Sunday, 26 June 2022


Wiwi Cahyati, Tekan GRK dengan Pengairan Basah Kering

01 Mar 2022, 13:09 WIBEditor : Gesha

Wiwi Cahyati | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Seorang penyuluh pertanian asal BPP Compreng, Kabupaten Subang, Wiwi Cahyati tengah mendampingi petani menerapkan pengairan basah kering (Alternate wetting and drying/AWD) untuk menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Salah satu ancaman Perubahan iklim yang belakangan ini terjadi dapat berakibat pada kelangkaan pasokan air untuk pertanian. Hal tersebut sangat sangat meresahkan petani dan dapat menjadi ancaman yang serius, karena pada akhirnya kelangkaan air dapat menurunkan produksi dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen.

Kelangkaan air dipicu bukan saja akibat perubahan iklim, namun disebabkan oleh cara penggunaan air yang boros. Petani kerap mengairi sawah mereka dengan cara menggenangi secara terus menerus. Cara tersebut selain boros air, juga berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca. Dari penelitian, kebutuhan air dengan pengairan terus menerus mencapai 1.900-5.000 liter air untuk setiap kilogram beras yang dihasilkan.

Salah satu teknologi Climate Smart Agriculture yang bisa diterapkan petani adalah Teknologi Pengairan Basah Kering (Alternate wetting and drying/AWD). Penerapan AWD bahkan dapat meningkatkan produksi padi selain menurunkan emisi/pelepasan gas rumah kaca (GRK).

Kabupaten Subang menjadi salah satu daerah yang menerapkan teknologi pintar ini bersama penyuluh pertanian asal BPP Compreng, Kabupaten Subang, Wiwi Cahyati yang tengah mendampingi petani menerapkannya.

“Dengan penerapan sistem AWD atau pengairan basah kering, bisa mengatur penggunaan air semaksimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman padi. Manfaat kedua, petani bisa merasakan Pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan menggunakan Jerami,” tutur Wiwi.

Diungkapkan Wiwi, petani di Kecamatan Compreng, Subang terbiasa mengairi lahan sawahnya terus menerus dan sedikit kesulitan ketika memasuki musim kemarau karena air irigasi berkurang. Namun di tahun 2021, petani mulai diperkenalkan pertanaman padi dengan penerapan basah kering ini dan responnya cukup positif.

“Awal dikenalkan ke petani senior, banyak yang menolak karena bukan model bertani yang biasa dilakukan mereka bertahun-tahun. Tapi di Kabupaten Subang kita punya jejaring petani milenial, Natarasa Tani. Kita ajak mereka untuk bersama menerapkan model pertanian ini,” ungkap Wiwi.

Diakui Wiwi, petani milenial lebih terbuka akan inovasi pertanian terbaru, terutama pertanaman ramah lingkungan. Sehingga inovasi AWD yang termasuk Climate Smart Agriculture (CSA) lebih mudah diterima oleh mereka. Dalam pengaplikasian AWD, Wiwi menggunakan komponen CSA lainnya seperti penggunaan pupuk organik, hayati dan bahan ramah lingkungan lainnya untuk efisiensi pupuk.

“Kita damping petani milenial ini dalam penerapan AWD ini, akhirnya menggembirakan. Meskipun belum meningkatkan produksi secara signifikan, ternyata mereka senang karena ongkos produksi jauh lebih murah dan ramah lingkungan,” tuturnya.

Wiwi berharap jika inovasi pertanian ramah lingkungan seperti pengairan AWD ini bisa diterapkan oleh petani di seluruh Subang Jawa Barat. Sebab potensi luas sawah di Kabupaten Subang 84.570 hektare merupakan terluas ketiga se-Jawa Barat setelah Indramayu dan Karawang. Teknologi AWD dapat menghemat air, meningkatkan hasil, dan menurunkan emisi GRK di lahan sawah. Petani untung, lingkungan terjaga.

 

 

 

 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018