Sunday, 26 June 2022


Peternak Layer Berharap Integrator Tidak Jualan Telur

20 Jan 2021, 16:00 WIBEditor : Yulianto

Peternakan ayam petelur | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kalangan peternak ayam layer (petelur) berharap pemerintah membuat regulasi agar integrator tidak masuk dalam usaha telur. Sebab, peternak ayam layer selama ini menjadi penompang ekonomi pedesaan.

“Sebenarnya sudah ada kesepakan ayam petelur merupakan produk UMKM. Jadi harapannya tidak menjadi komoditas integrator. Integrator boleh masuk ke industri olahan telur,” kata Wakil Ketua PINSAR NASIONAL, Hidayat Rahman saat FGD Sinar Tani, di Jakarta, Rabu (20/1).

Alasannya kata Hidayat, peternak petelur merupakan UMKM yang berada di pedesaan. Sebab, jika sampai mati atau gulung tikar, maka ekonomi pedesaan akan hilang. Berkembangannya peternakan layer juga dapat mencegah masyarakat desa untuk mencari pekerjaan ke kota.

“Ini perlu regulasi. Integrator dan petertnak harusnya berkolaborasi dan sama-sama berkembang,” ujarnya. Apalagi lanjut Hidayat, selama pandemi Covid-19, usaha peternak layer merupakan salah satu yang dapat bertahan dari goncangan ekonomi.

Bahkan usaha ternak layer terus tumbuh. Bahkan ketika pemerintah membuat kebijakan bantuan sosial, salah satunya adalah telur, permintaannya makin tinggi. Untuk itu peternak berharap pemerintah melakukan pengawasan terhadap integrator.

Regulasi Pakan

Selain berharap memberikan pengawasan terhadap integrator, Hidayat juga meminta pemerintah membuat regulasi soal pakan ternak yang berpihak ke peternak rakyat. Untuk peternak layer, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur kini ada kewajiban memenuhi standar nomor pokok pakan.

Bagi peternak kecil dan menengah, jika harus membuat pakan sesuai pabrikan akan sulit terealisasi. “Ada kesan peternak kecil dan menengah akan dihabiskan, karena mereka memang tidak akan mampu menghasilkan pakan sesuai pabrikan,” katanya.

Padahal menurut Hidayat, peternak yang membuat pakan dengan mencampur bahan baku sendiri jauh lebih murah biayanya dari pada pakan jadi dari pabrikan. Bahkan hitungannya bisa lebih hemat Rp 200-250/kg.

“Kami lihat dengan membeli konsetrat dan membuat pakan sendiri, ayam petelur bisa bertahan 5-6 bulan. Produktivitasnya juga masih bisa mengimbangi dengan ayam yang diberi pakan pabrikan,” tuturnya.

Hidayat menegaskan, seharusnya pemerintah justru membina peternak agar dapat membuat pakan agar lebih berkualitas. Misalnya, agar pakan yang diberikan ke ternak tidak membuat kotoran ayam basah, tapi kering, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan.

Jadi pemerintah membantu economis skill peternak. Diantaranya, mengarahkan agar peternak ayam membuat close house/mekanisias agar mengurangi dampak cemaran lingkungan karena jika terbuka, maka cemaran lingkungan cukup tinggi.

“Pemerintah mendorong agar peternak bisa mengakses perbakan, mendampingi peternak membangun koperasi, bagaimana membantu perbaiki perkandangan. Jadi dengan economis skill, ongkos produksi bisa diturunkan, dan bagimana efisiensi kita jalankan,” tuturnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018