Kamis, 30 Mei 2024


Banyuwangi Terapkan Pemupukan Berbasis IoT, Petani Konsultasi di BPP

01 Mar 2024, 14:14 WIBEditor : Gesha

Petani menggunakan IOT Jinawi untuk melihat rekomendasi pupuk yang disarankan | Sumber Foto:Istimewa

TABLODSINARTANI.COM, Banyuwangi -- Banyuwangi memperkenalkan inovasi terbaru dalam sektor pertanian dengan menerapkan sistem pemupukan berbasis Internet of Things (IoT). Melalui Badan Penyuluhan Pertanian (BPP), para petani dapat berkonsultasi dan memperoleh panduan terkait penggunaan teknologi ini.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah mengadopsi pertanian presisi sebagai solusi atas penurunan kuota pupuk subsidi dari pemerintah pusat.

Salah satunya adalah melalui layanan uji tanah berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan petani setempat untuk mendapatkan pemupukan tepat dosis.

Menggunakan alat uji tanah bernama Jinawi, sistem ini memberikan rekomendasi pemupukan secara real-time dengan melihat kualitas unsur hara makro dalam tanah, seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), serta pH tanah.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestandani, menegaskan alat ini dapat membantu petani dalam menentukan jumlah pupuk yang dibutuhkan secara akurat.

"Dengan uji tanah ini petani bisa mengetahui kebutuhan pupuk secara tepat sesuai kebutuhan, sehingga pupuk yang digunakan tidak berlebihan. Dengan demikian kuota pupuk subsidi bisa digunakan secara optimal," kata Ipuk.

Selama kegiatan "Bunga Desa" di Desa Wringin Agung, Kecamatan Gambiran, Bupati Ipuk secara langsung mencoba alat Jinawi pada lahan padi milik kelompok tani Tangkai Rotan.

Dengan informasi yang diperoleh dari uji kualitas tanah ini, petani dapat menerima rekomendasi pemupukan yang presisi sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Dengan demikian, diharapkan produktivitas tanaman dapat meningkat karena penggunaan pupuk yang optimal.

Bupati juga mengimbau petani untuk memanfaatkan layanan uji lahan ini guna menghindari pembelian pupuk berlebihan dan hanya membeli sesuai kebutuhan.

Konsultasi di BPP

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Arief Setiawan, menyatakan bahwa layanan uji tanah ini dapat diakses oleh petani secara gratis.

Petani hanya perlu datang ke kantor Balai Penyuluh Pertanian (BPP) untuk mengajukan layanan tersebut, dan tim teknis akan datang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan untuk melakukan uji tanah.

Alat uji tanah ini digunakan dengan cara ditancapkan ke dalam tanah, kemudian hasil analisis kondisi tanah dan rekomendasi pupuk utama akan muncul.

Menurut Arief, penggunaan alat ini memungkinkan pemberian pupuk menjadi lebih presisi, sesuai dengan dosis yang dibutuhkan, sehingga petani hanya perlu membeli pupuk sesuai kebutuhan berdasarkan rekomendasi dari Jinawi.

Dia juga menekankan bahwa layanan ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kualitas tanah, mengingat data dari Dinas Pertanian menunjukkan adanya penurunan kesuburan tanah di Banyuwangi, terutama dengan kadar karbon organik yang telah berada di bawah 2 persen akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama.

Arief juga menambahkan bahwa pihaknya terus mendorong petani untuk beralih ke pertanian organik, karena selain lebih ramah lingkungan, produk pertanian organik juga memiliki daya jual yang tinggi.

Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan di Banyuwangi.

Arief menambahkan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah aktif mendukung pertanian organik melalui berbagai program, termasuk pelatihan pembuatan pupuk organik, pendistribusian agen hayati, penyelenggaraan demplot pertanian organik, dan pemberian bantuan pupuk organik cair kepada petani.

"Hingga saat ini, jumlah pupuk organik cair yang telah didistribusikan mencapai 466.636 liter, cukup untuk lahan seluas 83.524 hektar," ucapnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018