Monday, 23 May 2022


Soal PMK, Ini Penjelasan Kementan

11 May 2022, 11:48 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat berkunjung ke peternakan sapi di Gresik | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Gresik---Pasca Lebaran, dunia peternakan di Indonesia dihebohkan mencuatkan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau dikenal sebagai Foot and Mouth Disease pada sapi. Padahal selama ini Indonesia sudah mendapatkan status PMK dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE).

PMK adalah penyakit hewan menular yang menyerang ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi. Menindaklanjuti kasus tersebut, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berkunjung ke peternakan di Gresik, Jawa Timur.

SYL berharap PMK yang mewabah ini berada pada level yang ringan dengan tingkat resiko rendah, sehingga jenis PMK ini dapat ditangani secara cepat. “Hari ini kita harus berhadapan dengan PMK, tetapi mudah - mudahan PMK ini adalah PMK yang levelnya ringan, yang mutasi atau tingkat penyebarannya tidak terlalu tinggi dan tingkat kematiannya pasa hewan rendah,katanya.

Meski penyakit ini terkonfirmasi dapat menyebar cepat mengikuti arus transportasi daging dan ternak terinfeksi, namun PMK dipastikan tidak beresiko terhadap kesehatan manusia. Selain diperkuat oleh pernyataan Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu, SYL juga kembali menegaskan bahwa kasus PMK ini tidak berbahaya bagi manusia.

“Yang perlu kita pahami penyakit PMK ini memang berbahaya bagi hewan, tetapi tidak menular atau tidak beresiko pada kesehatan manusia,untuk itu kita akan lakukan berbagai upaya untuk mengatasi PMK ini,” ungkap SYL.

Kematian Rendah

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah mengatakan, hasil laboratorium menunjukan beberapa ternak yang terkonfirmasi positif PMK memiliki tingkat kematian yang rendah. “Alhamdulillah sampai hari ini kematian sangat rendah hanya 1,1 persen dari jumlah ternak yang terinfeksi virus PMK ini,ujarnya.

Nasrullah menambahkan, berbagai langkah penanggulan PMK yang dilakukan pemerintah telah memberi hasil positif di lapangan. Bahkan tingkat kesembuhan hewan ternak yang terinfeksi menunjukan kemajuan yang cukup signifikan  “Hasil lapangan hari ini kami melihat ada kemajuan yang berarti,” ujarnya.

Dengan pemberian obat sejak kasus pertama di 28 April hingga hari ini sudah banyak hewan ternak yang menuju ke sehat. Ini belum menggunakan vaksin, baru obat - obat yang diberikan sesuai rekomendasi kesehatan hewan. “Kami melihat sendiri di satu kandang disini sudah ada beberapa hewan yang sudah mulai makan, berdiri dan menuju ke sehat,tegasnya.

Melalui pendataan dan pemantauan dilapangan, Nasrullah menyebut bahwa jumlah hewan ternak yang terkonfirmasi sakit PMK sebanyak 200 ekor, mati 4 ekor dan sembuh 12 ekor. Meski perlu diperkuat dengan hasil laboratorium lanjutan. “Angka ini menunjukan tingkat keganasan virus PMK berada pada level yang rendah,” ujarnya.

Jadi lanjut Nasrullah, ini bisa menjadi harapan, mudah mudahan bisa mendapatkan serotype dari virus PMK dan bukan tipe yang ganas. Namun dengan gejala klinis dan lapangan kita melihat bahwa PMK ini bisa sembuh dan ini terbukti di lapangan.

Terkait pengaturan serta pengawasan lalu lintas hewan ternak dan penetapan gugus tugas penanganan PMK secara nasional, Nasrullah mengatakan, Kementan telah menetapkan sejumlah kebijakan melalui surat penetapan maupun surat edaran Menteri Pertanian.

Pengawasan dan pengaturan lalu lintas hewan ternak juga dilakukan di masing masing daerah, baik ditingkat provinsi maupun kabupaten. Ia berharap upaya yang dilakukan ini dapat mencegah kepanikan masyarakat serta memperkecil kesempatan bagi pihak yang ingin berspekulasi. 

“Untuk pemotongan tetap dilakukan di pemotongan hewan dan dilakukan secara ketat. Sudah ada surat edaran Menteri Pertanian terkait penanganan pemotongan hewan yang berada di rumah potong hewan,” katanya.

Reporter : julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018