Jumat, 14 Juni 2024


Peralihan El Nino-La Nina, BMKG Minta Petani Waspadai OPT

24 Mei 2024, 07:28 WIBEditor : Gesha

Waspadai OPT untuk peralihan musim | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dalam peralihan antara El Nino dan La Nina, BMKG memperingatkan para petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). 

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia berpotensi mengalami fenomena anomali iklim La Nina tahun ini. La Nina diperkirakan akan terjadi setelah fase El Nino beralih ke fase Netral.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyarankan petani untuk bersiap menghadapi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh La Nina.

"Terdapat kajian yang menunjukkan bahwa terdapat potensi meningkatnya gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada akhir musim kemarau di tahun La Nina yang perlu diantisipasi oleh para petani," tambahnya mengingatkan.

Ardhasena menjelaskan, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) sudah mulai beralih ke kondisi Netral dengan indeks sebesar 0.42."BMKG memprediksi bahwa La Nina berpotensi terjadi pada semester kedua 2024," katanya.

Menurut hasil pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menunjukkan bahwa pada periode dasarian I Mei 2024, ENSO mulai beralih ke kondisi Netral dengan indeks sebesar 0.42.

"Diprediksi bahwa ENSO akan terus berada pada fase Netral hingga Juni-Juli, dan diprediksi akan beralih ke fase La Nina pada Juli-Agustus 2024," ungkapnya.

Karena itu, dia pun meminta petani di Indonesia agar bersiap. Sebab, ujarnya, La Nina umumnya memberikan dampak berupa peningkatan curah hujan di Indonesia, terutama pada periode musim kemarau.

"Kondisi ini perlu diantisipasi oleh petani terutama untuk komoditas pertanian yang sensitif terhadap curah hujan seperti tanaman hortikultura," ujar Ardhasena.

Wilayah Terdampak

Menurut Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, peringatan tentang La Nina telah resmi dikeluarkan oleh Biro Meteorologi Australia (Bureau of Meteorology Australia/BoM).

"La Nina sudah diumumkan secara resmi oleh BoM Australia bulan ini. Dampak La Nina berdasarkan analisis kami terutama dirasakan di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan dalam bentuk musim kemarau yang lebih basah. Bagian tengah dan timur Kalimantan akan mengalami kemarau basah," ungkap Erma.

Erma menambahkan, untuk Jawa, sebagian besar wilayah diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang normal dan cenderung kering dari Mei hingga September.

Oleh karena itu, Erma menyarankan petani di wilayah Jawa untuk mempertimbangkan jenis tanaman yang akan ditanam mengingat potensi kondisi tersebut. Menurutnya, tanaman palawija merupakan pilihan yang tepat untuk ditanam pada kondisi tersebut.

"Kemungkinan La Nina yang terjadi adalah lemah hingga sedang selama musim kemarau," jelasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018