
Kandang Ayam Petelur
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pemerintah tengah menyiapkan investasi jumbo senilai Rp20 triliun untuk membangun ekosistem hilirisasi peternakan ayam yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Langkah ini diharapkan mampu memangkas biaya produksi unggas yang selama ini menjadi beban utama peternak rakyat, sekaligus memperkuat struktur industri perunggasan nasional.
Profesor Riset Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN, Nyak Ilham, menilai hilirisasi ayam terintegrasi dapat menjadi terobosan besar jika dirancang secara matang dan mampu bersaing sehat dengan industri komersial yang sudah mapan.
Menurutnya, integrasi dari pakan hingga rumah potong merupakan strategi kunci yang sudah lama dibutuhkan.
“Pemerintah harus memastikan kesiapan infrastruktur dasar,” ujarnya mengingatkan
Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak hanya bertumpu pada pembangunan fasilitas fisik. Penguatan kelembagaan lokal seperti koperasi disebut menjadi faktor penting agar peternak benar-benar bisa mandiri.
Dengan akses produksi yang memadai dan fasilitas yang terjangkau, harga di tingkat peternak diyakini bisa lebih stabil.
“Selama ada koperasi dan akses produksi yang baik, peternak bisa berdiri sendiri. Harga pun akan lebih stabil karena tidak terjadi ketergantungan pada integrator besar,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa hilirisasi harus meliputi seluruh ekosistem, mulai rantai pasok, logistik, hingga efisiensi distribusi.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan KADIN, Mohammed Cevy Abdullah atau akrab disapa Cecep Wahyudin, menjelaskan bahwa konsep hilirisasi unggas ini akan membentuk ekosistem terpadu yang menyatukan pembibitan, pakan, peternakan, hingga distribusi.
Ia menyebutnya sebagai “super holding unggas” yang memberi kepastian induk usaha bagi peternak rakyat maupun peternak mandiri yang selama ini kurang memiliki posisi tawar.
Menurut Cecep, logika yang digunakan dalam model ini sederhana: semakin dekat pabrik pakan dan sentra produksi dengan pasar, semakin kecil biaya logistiknya. Saat ini, biaya logistik dan distribusi menyumbang 15–20 persen dari total biaya produksi unggas.
Dengan menghadirkan pabrik pakan, unit breeding, grower farm, rumah potong ayam (RPA), hingga fasilitas cold storage langsung di provinsi bahkan kabupaten yang menjadi basis peternak, biaya angkut diharapkan dapat ditekan signifikan.