Monday, 10 August 2020


Daging Kerbau India ‘Seruduk’ Peternak Sapi Rakyat

15 Jul 2020, 11:36 WIBEditor : Yulianto

Peternak sapi rakyat kini lesu karena masuknya daging kerbau impor | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Kebijakan Pemerintah Indonesia membuka impor daging kerbau India berimbas pada peternakan sapi di dalam negeri. Peternak sapi rakyat di beberapa sentra peternakan kini tengah lesu. Bahkan di Pulau Jawa, peternak kini hanya mengandalkan Hari Raya Kurban untuk penjualan.

Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau (PPSKI), Rochadi Tawaf mengatakan, sejak tahun 2016 pemerintah Indonesia mengijinkan importasi daging kerbau India. Namun menurut data Internasional APEDA India dan USDA, Indonesia ternyata sudah mengimpor daging kerbau sejak tahun 2014.

Data APEDA impor daging India ke Indonesia pada periode tahun 2014-2015 sebanyak 84 ton, tahun 2015-2016 naik menjadi 812 ton, tahun 2016-2017 naik menjadi 65.304 ton, kemudian tahun 2017-2018 hanya 26.264, tapi tahun 2018-2019 melonjak hingga 94.500 ton.

Mirisnya menurut Rohadi, distribusi daging kerbau tersebut sudah ada dimana-dimana, bahkan sampai NTB dan NTT sebagai produsen sapi. “Perkembangannya jika sebelumnya daging kerbau India hanya untuk memenuhi kebutahan pasar Jabodetabek, tapi kini justru telah menyebar hampir ke seluruh Indonesia,” katanya.

Masuknya daging India tersebut menjadi keluhan peternak rakyat. Misalnya, NTB yang sudah menargetkan sebagai Provinsi Sejuta Sapi bakal tidak bisa terlaksana jika daging kerbau India terus masuk. Begitu juga Jawa Timur, peternak sapi tak lagi memiliki daya saing. Sebab, harga daging kerbau impor yang murah berpengaruh positif terhadap peningkatan populasi.

“Kalau harga ditekan terus, tidak akan ada peningkatan usaha. Di Jawa masuknya daging kerbau India sangat berpengaruh terhadap prousen,” ujar Rohadi saat webinar Ketersediaan dan Pasokan Daging Sebelum dan Selama Covid-19 di Jakarta, Selasa (14/7).

Rohadi mengaku tahun 2019 pernah mengadakan kajian terhadap masuknya daging kerbau India. Dampaknya ternyata sangat siginifikan terhadap dinamika usaha peternakan rakyat. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yoyakarta, dan Jawa Timur jumlah pemeliharaan dan penjualan sapi menurun tajam. “Frekwensi penjualan, peternak hanya mengandalkan Hari Raya Kurban saja,” katanya.

Sementara dari sisi harga, ungkap Rohadi, baik harga beli bibit sapi dan bakalan mengalami kenaika. Begitu juga harga jual sapi bibit dan sapi siap potong juga naik. Kondisi ini menjadi kendala dalam produksi, karena harga bibit sapi bakalan tinggi.

“Peternak terkendala adanya daging kerbau India yang masuk selama 4 tahun ini. Bagi pemerintah memang berhasil mengendalikan harga daging, tapi bagi peternak justru membuat usaha mereka makin menurun,” tuturnya.

Rohadi menilai, besarnya daging kerbau impor itu menunjukkan Indonesia sudah masuk dalam perangkap pangan (food trap). Karena itu, pemerintah harus menyadari dan menjadi peringatan kalau kebutuhan pangan kita terus dipenuhi dari luar negeri.

Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), impor daging kerbau India tahun 2019 sebanyak 79.574 ton dari prognosa sebanyak 100 ribu ton. Sedangkan untuk tahun ini dari prognosa sebesar 170 ribu ton, baru terealisasi 672 ton.

Menurut Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Syamsul Maarif dari rekomendasi impor daging India sebanyak 170 ribu ron, alokasi untuk Perum Bulog sebesar 70 ribu ton dan PT. Berdikari 100 ribu ton. “Keputusan impor daging India itu melalui Rakortas. Jadi tidak melalui rekomendasi Kementan,” katanya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018