
Petani Indramayu tak lagi hanya mengandalkan air saat kemarau ekstrem. Mereka menyusun strategi dari membaca iklim, menjaga kesehatan tanaman, hingga mengantisipasi lonjakan hama akibat El Nino.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Petani Indramayu tak lagi hanya mengandalkan air saat kemarau ekstrem. Mereka menyusun strategi dari membaca iklim, menjaga kesehatan tanaman, hingga mengantisipasi lonjakan hama akibat El Nino.
Petani di Indramayu menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi potensi musim kering ekstrem akibat fenomena El Nino 2026.
Upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penghematan air, tetapi juga menjaga kesehatan tanaman dan pengendalian hama.
Anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim, Tarsono, mengatakan ketersediaan air saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan produksi.
“Tanaman harus tetap sehat. Walaupun air dan pupuk cukup, kalau diserang hama atau penyakit, hasilnya tetap terganggu,” ujarnya dalam Forum Diskusi #1 Perhimpi yang digelar secara daring, Selasa (7/4/2026).
Menurut dia, peningkatan suhu saat El Nino berpotensi mempercepat siklus hidup hama dan penyakit, sehingga risiko serangan menjadi lebih tinggi.
Petani di wilayah tersebut mulai melakukan pengamatan iklim secara mandiri dengan mengukur curah hujan harian menggunakan alat sederhana yang dipasang di lahan.
Data tersebut kemudian dikumpulkan dan dibahas secara berkala untuk menentukan langkah budidaya.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, curah hujan pada awal 2026 menunjukkan tren penurunan.
Januari tercatat sekitar 245 mm, Februari 112 mm, dan Maret 88 mm, memasuki April, curah hujan semakin rendah.
Hasil analisis petani menunjukkan kondisi iklim saat ini berada pada fase transisi dari La Nina menuju netral, dengan potensi El Nino muncul pada pertengahan tahun.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, petani menerapkan sejumlah langkah, antara lain mengatur penggunaan air irigasi, menyesuaikan jadwal tanam, serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Selain itu, petani juga memasang lampu perangkap hama untuk memantau populasi serangga di lahan.
Data dari alat tersebut digunakan sebagai dasar pengendalian hama sejak dini.
Seluruh hasil pengamatan dan analisis dibahas dalam forum desa bersama penyuluh pertanian dan petani lainnya.
Forum tersebut menjadi dasar dalam menentukan jadwal tanam, distribusi pupuk, dan strategi budidaya
Petani juga memanfaatkan pengetahuan lokal dalam membaca musim sebagai pelengkap data ilmiah.
Berdasarkan prediksi, curah hujan pada Mei hingga Juli 2026 diperkirakan berada di bawah normal.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi musim tanam kedua di wilayah Indramayu.
Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen dan menjaga stabilitas produksi di tengah perubahan iklim.
Tarsono menegaskan, meskipun menghadapi ancaman kekeringan, petani tetap akan melanjutkan kegiatan tanam dengan menyesuaikan strategi di lapangan.