Sunday, 17 January 2021


Terapi Tanah dengan Dolomit, Produksi Terdongkrak

14 Dec 2020, 13:38 WIBEditor : GESHA

Penggunaan dolomit | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Tanah di Indonesia terus dipaksa untuk menghasilkan aneka pangan bagi masyarakat. Sayangnya, degradasi tanah kian tahun semakin parah akibat intensifikasi dan akhirnya berakibat pada produksi yang menurun. Padahal ada cara mudah untuk mengembalikan kesuburan tanah, salah satunya dengan terapi tanah menggunakan dolomit.

Ketua Umum Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Prof. Muhammad Syakir menerangkan Setiap tahun tanah Indonesia yang menjadi tumpuan sektor pertanian harus menyediakan 33-juta ton beras, 16-juta ton jagung, 2,2 juta ton kedelai, 2,8-juta gula serta 484-ribu ton daging sapi. Di sisi lain tanah Indonesia yang sebagian besar berada di wilayah tropis memiliki kelemahan yaitu bersifat masam karena mengalami pelapukan lanjut akibat curah hujan yang tinggi.

"Karena itu, tanah di Indonesia membutuhkan terapi untuk bisa tetap menopang produksi tersebut. Terapi tersebut,dengan pemberian dolomit. Cara itu yang konsisten dilakukan oleh negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand," ungkapnya.

Dolomit, merupakan jenis kapur yang di dalamnya juga mengandung magnesium alias Mg. Bagi ahli agronomi, magnesium dipahami sebagai inti penyusun klorofil yang bertanggung jawab pada proses fotosintesis yang berhubungan dengan produktivitas tanaman. “Peran Mg mirip dengan Fe pada hemoglobin penyusun darah manusia, bahkan susunan klorofil dan hemoglobin mirip. Bedanya hanya intinya saja,” kata Syakir.

Menurut Syakir, harga dolomit memang lebih tinggi dibanding kalsit yang juga merupakan kapur pertanian. Namun, bukan berarti dolomit tidak memungkinkan menjadi rekomendasi. “Di luar negeri kapur dolomit menjadi campuran pupuk majemuk NPK yang disubsidi pemerintah sehingga otomatis dipakai petani. Di sana NPK juga mengandung Ca dan Mg,” kata Syakir.

Di Indonesia, memang pupuk majemuk yang mengandung Ca dan Mg semakin langka. “Namun, posisi dolomit dapat disejajarkan dengan pupuk anorganik lain yang mendapat subsidi pemerintah karena perannya di tanah sangat vital,” kata Syakir.

Menurut Syakir, pH tanah di tanah sangat menentukan ketersediaan unsur hara. “Hampir semua unsur hara esensial baru dapat diserap tanaman bila tanah pada kondisi mendekati netral. Pada tanah yang masam, unsur hara bisa saja melimpah di tanah, tetapi tidak dapat diserap tanaman,” kata Syakir.

Tingkatkan Imun Tanaman

Mengutip Journal Agriculture Research, kemampuan dolomit memperbaiki kondisi tanah tidak dimiliki pupuk organik umumnya. Bahkan sebenarnya dolomit juga sudah bagian dari pupuk organik dan bukan pupuk kimia.

Dolomit bisa digunakan sebanyak 1 ton per hektar dan digunakan pada tanah yang sudah tidak subur lahi karena intensifnya penggunaan bahan kimia. Setelah penggunaan dolomit, bisa dilanjutkan dengan pupuk organik yaitu saat tanah akan mulai ditanami.

Dolomit bukan hanya memperbaiki kesuburan tanah, tapi juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama penyakit. Lahan pertanaman padi yang telah menggunakan dolomit ternyata tanaman padinya lebih tahan terhadap hama wereng batang coklat di Jawa. Jadi dolomit bukan hanya memperbaiki kesuburan tanah, tapi juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama penyakit.

Prof Syakir juga menghitung kebutuhan dolomit pada lahan bukaan baru yang ideal 4 ton/ha. Peningkatan kesuburan tanah tentu akan berbanding lurus dengan peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

Secara umum lahan bukaan baru dari lahan masam dan marginal kondisi tingkat keasaman tanah sekitar pH 4,0-5,0. Sedangkan umumnya tanaman membutuhkan kondisi keasaman yang ideal pada pH 6,0-6,5.

“Kesuburan yang rendah pada areal lahan baru mengakibatkan produktivitas hasil yang didapat juga sangat rendah, untuk lahan sawah kisaran 2,5-3 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG). Tingkat keasaman yang tinggi menjadi sebab kesuburannya rendah,” lanjutnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018