Sunday, 19 April 2026


Silo Jalan Keluar Ketersediaan Jagung untuk Peternak

03 Jul 2021, 09:59 WIBEditor : Yulianto

petani jagung

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan ternak menjadi persoalan yang terus bergulir dialami peternak mandiri. Padahal jagung merupakan campuran utama pakan ayam petelur,  mencapai 50 persen dalam formulasi pakan.

Mengingat besarnya porsi jagung dalam campuran pakan tersebut, diperlukan strategi jangka panjang untuk menjamin suplai jagung bagi peternak dari sisi harga dan kualitas. Terlebih saat ini terjadi kenaikan harga jagung baik di level nasional maupun internasional.

“Salah satu solusi dalam permasalahan ini adalah dibangunnya dryer dan silo jagung di sentra peternak layer dalam volume yang memadai,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi saat webinar “Kemitraan Petani Jagung dengan Peternak untuk Keberlangsungan Bisnis Unggas”, beberapa waktu lalu.

Menurut Suwandi, dengan adanya silo, hasil panen petani jagung yang tergantung musim bisa teratasi. Sebab, saat panen raya, petani atau peternak bisa menyimpan jagung di silo tersebut untuk kemudian digunakan saat panen sudah tidak ada di lapangan.

“Selain dibangunnya silo, peternak layer harus melakukan perjanjian kemitraan dengan petani jagung, untuk menjamin suplai dari lapangan,” lanjut Suwandi.

Menjawab tantangan tersebut, Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal/PINSAR Kendal, Suwardi menyampaikan kesiapannya untuk menghadirkan silo di lokasi peternak Kendal.

“Karena peternak rakyat tidak mempunyai kemampuan pembiayaan yang memadai untuk membeli sejumlah jagung yang tersimpan di silo, saya berharap dukungan dari pemangku kepentingan lain untuk mengatasi hal ini,” katanya.

Sebagai gambaran, apabila tersedia satu silo dengan kapasitas 40 ribu ton, maka biaya yang dibutuhkan untuk jagung yang tersimpan tersebut sebesar Rp. 200 milyar dengan asumsi harga jagung saat ini Rp 5.000/kg.

Untuk diketahui Kabupaten Kendal merupakan sentra peternak ayam petelur terbesar kedua di Indonesia, jumlah populasi ayam petelurnya mencapai 9,6 juta ekor. Adapun jumlah jagung yang dibutuhkan sebanyak 582 ton/hari. Jika tersedia silo dengan kapasitas 40.000 ton, maka bisa memenuhi kebutuhan jagung untuk kurang lebih dua bulan.

Kebutuhan jagung untuk dua bulan sebenarnya masih dibawah angka aman industri pakan. Amannya persediaan jagung untuk pakan adalah minimal tiga bulan kebutuhan atau dengan volume silo bagi kasus Kendal sebanyak 50.000 ton.

Sementara itu Nunik Sri Murtini, Dirut PT Sarottama mengakui adanya kendala pasokan jagung saat Pandemi covid 19. Apalagi kemampuan serap stok simpan peternak mandiri selama ini masih di 1-2 minggu. “Jika peternak lokal bisa menyimpan stok untuk beberapa bulan ke depan menjadi hal menarik kami.,” ujarnya.

Nunik mengatakan, jika peternak lokal menyatakan keseriusan membeli dan petani memberi jaminan harga yang pasti, maka bisa mengurai permasalahan selama ini. “Kalau ada pertemuan dengan peternak lokal, kami siap memfasilitasi,” katanya.

Beberapa solusi permanen coba ditawarkan Nunik, yaitu peternak unggas harus melakukan penetrasi pasar dengan melakukan kemitraan bersama pemerintah yang memiliki lahan potensial pengembangan jagung.

Adapun penetrasi tersebut dilakukan dengan membuka LOI/PKS/PO bahkan bank garansi sebelum penanaman dimulai Contohnya di NTT sebagai wilayah potensial dengan rencana pengembangan seluas 100.000 ha

Solusi berikutnya Pemda memberikan rekomendasi petani yang membutuhkan modal, dilakukan capacity building, failitasi sarana produksi dan pembinaan. Terkakhir mengembangkan diversifikasi substitusi jagung yaitu tanaman sorgum minimal 20 persen. Direncanakan mulai di NTT seluas 5.200 ha.

Kementerian Pertanian di bawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo memiliki strategi pengembangan jagung sampai dengan tahun 2024. Diantaranya yaitu tanam di lahan perkebunan, perhutani, marjinal, lahan tidur, terlantar dan menganggur.

Kemudian peningkatan Indeks Pertanaman, Peningkatan provitas, Integrasi tumpangsari, tumpang sisip, penggunaan benih bermutu dan bersertifikat, pergantian varietas ke VUB provitas tinggi, pengendalian OPT dan DPI, pengembangan kawasan skala luas, foodestate, korporasi petani, mekanisasi serta Kemitraan.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018