit dan optimalisasi pekarangan rumah guna kepentingan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi. 

Dan terbentuklah “Basuhiles Hijau”yang terdiri dari Kampung Taman Bunga Hias dan Obat –obatan, Kampung  Hidroponik, Kampung Tabulampot (kompos), Kampung Vertikultur, dan Kampung Taman Welcome Area.

Sedangkan “Basuhiles Lestari” terdiri dari Pengelolaan Bank Sampah dan Kompos, Pengembangan Biofori, dan Pelatihan Warga dan Tamu.

"Kita buat pemetaannya dengan layout batas Babakan Sumantri, dibuat area-area aktivitasnya. Bahkan pembagian RT-RT dan kegiatan warga dalam satu area Babakan Sumantri berdasarkan hasil pemetaan tersebut," bebernya.

Kini, penatan Basuhiles tersebut terus dilakukan sehingga nantinya Babakan Sumantri akan menjadi Kampung Tematik yang tak hanya mempercantik kota, melainkan pemberdayaan warga yang kurang mampu dan pelayanan prasarana publik kota secara berkeadilan.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018