Saturday, 05 September 2026


Dulu Cuma Jerami Sisa Panen, Kini Bikin Petani Karawang Raup Cuan

01 Sep 2026, 12:37 WIBEditor : Gesha

Dulu hanya dianggap sisa panen, jerami kini disulap menjadi sumber cuan baru bagi petani lewat budidaya jamur merang modern.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Dulu hanya dianggap sisa panen, jerami kini disulap menjadi sumber cuan baru bagi petani lewat budidaya jamur merang modern.

Salah satu petani yang merasakan manfaatnya adalah Tani Suryadinata, pembudidaya jamur merang asal Desa Gempol Kolot, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.

Tani terlibat dalam proyek Centre for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) bersama Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan).

Melalui program tersebut, sisa hasil panen berupa jerami mulai diarahkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. 

Konsep yang dikembangkan adalah ekonomi sirkular atau pertanian sirkular, di mana limbah dari satu kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk baru.

“Manfaatnya sangat banyak sekali, terutama dari sisi peningkatan produksi dan ekonomi,” kata Tani.

Ia mengatakan, penerapan teknologi dan bantuan alat serta mesin pertanian (alsintan) telah membawa perubahan signifikan terhadap usaha budidaya jamur merang yang selama ini masih banyak dilakukan secara konvensional.

Sebelum mendapat dukungan teknologi, produksi jamur merang yang dihasilkan berada di kisaran 100 hingga 110 kilogram.

Setelah modernisasi dilakukan, produksi meningkat hingga sekitar 180 kilogram.

Bahkan, jika dihitung secara rata-rata dalam satu tahun, produksinya disebut dapat mencapai sekitar 210 kilogram.

“Dengan didorong teknologi ini, produksinya meningkat. Sebelumnya sekitar 100 sampai 110 kilogram, sekarang bisa mencapai 180 kilogram. Secara akumulatif rata-rata bisa sampai 210 kilogram,” ujarnya.

Peningkatan produksi tidak lepas dari modernisasi rumah jamur atau kumbung. Sebelumnya, para petani masih menggunakan bangunan sederhana berbahan bilik.

Kini, desain kumbung mulai diperbarui menggunakan rangka baja ringan hingga material hebel. Perubahan tersebut bukan sekadar membuat bangunan terlihat lebih modern, melainkan membantu menjaga kondisi lingkungan tumbuh jamur.

Menurut Tani, penggunaan material yang lebih baik membuat suhu dan kelembapan di dalam kumbung menjadi lebih stabil.

“Bukan berarti lebih mewah, tetapi suhu dan kelembapannya lebih stabil,” katanya.

Selain modernisasi bangunan, teknologi Internet of Things (IoT) juga mulai dimanfaatkan dalam proses budidaya.

Teknologi tersebut membantu petani melakukan pengendalian dan pemantauan suhu serta kelembapan secara lebih mudah dan presisi.

Tak hanya itu, sejumlah peralatan pendukung dalam proses budidaya, termasuk teknologi pasteurisasi, juga mendapatkan dukungan.

Menurut Tani, pemanfaatan teknologi menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan usaha budidaya jamur merang.

“Kalau kita masih terus menggunakan cara konvensional, akan sulit berkembang. Teknologi ini penting untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.

Pengembangan budidaya jamur merang juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani. Selama ini, setelah musim panen padi berakhir, sebagian petani memasuki masa jeda sebelum kembali mengolah lahan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi petani dan buruh tani ikut berkurang.

Namun, pemanfaatan jerami untuk media budidaya jamur merang dapat menjadi alternatif sumber penghasilan tambahan.

"Biasanya kalau petani selesai panen padi, mereka istirahat. Artinya, tidak ada usaha. Dengan pengembangan budidaya jamur merang ini, ada nilai tambah bagi petani,” katanya.

Ia berharap pengembangan usaha tersebut juga dapat memberikan manfaat kepada buruh tani. Dalam sistem yang terintegrasi, petani, pemilik lahan, hingga masyarakat yang mengumpulkan jerami dapat terlibat dalam rantai ekonomi budidaya jamur merang.

Menurutnya, buruh tani merupakan bagian penting dari ekosistem pertanian yang perlu mendapat perhatian.

Budidaya jamur merang sendiri bukan usaha baru bagi masyarakat Desa Gempol Kolot. Tani menyebut komoditas tersebut telah berkembang di wilayah Karawang sejak puluhan tahun lalu.

Budidaya jamur merang masuk dan berkembang di Karawang sejak sekitar tahun 1970-an. Sementara di kawasan Desa Gempol Kolot dan sekitarnya, usaha tersebut terus berkembang sejak beberapa dekade lalu.

Meski demikian, pola budidayanya selama ini masih banyak mengandalkan metode konvensional.

Masuknya teknologi melalui proyek CSAM dan BRMP Mektan diharapkan mampu mengubah pola pikir petani agar lebih terbuka terhadap inovasi dan mekanisasi pertanian.

“Kita membutuhkan inovasi. Dengan adanya kesempatan ini, pola pikir petani mulai berubah dan tidak hanya mengandalkan cara-cara lama,” ujarnya.

Tani mengatakan, pasar jamur merang masih terbuka luas. Produk dari Karawang dipasarkan ke sejumlah daerah, terutama Jakarta, Bekasi, dan Bandung.

Menurutnya, kebutuhan jamur merang di sejumlah wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 15 ton per hari.

Besarnya kebutuhan pasar tersebut menjadi peluang bagi petani untuk terus meningkatkan produksi. Namun, peningkatan produktivitas membutuhkan dukungan teknologi agar proses budidaya dapat dilakukan lebih efisien dan stabil.

“Pasarnya masih menjanjikan. Kebutuhan di Jakarta, Bekasi, dan Bandung cukup besar. Karena itu produksi harus terus didorong dengan teknologi,” katanya.

Di tengah peluang tersebut, ketersediaan dan pengangkutan jerami masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Perubahan pola tanam dan kondisi lahan membuat pengelolaan jerami membutuhkan sistem yang lebih baik. Terlebih, pengembangan intensitas pertanaman hingga IP300 membuat aktivitas pertanian berlangsung semakin intensif.

Karena itu, dibutuhkan alat yang efektif dan efisien untuk mengangkut serta mengelola jerami dari lahan menuju lokasi budidaya jamur.

“Ke depan harus dipikirkan alat apa yang paling efektif dan efisien untuk mengangkut jerami,” ujar Tani.

Tak hanya sebagai pusat produksi, Tani juga melihat peluang pengembangan kawasan budidaya jamur merang menjadi destinasi wisata pertanian.

Masyarakat nantinya dapat berkunjung ke lokasi kumbung, melihat langsung proses budidaya, hingga membeli produk hasil panen.

Dari jerami yang sebelumnya hanya menjadi sisa panen, kini muncul peluang ekonomi baru. Dengan dukungan mekanisasi dan teknologi modern, pertanian sirkular di Karawang mulai membuktikan bahwa limbah pertanian pun bisa berubah menjadi sumber cuan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018