Thursday, 02 April 2020


Menjadi Ayam Kampung, Usir Stunting dengan Keanekaragaman Hayati Sendiri

10 Dec 2019, 10:41 WIBEditor : Ahmad Soim

Bermain di sawah | Sumber Foto:pixabay.com

Industri pangan harus berkembang dan maju, tapi janganlah ia membunuh energi diri sendiri.

 

Agus Pakpahan - Profesor Riset Bidang Ekonomi Pertanian; Ketua Umum PERHEPI 2000-2003; Dirjen Perkebunan,  Kementerian Pertanian 1998-2003; Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan dan Penerbitan, Kementerian BUMN 2005-2010; Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik 2010-2018

 

TABLOIDSINARTANI.COM - "Siapa yang lebih pintar, apakah ayam kampung atau manusia?", kakek saya bertanya. "Kalau manusia tidak mampu menghidupi dirinya dan anak-anaknya, maka ayam kampung lebih pintar dari manusia," kakek saya menjawab pertanyaannya sendiri. Begitulah cara kakek mengajari saya ketika saya diajak menemani beliau ke kebun atau ke tempat lain semasa saya masih kanak-kanak.

 


Pertanyaan dan jawaban kakek saya itu membuka pikiran saya belakangan ini. Mengapa bangsa kita yang biasa mengaku sebagai bangsa dengan budaya luhur koq sampai bisa mengalami tingginya populasi anak-anak berusia kurang dari atau sama dengan lima tahun (balita) mengalami tinggi badan di bawah standar tinggi badan pada usia yang seharusnya, atau biasa disebut kuntet /stunting.  Tidak tanggung-tanggung proporsi populasi anak-anak balita tergolong kuntet tersebut lebih dari 30% secara nasional dan untuk propinsi tertentu bisa mencapai setengahnya atau lebih.  Ini sebuah tragedi!

 

Mengapa kondisi tersebut hadir di tengah-tengah teriakan era pembangunan, era kemerdekaan, era digital dan atau modern?  Bukankah teknologi dan ilmu pengetahuan sudah semakin maju? Bukankah kita semua, dari Jakarta hingga desa-desa, sudah hafal betul kata reformasi, demokrasi, atau pertumbuhan ekonomi serta otonomi daerah?  Bukankah betapa intensifnya perdebatan-perdebatan tentang isu politik tetapi mengapa isu stunting yang akan menentukan masa depan kualitas manusia Indonesia kurang mendapat perhatian sehingga tak terasa getaran-getaran jiwa yang melahirkan program besar bersama untuk mengatasi masalah tersebut?

 

Secara global data menunjukkan bahwa tinggi badan rata-rata bangsa Jepang yang dahulu mendapat julukan bangsa kate, ternyata sekarang tinggi badan rata-rata kaum pria Jepang sudah mencapai 174 cm; hanya 10 cm di bawah rata-rata tinggi badan bangsa Belanda, yaitu 184 cm, yang merupakan bangsa dengan tinggi badan rata-rata tertinggi di dunia.  Sebaliknya, rata-rata tinggi badan kaum pria bangsa Indonesia ternyata memprihatinkan, yaitu malah memendek, dengan rata-rata 158 cm atau 26 cm lebih pendek dari tinggi badan rata-rata pria Belanda. Dengan perkataan lain, tinggi badan kaum pria Indonesia hanyalah kurang-lebih 85?ripada tinggi badan rata-rata pria Belanda. 

 

Hasil riset menunjukkan terdapat keterkaitan yang tinggi antara tingkat kesejahteraan suatu bangsa dengan rata-rata tinggi badan dari bangsa-bangsa di dunia. Tingkat kesejahteraan yang tinggi tersebut dicirikan antara lain oleh tingginya tingkat konsumsi pangan yang bersumber dari ternak seperti susu, telur, ikan, dan daging. Artinya, semakin makmur suatu bangsa maka semakin tinggi bangsa tersebut mengkonsumsi sumber-sumber pangan berasal dari ternak tersebut. Artinya pula komoditas pangan tersebut berada pada posisi yang relatif lebih murah dibandingkan dengan harga komoditas tersebut di negara-negara berkembang/miskin. Mengapa demikian? Satu di antaranya disebabkan oleh tingkat produktivitas ternak di negara maju (iklim temperate) sangat tinggi.  Produktivitas tinggi tersebut merupakan hasil sukses adaptasi dari jenis ternak tersebut terhadap lingkungannya plus kesuksesan dalam pemuliaan jenis-jenis ternak di wilayah temperate.

 

Walaupun begitu, kita perlu pula memperhatikan sisi lain di luar kemakmuran yang dilihat dari kacamata ekonomi seperti pendapatan per kapita atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hasil riset yang dilakukan IFPRI (International Food Policy Research Institute) dengan menggunakan Global Hunger Index (GHI) di mana stunting merupakan salah satu komponen di dalamnya, ternyata kita menemukan fakta bahwa terdapat 15 negara berkembang pada 2018 yang memiliki nilai GHI kurang dari 5.0.  Hal ini berarti ke 15 negara berkembang tersebut memiliki tingkat kualitas sumberdaya manusia balitanya sama dengan kualitas sumberdaya manusia balitanya sama dengan yang dimiliki oleh negara maju.

 

Di antara ke 15 negara tersebut adalah Ukraina.  Khusus mengenai kualitas sumberdaya manusia balita Ukraina yang diukur oleh GHI tersebut ternyata pendapatan per kapita Ukraina jauh berada di bawah pendapatan per kapita Indonesia. Fakta di Ukraina ini perlu menjadi bahan pembelajaran utama bagi Indonesia yang telah menggariskan kebijakan untuk mampu mengatasi masalah stunting ini. Konsumsi pangan yang bersumber dari ternak di Ukraina memang jauh lebih tinggi daripada rata-rata konsumsi telur per kapita Indonesia. Setiap orang masyarakat Ukraina hampir mengkonsumsi sebutir telur setiap harinya. Telur merupakan jenis pangan yang bersumber dari ternak yang paling murah dibandingkan dengan daging atau ikan.  Setelah telur, penduduk Ukraina juga mengkonsumsi susu sekitar 0.57 kg per hari. Bandingkan dengan konsumsi susu, daging, ikan dan telur rata-rata penduduk Indonesia hanyalah sekitar 14 gram per kapita per hari.

 

Inti dari uraian di atas adalah perlunya kita memusatkan pada pemenuhan kebutuhan protein ini. Kata protein itu sendiri, yang berasal dari bahasa Yunani, berarti sebagai yang utama atau yang terpenting. Kita jarang memahami posisi terpenting dari protein ini dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi kita. Kata protein ini juga mengarah pada protein yang berasal dari hasil peternakan atau sering dinamakan protein hewani, sebagai protein yang nilainya sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia sejak mulai hidup di dalam kandungan ibunya hingga akhir hayatnya.

 

Kita berada di wilayah iklim tropika. Bukan hanya itu, Indonesia juga struktur geografisnya merupakan gugus kepulauan.  Kalau kita amati dalam periode 500 tahun terakhir tampak hingga saat ini tidak ada satu pun negara/bangsa yang berada di wilayah iklim tropika bisa menjadi negara maju (Singapura kita keluarkan). Dengan perkataan lain semakin suatu kehidupan mendekati equator/khatulistiwa, maka kondisi yang ditemukan adalah semakin miskin! Kita sering tidak menyadari akan hal ini. Bahkan, kita sering menyampaikan mithos seolah-olah kita ini kaya raya. Tentu, perdebatan ini tergantung akan sudut pandang yang kita gunakan. Namun demikian apabila kita menggunakan klasifikasi yang dibuat Bank Dunia, misalnya, hasilnya akan menunjukkan yaitu bangsa-bangsa yang berada di wilayah tropika semuanya tergolong bangsa yang masih miskin atau masih berkembang (belum tergolong sebagai kelompok bangsa/negara maju).

 

Apa kesalahan kita?

 

Kesalahan kita berada pada cara membangun budaya berpikir, yaitu kita hanya memfotokopi budaya berpikir bangsa-bangsa yang berada di wilayah iklim temperate, khususnya bangsa-bangsa Eropa Barat. Istilah memfotokopi digunakan untuk membedakannya dengan istilah me-rekreasi atau mencipta ulang kemajuan berpikir di sana dan mengujinya terlebih dahulu sebelum diterapkan di lingkungan kita sendiri yang secara alami diajarkan oleh sifat-sifat intrinsik iklim tropika atau sifat-sifat intrinsik iklim tropika dan kepulauan. Bahkan, jarang sekali kita memusatkan perhatian pada keberlanjutan evolusi hasil-hasil karya besar leluhur kita dalam menjalankan proses adaptasi terhadap sifat-sifat intrinsik iklim tropika dan kepulauan.

 

Sifat intrinsik iklim tropika adalah tingginya temperatur (panas), tingginya kelembaban (lembab) dan bersifat basah (wet).  Kemudian, keberadaan sinar matahari yang menyinari permukaan bumi sepanjang tahun terhadap wilayah khatulistiwa memberikan kesempatan yang sama terhadap semua jenis tanaman dan hewan untuk hidup tanpa hadir seleksi alami seperti hadirnya iklim dingin/winter di negara-negara temperate.  Kondisi tropika seperti itu menyebabkan tingginya keanekaragaman hayati per satuan luas yang sama dengan di wilayah iklim temperate, termasuk di dalamnya juga tingginya jumlah dan jenis penyakit atau hama tanaman atau ternak. Sifat panas dan lembab juga menyebabkan kandungan karbon bukan disimpan di dalam tanah tetapi di simpan dalam bentuk vegetasi di atas tanah. Humus yang berada di dalam tanah akan cepat habis terurai sejalan dengan kondisi panas dan lembab iklim tropika. Hal ini berinteraksi dengan ruang suatu pulau yang dicirikan dekatnya jarak antara puncak gunung dengan pantai. Semakin kecil suatu pulau maka semakin dekat jarak antara permukaan bumi tertinggi pada pulau tersebut dengan pantainya.  Artinya, ruang ekologis atau kebutuhan konservasi tanah dan air suatu pulau adalah relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan yang sama bagi sebuah benua. Apa artinya? Bangsa tropika harus lebih memperhatikan konservasi lingkungannya termasuk dalam memilih jenis-jenis pangan yang akan dijadikan sumber kedaulatan pangan, ketahanan pangan, atau istilah lainnya yang akan digunakan. Terutama dalam upaya mengatasi stunting sebagaimana yang sekarang ini sedang kita hadapi bersama.

 

Apa dasar membangun pola adaptasi kita?

 

Dasar membangun pola adaptasi kita adalah meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan kekayaan alam lingkungan kita yang dinamakan keanekaragaman hayati. Inovasi kita difokuskan pada membangun daya adaptasi terhadap panas, lembab dan basah  dalam keanekagaman spesies yang dimiliki oleh wilayah tropika.

 

Saya mencoba membayangkan kembali suasana semasa kecil di sebuah kampung di tanah Pasundan. Kemudian terbayanglah kehidupan di desa saya, lebih dari  50 tahun yang silam. Rasanya saya ingat betul, kami anak-anak desa ketika itu tidak pernah mengalami kelaparan akan sumber makanan yang berasal dari hewan. Mengapa? Karena kami adalah "ayam kampung". Kami bisa mencari sumber kehidupan di alam-lingkungan kami. Mau ikan? Tinggal cari di sawah: ada gabus, mujair, beunteur, belut, betok, lele, dan macam lainnya. Mau daging burung air (sawah): burung pecuk, beker, kuntul, dan lain-lain, asal pandai menyumpit atau memerangkanya. Di pekarangan: ada ganyong, talas, singkong, hui, dan umbi-umbian lainnya. Sayuran bukanlah halangan. Di kebun, juga tersedia macam-macam. Bahkan gangsir, gaang (jangkrik air) dan turaes pun sedap disantap. Kami menikmati itu karena memang alam lingkungan masih baik dan "sekolah masyarakat" mengajari kami menjadi "ayam kampung", yang mampu menghidupi diri sendiri.

 

Dalam ruang lingkup keanekaragaman hayati ini kita perlu mengangkat posisi, fungsi, peran dan nilai serangga atau insekta dalam keberlanjutan dan peningkatan kesejahteraan bangsa tropika khususnya Indonesia. Keanekaragaman jenis serangga ini sangat tinggi untuk kelompok binatang tanpa tulang belakang. Menurut literatur terdapat lebih dari 1000 jenis serangga yang layak dikonsumsi. Saking pentingnya peran serangga untuk pangan manusia Prof. Dr. F.G. Winarno menerbitkan buku khusus tentang “Serangga Layak Santap: Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan”, yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2018. Dalam pengantar buku tersebut Prof. Winarno menceritakan pengalaman lucu yang bersifat surprised yaitu ketika beliau harus mencari jawaban atas pertanyaan Presiden Soeharto kepada Menteri Pertanian:”Apa yang membuat saya pintar?”, kata Pak Harto. Dari hasil penelusuran literatur dan survey lapangan akhir Prof. Winarno sampai pada penemuan satu di antara yang penting dalam budaya Jawa pada era Pak Harto masih kecil adalah kebiasaan mengkonsumsi serangga.  Saya sendiri menyampaikan pemikiran betapa pentingnya serangga dalam upaya mengatasi stunting pada Jakarta Post 8 Nopember 2019 dengan judul: Stop stunting: Create delicious insect dishes. https://www.thejakartapost.com/academia/2019/11/08/stop-stunting-create-delicious-insect-dishes.html

 

Apakah kita sekarang sudah menjadi "ayam broiler", yang hanya bisa hidup kalau ada yang memberi makan? Bahkan jenis makanannya pun menjadi sangat terbatas, sebatas yang dibuat pabrik, dengan menu dan takaran yang sudah ditentukan. Masih bagus kalau kita menjadi "ayam broiler" dan ada yang memberi makan. Kalau hanya membuat kita menjadi bergantung pada nasib yang ditentukan pihak lain, kondisi ini jelas membahayakan. Kita rasanya menjadi lebih bodoh dari "ayam kampung" kalau ternyata kita memang tidak mampu menghidupi diri kita sendiri.

 

"Ayam kampung" adalah suatu ilustrasi karakter, spirit, jiwa, dan kemampuan untuk bisa hidup sendiri dari alam tempat kita hidup-berdiri. Masyarakat "ayam kampung" adalah masyarakat yang rajin dan tahu bagaimana mengatur diri sendiri. Pagi hari ia bernyanyi, keluar dari kandang, mengasuh anak-anaknya sambil mencari makan. Di sore hari, mereka kembali ke kandang sendiri, tak merepotkan. Begitulah "ayam kampung", yang karakternya sering kita lupakan, padahal sangat penting sekali untuk diteladankan.

 

Saya sering bertanya kepada teman-teman dalam berbagai kesempatan berdiskusi: "Apakah sistem pekerjaan, pendidikan, atau pergaulan dalam masyarakat selama ini telah membuat kita terperangkap dalam perangkap kemanjaan hidup? Apakah kultur dan struktur sosial yang hidup dan berkembang selama ini membuat kita lupa pada kekuatan diri sendiri dan lingkungan tempat kita berdiri?" Saya membayangkan bagaimana anak-anak sekarang sangat bergantung pada mi instan atau Chiki dan sudah lupa pada goreng oncom, serabi, dan pepes laron?

 

Tentu industri pangan harus berkembang dan maju, tapi janganlah ia membunuh energi diri sendiri. Industri pangan yang berkembang jelas akan membanggakan dan membesarkan jiwa dan perasaan kita semua apabila mengakar pada budaya dan sumber alam yang ada pada kita semua. Kalau yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, daya menyesuaikan diri dan daya mencipta kita menjadi lemah. Kita seperti orang yang mati suri.

 

Itulah, saya pikir, penyebab kita menderita stunting. Sebab, tak ada alasan alami bahwa kita harus menderita stunting dan bencana kelaparan di negeri kita ini. Alasan yang ada hanyalah memang kita sudah terperangkap oleh budaya tak mau bekerja, tak sayang saudara, dan tak mengenali lagi di mana kita berada. Tak melihat keanekaragaman hayati, khususnya serangga, sebagai sumber darah-daging dan jiwa-sukma kita.

 

Pohon jati dapat menjadi bukti bahwa alam gersang dan keras bisa menjadi sumber yang menghidupi pohon jati secara mandiri dengan memberikan hasil kayu kualitas tinggi. Pohon kepala sawit sebagai simbol tanaman unggul tropika yang manfaatnya luar biasa walau sampai sekarang kita masih didikte pasar dunia. Serangga yang yang sangat tinggi nilainya dan sangat beranekaragam keberadaannya, belum banyak dilihat sebagaimana bangsa Eropa sekarang sudah mejajakannya di restaurant terkemuka. Dapatkah kita menjadi pohon jati, pohon sawit atau serangga tropika dengan belajar dari "ayam kampung"? Mengatasi stunting bukan sekadar menerapkan dan mendatangkan teknologi, bukan pula dengan sekadar bagi-bagi rezeki. Ia hanya bisa dijawab apabila kita mampu memahami dan menjadi manusia yang tahu diri, bisa mengubah diri kita yang ada sekarang ini menjadi makhluk yang mampu percaya diri, dan sanggup menyesuaikan diri, dengan inti melakukan inovasi setiap hari terhadap sifat-sifat intrinsik alam tropika dengan sumberdaya berupa keanekaragamannya.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018