Saturday, 24 October 2020


Inovasi MHI Dongkrak Produktivitas Padi Blitar

21 Sep 2020, 12:34 WIBEditor : Yulianto

Panen padi di Blitar menggunakan teknologi MHI | Sumber Foto:BBPP Ketinan

TABLOIDSINARTANI.COM, Blitar---Ancaman krisis pangan membuat pemerintah daerah juga tak boleh tinggal diam. Upaya meningkatkan produksi harus berjalan sama-sama antara pusat dan daerah. Inovasi teknologi pun diperlukan untuk mendongkrak produktivitas tanaman. Salah satunya Metode Hayati Indonesia (MHI).

Apalagi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) kerap meningatkan bahwa tantangan yang dihadapi pertanian saat ini adalah mencukupi pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.  “Kita harus memstikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air, baik ketersediaan barang pangan maupun ketersediaan akses untuk mendapatkannya,” ujarnya.

Bahkan SYL berharap seluruh penyuluh tetap sehat dalam kondisi Covid-19 ini agar bisa mendampingi petani untuk menggenjot produksi. “Sama-sama turun ke lapangan, sama-sama tanam, olah tanah, panen, mengolah hasil panen, mendistribusikan hasil panen, sehingga petani mendapat penghasilan yang layak,” tuturnya.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, untuk meningkatkan produksi padi, Dinas Pertanian  dan Pangan Kabupaten Blitar, Jawa Timur bersama petani yang tergabung dalam 22 Gapoktan Kecamatan dari 1922 Poktan yang tersebar di 22 kecamatan dan 248 desa/kelurahan untuk menggenjot produktivitas padi melalui Metode Hayati Indonesia (MHI).

MHI merupakan konsultan pertanian yang menerapkan sistem pertanian berkelanjutan, presisi dan terintegrasi. Ninik Dwi Handayani, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mengatakan, untuk percepatan peningkatan produktivitas padi, MHI menerapkan kombinasi teknologi Plant Growth Promothing Rhizobacteria (PGPR), Asam Hulmat, Asam Fulfat dan Asam Amino.

“Bahan bakunya tersedia melimpah di wilayah pedesaan, sehingga petani dapat memproduksinya sendiri agar biaya produksi usaha tani bisa rendah. Petani juga tidak banyak bergantung dengan pupuk kimia bersubsidi,” ujarnya.

Pandemi Covid 19 yang sampai saat masih belum usai, tidak menyurutkan semangat petani di Kabupaten Blitar, Jawa Timur untuk mengamankan stok pangan. Panen padi terus berlangsung di berbagai daerah di Blitar. Salah satunya di wilayah binaan Kostratani Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar yang tengah panen padi 80 ha dari total luas lahan 2.352 ha di Kecamatan Talun pada Sabtu (19/9).

Petani di Desa Sragi Kecamatan Talun Kabupaten Blitar yang tergabung dalam Poktan Among Kismo I melakukan panen padi menggunakan MHI. Panen padi ini dihadiri langsung Bupati Blitar, H. Rijanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Wawan Widianto, Asisten II Kabupaten Blitar dan Ketua BAPPEDA Kabupaten Blitar, serta Ketua Poktan Among Kismo I, Setyo Budiawan.

Bupati Blitar, H. Rijanto memberikan acungan jempol terhadap hasil panen padi yang bisa menembus 11,52 ton/ha untuk varietas Inpari 42, varietas Rojo Lele 9,28 ton/ha.  Hasil panen sebelumya diangka  5-6 ton/ha.

Inovasi ini patut dikembangkan tidak hanya di tujuh kecamatan di Kabupaten Blitar, tapi harus keseluruhan di 22 kecamatan se-kabupten Blitar,” ujar Bupati Blitar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar , Wawan Widianto mengatakan,  peningkatan produktivitas padi dari 6 ton/ha menjadi 12 ton/ha diperlukan komitmen yang disiplin dari petani dan pendampingan yang terus menerus dari penyuluh pertanian kepada kelompok tani. Dengan demikian, inovasi teknologi MHI dapat teradopsi dengan baik kepada seluruh petani di Kabupaten Blitar.

Percepatan yang dilakukan petani diharapkan bisa menjamin stok pangan ditengah ketakutan akan krisis pangan. Tantangan yang dihadapi pertanian saat ini adalah mencakup pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Upaya untuk menjaga ketersediaan pangan, Pemda Kabupaten Blitar terus melakukan percepatan tanam dengan target peningkatan produksi 12 ton/ha.  Tahun 2020 ini diawali di tujuh kecamatan. Ketujuh kecamatan tersebut merupakan wilayah sentra padi sepanjang musim. Total luas lahan sawah di Kabupaten Blitar sebanyak 31.976 ha, terdiri dari sawah irigasi 28.519 ha dan sawah tadah hujan 3.457 ha

Ketujuh kecamatan tersebut yakni, pertama, Kecamatan Wlingi di Kelurahan Klemunan bersama Poktan Mekarsari I. Kedua, Kecamatan Talun di Desa Sragi Poktan Among Kismo I. Ketiga, Kecamatan Selopuro Desa Tegalrejo  Potan Lestari I. Keempat, Kecamatan Doko di Desa Jambe Pawon Poktan Sri Dadi. Kelima, Kecamatan Sutojayan di Desa Bacem Poktan Manunggal Karso. Keenam, Kecamatan Kesamben di Desa Jugo Poktan Tani Makmur. Ketujuh, Kecamatan Gandusari di Desa Krisik Poktan Nuju Makmur V. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. Walau masih pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan,” tegasnya.

Reporter : Ninik Dwi H/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018