Sunday, 09 May 2021


Sesuaikan Unsur Hara, Rekomendasi Pupuk Berbeda Tiap Kecamatan

21 Apr 2021, 15:19 WIBEditor : Gesha

Penggunaan pupuk harus sesuai rekomendasi PUTS | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Guna efisiensi penggunaan pupuk, Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) telah mengeluarkan Buku Rekomendasi Pupuk N,P, dan K, spesifik lokasi untuk tanaman padi, jagung dan kedelai pada lahan sawah per kecamatan.

Penggunaan pupuk telah meningkat pesat setelah pencanangan program intensifikasi yang dimulai tahun 1969. Rekomendasi pemupukan padi sawah, sebelumnya bersifat umum untuk semua wilayah Indonesia tanpa mempertimbangkan status hara tanah dan kemampuan tanaman menyerap hara. Sementara sekarang telah diketahui bahwa status hara P dan K lahan sawah sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi.

Seperti yang diungkapkan peneliti senior dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Prof Irsal Laz dalam Focus Group Discussion (FGD) Rasionalisasi Aplikasi Pupuk dengan Teknologi Ramah Lingkungan dan 4.0, yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (21/4).

"Kita (Kementerian Pertanian) sampai tahun 2000 masih memberikan rekomendasi aplikasi pupuk secara umum. Tetapi semakin lama, peningkatan hasil yang didapatkan semakin lamban, sehingga harus dengan pendekatan spesifik lokasi per kecamatan dengan melihat unsur hara yang ada di daerah pertanian tersebut," tambahnya.

Dalam penyusunan tersebut, dilakukan pendekatan wilayah dan hierarki administrasi. "Kita pilih untuk menggunakan data per kecamatan sesuai dengan keterjangkauan riset dan ketersediaan data hara. Sehingga lahan pertanian yang berada dalam satu kecamatan menggunakan rekomendasi pupuk yang sama," tuturnya.

Diungkapkan Prof Irsal dari penelitian di tahun 2006, sebagian besar petani menggunakan pupuk sesuai kesepakatan/kebiasaan teman-teman petani itu sendiri. "Sebesar 25-40 persen petani menggunakan pupuk karena mengikuti petani lainnya atau kebiasaan setempat, yang mengikuti rekomendasi penyuluh atau kelompok taninya hanya 24-27 persen. Sedangkan sesuai bacaan Bagan Warna Daun (BWD) hanya 13 persen. Padahal dengan penggunaan BWD, pupuk N bisa efisien hingga 30 persen," bebernya.

Melihat kenyataan ini, Prof Irsal menuturkan perlu mendorong petani untuk bisa memanfaatkan tools seperti smart soil sensor yang membekali petugas lapangan/penyuluh. Agar mengetahui unsur hara dan rekomendasi pemupukan yang disarankan. 

Buku Rekomendasi

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) sendiri telah melakukan penelitian kondisi unsur hara yang ada di 23 Provinsi sentra pertanian padi jagung kedelai, dan didapatkan hasil di tahun 2017, dari 23 provinsi status P sedang sampai tinggi seluas 79 persen dan K sedang hingga tinggi seluas 80 persen, dengan luasan Sawah 7,5 juta hektar.

"Kita kemudian susun rekomendasi pemupukan per kecamatan berdasarkan unsur hara yang ada per kecamatan," tambah Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Husnain, M.P., M.Sc, PhD dalam Focus Group Discussion (FGD) Rasionalisasi Aplikasi Pupuk dengan Teknologi Ramah Lingkungan dan 4.0, yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (21/4).

Di tahun 2020, BBSDLP telah mengeluarkan Buku Rekomendasi Pupuk N,P, dan K, spesifik lokasi untuk tanaman padi, jagung dan kedelai pada lahan sawah per kecamatan. Buku ini menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menetapkan kebijakan pupuk bersubsidi. Untuk petani dan penyuluh, bisa menjadi acuan dalam menyusun eRDKK. 

Acuan rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah, jagung dan kedelai tersebut merupakan perbaikan dari Keputusan Menteri Pertanian No. 01/Kpts/SR.130/1/ 2006 dan diperbarui menjadi Permentan No.40/Permentan/OT.140/4/2007 dengan memasukkan data terbaru. 

"BBSDLP tengah memperbaharui buku rekomendasi tersebut peta status hara tanah skala operasional (1:50.000) pada lahan sawah intensifikasi. Karena sebelumnya, menggunakan peta status hara tanah skala 1:250.000 pada lahan sawah intensifikasi. Setelah peta status hara ini clear, akan kami turunkan menjadi rekomendasi per kecamatan untuk tahun 2021. Dan bisa dikeluarkan sebagai Permentan Rekomendasi Pemupukan," tutur Husnain.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018