Monday, 10 August 2020


Terimbas Covid-19, Importir Sapi Bakalan Tak Lagi Wajib Impor Indukan

14 Jul 2020, 16:37 WIBEditor : Yulianto

Dengan SIkomandan, pemerintah genjot populasi sapi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Terkena imbas pandemi Covid-19, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian memberikan keringanan atau relaksasi bagi feedloter atau importir sapi bakalan. Salah satunya tak lagi terkena kewajiban impor sapi indukan.

Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) dengan memberikan relaksasi untuk pelaku usaha.

Misalnya, untuk sementara pemerintah tidak memberlakukan lagi ketentuan pemasukan indukan sebesar 5 persen dari jumlah rekomendasi impor sapi bakalan. “Jadi tidak diberlakukan selama pandemi covid ini. Kebijakan ini berlaku sejak Februari, sehingga tidak membebani feedloter,” ujarnya saat webinar Ketersediaan dan Pasokan Daging Sebelum dan Selama Covid-19 di Jakarta, Selasa (14/7).

Mengenai permintaan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) untuk penghapusan bea masuk sapi bakalan, Fadjar mengatakan, usulan tersebut sebenarnya sudah siap dimasukan dalam Permentan. Tapi informasi mengenai bea masuk ternyata sudah ada kesepakatan dengan Australia (IAECP).

“Dalam kesepakatan tersebut, jika impor sapi bakalan di bawah 575 ribu ekor, maka tidak dikenakan bea masuk.  Jadi kita tidak masukkan dalam Permentan lagi, karena sudah otomatis berlaku. Ketentuan itu berlaku sejak 5 Juli. Ini menjadi Insentif untuk feedloter supaya bisa berjalan terus,” ungkapnya.

Impor Bakalan Turun

Sejak terjadi Covid-19, pemerintah memperkirakan impor sapi bakalan mengalami penurunan. Hingga Juli 2020, sapi bakalan yang masuk ke Indonesia mencapai 210 ribu ekor dari prognosa selama setahun sebanyak 422.533 ekor. 

Data Ditjen PKH, tahun 2019 realisasi impor sapi bakalan mencapai 648.210 ekor atau 145.270 ton daging dari prognosa sebanayk 500 ribu ekor (112.055 ton). Sedangkan tahun 2020 realiasi impor sapi bakalan hingga 25 Juni sebanyak 215.501 (48.296 ton) dari prognosa selama setahun sebesar 550.000 ekor (123.261 ton).

Sedangkan data ketersediaan daging sapi/kerbau pada Juli 2020 sebanyak 121.080 ton, dengan tingkat kebutuhan sebesar 54.598 ton, sehingga terdapat surplus sebesar 66.482ton. Sedangkan ketersediaan daging sapi/kerbau pada Juli 2020 dipenuhi dari potensi produksi sapi/kerbau lokal sebanyak 67.319 ton, serta rencana impor daging sapi/kerbau sebanyak 41.799 ton dan rencana pemotongan dari sapi bakalan sebanyak 53.378 ekor (11.963 ton setara daging)

“Impor sapi bakalan turun cukup lumayan. Sampai akhir Juni  baru mencapai 215 ribu ekor dari rata-rata 500 ribu ekor atau turun 35 persen. Namun hingga akhir 2020 saya perkirakan hingga akhir Juli 245 ribu ekor ,” katanya.

Fadjar mengakui, selama  Covid-19 perkembangan atau pasokan sapi dari Australia memang tidak terganggu lockdown. Namun demikian ada faktor lain yang mempengaruhi impor sapi bakalan yakni kondisi nilai tukar dollar AS terhadap rupiah.

“Feedloter saat ini wait and see terhadap perkembangan yang ada, terutama penurunan permintaan daging sapi di dalam negeri. Jika kita melihat secara keselurahan memang ada penuruan demand. Mungkin ini yang menyebabkan penurunan sapi bakalan,” tuturnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018