Wednesday, 01 December 2021


Kampung Sayur Imogiri Terapkan Budidaya Ramah Lingkungan

07 May 2021, 07:14 WIBEditor : Yulianto

Pengecekan kondisi tanah sebagai salah satu cara melihat kondisi tanah | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Bantul---Perubahan iklim yang berdampak pada pemanasan global menjadi salah satu persoalan tersendiri bagi dunia pertanian. Salah satunya mengantasipasi dampak perubahan iklim adalah melalui pendekatan adaptasi dan mitigasi dengan pengukuran konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK).

Kegiatannya adalah pengukuran nitrogen oksida (N20) dan Carbon dioksida (CO2). Cara itu kini telah diterapkan petani tanaman bawang merah di Kampung Sayuran  Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Di wilayah itu terdapat kurang lebih 140 hektar (ha) lahan bawang merah dengan potensi wilayah mencapai 600 ha.  Kampung sayuran ini sudah melakukan penerapan budidaya kawasan ramah lingkungan yang ditandai dengan penerapan dan pemanfaatan embung dan penggunaan teknologi hemat air berupa irigasi sprinkle.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Inti Pertiwi juga menyampaikan, tahun ini Tim Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam bekerja sama dengan Balintan, Pati dan BPTPH Yogyakarta berkonsentrasi dalam pengukuran GRK. Outputnya berupa terukurnya nilai gas Nitrogen Oksida (N2O) dan Karbondioksida (CO2).

"Tim saat ini berada di lokasi. Tepatnya di kampung hortikultura kawasan bawang merah ramah lingkungan di Nawungan, Imogiri Bantul. Hal ini kita harapkan bisa menjadi langkah konkret dalam rangka mengantasipasi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di sub sektor hortikultura,” katanya.

Koordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi saat ditemui di lapangan juga menjelaskan, pengukuran gas rumah kaca ini dilakukan secara bertahap.

"Iya, ini kita laksanakan selama lima periode. Sekarang ini adalah periode awal pengukuran. Pengukuran selanjutnya dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam (HST), disusul 30 HST, 45 HST dan 60 HST. Dengan demikian pengamatan dan pengambilan sampel terpenuhi,” ungkapnya.

Di tempat berbeda, Ketua Kelompok Tani Lestari Mulyo, Juari mengakui, sejauh ini memang petani tidak menyadari jika penggunaan pestisida dan pupuk kimia bisa meningkatkan kadar konsentrasi GRK.

"Alhamdulillah sekarang itu kita dapat ilmu dari Kementan tentang berbudidaya ramah lingkungan. Penggunaan PGPR, Trichodherma, penggunaan liat kuning dan pemanfaatan refugia bisa berdampak pada penurunan efek GRK di sektor hortikultura ini," paparnya.

Petani bawang merah itu juga berpesan kepada seluruh petani di negeri ini untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Ada pupuk kandang atau pupuk kompos yang bisa menggantikan. Begitu juga dengan pestisida bisa substitusi dengan likat kuning dan lampu pengusir hama atau light traps.

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan, masalah efek GRK memang perlu ditanggulangi bersama-sama. Saya sudah mengarahkan untuk segera melakukan pengukuran GRK pada tanaman bawang merah organik dan bawang merah konvensional. Itu sudah berlangsung dan dalam waktu dekat kita bisa menyimpulkan,” ujarnya Senin, (3/5).

Anton, panggilan akrabnya, tidak menampik apabila GRK tidak ditanggulangi secara bersama-sama maka bisa berakibat buruk pada ekosistem tanaman. "Ini sudah menjadi permasalahan global. Jadi kita semua harus ikut berkontribusi untuk merawat bumi. Pemanasan global bisa menghambat pertumbuhan tanaman. Dampak lebih buruknya bisa memicu terjadinya kekeringan dan gagal panen,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018