Monday, 24 January 2022


Hingga Akhir 2021, Ekspor Peternakan Tembus Rp 14,31 Trilliun

17 Dec 2021, 10:41 WIBEditor : Gesha

Ekspor Charoen Pokphand | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di masa pandemi Covid -19 ternyata kinerja ekspor produk-produk  lingkup sub sektor peternakan dan kesehatan hewan  (PKH) tetap cemerlang dan menunjukkan trend meningkat. Melalui pelaksanaan  program  Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) diharapkan volume serta nilai ekspor komoditas peternakan bisa didorong lebih meningkat lagi.

Dalam pengarahannya sebelum membuka resmi Webinar Nasional yang diselenggarakan  Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (16/12), Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin menyebutkan data bahwa selama periode Januari - Oktober 2021 total volume  ekspor komoditas peternakan Indonesia mencapai 278.676 ton senilai Rp 14,31 triliun.

Dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 ,terjadi peningkatan volume ekspor 4,57 persen dan nilai ekspor  33,88 persen. Produk yang diekspor antara lain daging ayam olahan, sarang burung walet, pakan ternak, produk susu olahan, kelompok obat hewan dan kelompok hewan hidup yang mampu menembus hingga 97 negara . “Dengan adanya program Gratieks diharapkan nilai ekspor komoditas peternakan pada tahun 2024 naik 300 persen dan bisa masuk  ke 100 negara ,” kata Nuryani.

Ekspor produk obat hewan yang nilainya mencapai Rp 730 miliar, menurut Dirkeswan, masih sangat potensial untuk lebih ditingkatkan seiring dengan terus meningkatnya jumlah produsen dan eksportir obat hewan di tanah air.

Sehubungan dengan itu Ditjen PKH sejalan dengan pelaksanaan program Gratieks akan melakukan berbagai upaya seperti meningkatkan jumlah produsen obat hewan yang bersertifikat, mendorong peningkatan eskportir obat hewan, meningkatkan peran BBPMSOH dalam mengawal produksi dan peredaran obat hewan berkualitas ekspor  serta melakukan pendampingan produksi dan promosi  untuk menggenjot  ekspor. 

Tantangan di 2022 

Ketua Umum ASOHI, Irawati Fari dalam sambutannya mengemukakan bahwa selama pandemi begitu banyak dinamika yang terjadi termasuk  di bisnis obat hewan.  Jelang akhir tahun 2021 tampak satu titik cerah yakni kondisi sudah melandainya kejadian kasus masyarakat terpapar Covid-19.

Pengusaha obat hewan tentu berharap  bisa cepat terjadi pemulihan ekonomi dan anggota ASOHI bisa secara bersama  berkontribusi dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi tersebut.  “Karenanya  di webinar kali ini kami memilih tema  Bersama Menghadapi Dinamika dan Percepatan Pemulihan ,” tegas Irawati.

Karena masih dalam kondisi pandemi, ia menilai masih akan banyak tantangan yang dihadapi di tahun 2022 . Kebersamaan diantara stakeholder dirasakan penting untuk terus dipupuk agar di masa pemulihan segenap pelaku bisnis obat hewan bisa tetap merasa optimis dalam melaksanakan usahanya.

Senada dengan Ketua Umum ASOHI, Kepala Satgas Pangan, IJP Helmy Santika, dalam paparannya menekankan pentingnya semua pihak terkait bersatu padu dalam mengawal bahan pokok dan bahan pangan penting agar tersedia cukup dan distribusinya lancar juga terjamin aman dikonsumsi masyarakat. Patut disyukuri bahwa di tahun 2021 kondisi ketersediaan pangan  aman terefleksikan dari besaran inflasi  nasional yang belakangan di posisi rendah akibat harga bahan pangan yang relatif stabil.

“Di tahun 2021 memang sempat terjadi gejolak harga produk unggas tetapi bisa cepat teratasi melalui strategi kerja sama diantara stakeholder dan tepatnya pemerintah dalam menetapkan kebijakan  jangka pendek,” tutur Helmy.

Satgas Pangan, menurut Helmy,   akan terus melakukan tugas pengawasan termasuk mengawasi peredaran obat hewan ilegal di tanah air. Pihaknya  di tahun 2021 menemukan kasus peredaran obat hewan ilegal   di wilayah Provinsi Banten . “Kami sesalkan kejadian ini karena dampak lanjutannya bisa menurunkan kualitas  daging juga tidak ada pemasukan pajak sehingga negara dirugikan,” ujarnya.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018