Sunday, 26 June 2022


Climate Smart Agriculture, Adaptasi - Mitigasi Sektor Pertanian Hadapi Perubahan Iklim

23 Feb 2022, 10:37 WIBEditor : Gesha

Penerapan CSA di lahan sawah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Fenomena global warming yang disebabkan Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer menyebabkan pola distribusi iklim berubah (climate change) dan mengancam sektor pertanian. Karena itu, Kementerian Pertanian menyiapkan langkah adaptasi sekaligus mitigasi melalui penerapan Climate Smart Agriculture (CSA). 

"Suhu bumi setiap tahunnya semakin panas karena meningkatnya emisi GRK akibat aktivitas manusia, " ungkap  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dedi Nursyamsi saat penyampaian materi dalam Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh 2022, Rabu (23/02). 

Di sektor pertanian, perubahan iklim ini mempengaruhi kegiatan budidaya dan penerapan teknologi yang menyebabkan sistem produksi terganggu serta berdampak pada ketahanan pangan nasional. "Mencairnya gletser menyebabkan naiknnya permukaan laut dan intrusi (masuknya air laut) hingga 40 km jauhnya, sehingga sawah di pesisir akan terendam, " tegasnya. 

Perubahan iklim ini berlaku secara cepat dan intensitasnya kuat, salah satunya dengan fenomena El Nino (kemarau panjang) dan La Nina (hujan berkepanjangan). Perubahan yang cepat ini juga menyebabkan meledaknya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang kian massif. 

Karenanya, petani harus mereformasi sistem pertanian dengan pendekatan climate smart agriculture (CSA). Kementerian Pertanian mengembangkan sistem CSA agar Pertanian mampu beradaptasi dalam perubahan iklim. 

Aksi adaptasi dan mitigasi emisi  GRK, mendukung peningkatan produktivitas dan produksi pertanian serta pendapatan secara berkelanjutan. CSA menjadi andalan program Kementerian Pertanian, sehingga harus dipahami oleh seluruh insan Pertanian baik di pusat maupun daerah untuk menanggulangi perubahan iklim.

"CSA solusi mengatasi serta mengantisipasi perubahan iklim ini karena CSA menjadi sistem untuk mitigasi emisi GRK, disaat yang sama juga menyajikan teknologi yang beradaptasi terhadap perubahan iklim. Dalam penerapan CSA, produktivitas harus tetap meningkat," tegasnya. 

Karena itu, Prof Dedi mengajak seluruh Insan Pertanian untuk memelihara bumi sekaligus memelihara langit. "Kita pelihara bumi kita dengan menerapkan CSA dalam sistem Pertanian kita, " ajaknya. 

Komponen CSA

Ada tiga pilar utama dalam sistem CSA, mulai dari  meningkatkan pendapatan Pertanian secara berkelanjutan, adaptasi dan membangun ketahanan Pertanian terhadap perubahan iklim, ketiga adalah menekan emisi GRK. 

Adapun komponen CSA ini terdiri dari penggunaan varietas padi yang menghasilkan emisi GRK yang relatif rendah dibandingkan yang lain, contohnya Ciherang,  Dolokan dan sebagainya. 

Kemudian penggunaan pengairan berselang yakni intermitten irrigation. Sehingga pertanaman padi diberi perlakuan penggenangan secara berselang (kadang digenangi, kadang dikeringkan). "Sistem ini bisa mengurangi emisi gas metan secara signifikan, sehingga mengurangi emisi GRK juga, " sebutnya. 

Selain itu, ada pemupukan berimbang sesuai permintaan tanaman dan kondisi kesuburan tanah, dimana terjadi efisiensi penggunaan pupuk kimia. "Disaat yang sama juga dikombinasikan dengan pupuk organik, kompos, biofertilizer/pupuk hayati, bakteri penambat N, Bakteri pelarut P dan lainnya sehingga efisiensi pemupukan akan semakin meningkat, " jelasnya. 

Penggunaan pestisida nabati juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida khususnya pengurangan pestisida kimiawi. "Pestisida nabati sangat mudah untuk di dekomposisi oleh mikroba tanah dan tidak toksik untuk makhluk hidup lainnya," jelasnya. 

Pola pertanaman jajar legowo juga menjadi komponen CSA dalam adaptasi perubahan iklim. Seperti diketahui, sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong.

Sistem legowo juga menjadi bentuk rekayasa teknologi untuk mendapatkan populasi tanaman lebih dari 160.000 per hektar. Penerapan Jajar Legowo selain meningkatkan populasi pertanaman, juga mampu menambah kelancaran sirkulasi sinar matahari dan udara disekeliling tanaman pingir sehingga tanaman dapat berfotosintesa lebih baik.

Selain itu, tanaman yang berada di pinggir diharapkan memberikan produksi yang lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik, mengingat pada sistem tanam jajar legowo terdapat ruang terbuka seluas 25-50 persen sehingga tanaman dapat menerima sinar matahari secara optimal yang berguna dalam proses fotosintesis.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018