
Pemerintah tancap gas capai swasembada daging & susu 2029! Strategi mencakup Greenfield farm, indukan unggul, dan teknologi modern untuk dorong produktivitas peternak nasional.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung -- Pemerintah tancap gas capai swasembada daging & susu 2029! Strategi mencakup Greenfield farm, indukan unggul, dan teknologi modern untuk dorong produktivitas peternak nasional.
Pemerintah Indonesia menegaskan tekadnya untuk mencapai swasembada daging sapi dan susu dalam lima tahun ke depan. Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan strategi nasional yang dirancang dengan peta jalan terperinci, investasi besar, dan kolaborasi lintas sektor.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Dr. Harry Suhada, S.Pt., M.Sc., menegaskan bahwa percepatan produksi ternak menjadi kunci untuk menutup defisit nasional yang masih sangat signifikan.
Menurut Dr. Harry, kondisi populasi ternak saat ini memang masih menjadi tantangan utama, dimana daging sapi masih mengalami defisit 52 persen dan kebutuhan susu nasional masih defisit 79 persen.
Hal ini berarti Indonesia masih sangat bergantung pada impor sapi dan susu, yang jelas menimbulkan risiko ketahanan pangan.
“Kita harus berpikir jangka panjang. Tidak hanya menambah jumlah ternak, tetapi juga meningkatkan produktivitas sapi perah dan pedaging agar bisa memenuhi kebutuhan nasional,” ujarnya dalam forum di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung.
Pemerintah menyiapkan roadmap yang cukup ambisius hingga 2029, di mana Indonesia menargetkan mendatangkan sekitar 1 juta ekor indukan dari luar negeri.
Indukan ini akan digunakan untuk memperkuat populasi sapi perah dan sapi pedaging nasional. Target akhirnya adalah menekan defisit menjadi hanya 0,32–3,72 persen pada akhir 2029.
Berdasarkan data terkini, populasi ternak Indonesia menunjukkan bahwa sapi perah dewasa produktif mencapai 49 persen dari total populasi, sedangkan sapi potong dewasa produktif berada di angka 43,8 persen.
Dari jumlah tersebut, produktivitas betina yang aktif menghasilkan susu atau daging cukup tinggi, yakni 85 persen untuk sapi perah dan 80 persen untuk sapi potong.
Namun, rata-rata produksi ternak masih memerlukan peningkatan signifikan; setiap sapi perah hanya mampu menghasilkan 33–35 liter susu per hari, sementara sapi potong menghasilkan rata-rata 12–14 kg daging per ekor.
Pemerintah juga mendorong pembangunan Greenfield farm di beberapa wilayah strategis, seperti Sukamara di Kalimantan, Pasir Panjang, dan Jawa Timur.
Setiap lokasi akan dilengkapi fasilitas pendukung mulai dari pabrik pakan, pabrik pengolahan RPHU, laboratorium vaksin, hingga sistem logistik dan pemasaran yang terpadu.
Total investasi untuk proyek Greenfield ini diperkirakan mencapai Rp 6 triliun, dengan nilai per proyek bervariasi antara Rp 66 miliar tergantung skala dan lokasi, sebagai bagian dari upaya memperkuat infrastruktur peternakan nasional.
Karena itu, langkah ini perlu didukung oleh skema investasi dan kolaborasi dengan pelaku usaha. 196 pelaku usaha telah berkomitmen untuk mendukung pengembangan sapi perah dengan target impor 998.565 ekor indukan, sementara 84 pelaku usaha fokus pada sapi pedaging dengan target 577.103 ekor. Total nilai investasi yang disiapkan mencapai Rp 228,66 triliun.
“Ini bukan sekadar angka. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, swasta, dan koperasi akan memastikan setiap ekor ternak dikelola dengan manajemen profesional, termasuk pakan, breeding, dan kesehatan hewan,” cetusnya.
Selain investasi langsung dari pelaku usaha, pemerintah juga menyiapkan akses kredit perbankan dan skema pembiayaan khusus bagi peternak. Skema ini memungkinkan peternak dan investor skala kecil hingga besar untuk berpartisipasi dalam percepatan swasembada.
“Karena anggaran APBN terbatas, kita memanfaatkan investasi swasta dan skema kredit. Ini memungkinkan pembangunan peternakan berkelanjutan tanpa bergantung penuh pada subsidi pemerintah,” jelasnya.
Selain menambah jumlah ternak, peningkatan produktivitas menjadi sorotan. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa rata-rata produksi susu per sapi per hari masih berkisar 33–35 liter, sedangkan rata-rata produksi daging per ekor hanya 12–14 kg.
Kondisi ini dipengaruhi oleh fakta bahwa 81 persen peternak Indonesia berpendidikan dasar, sehingga banyak yang masih menerapkan metode tradisional.
Untuk itu, pemerintah fokus pada pendidikan dan pelatihan peternak, pengenalan teknologi modern, serta pembinaan manajemen pakan dan breeding.
Selain itu, penguatan infrastruktur pendukung seperti jalan, lahan bersih, laboratorium vaksin, RPHU, pabrik pakan, dan sistem distribusi menjadi bagian integral dari strategi swasembada.
“Kami tidak hanya menambah jumlah ternak, tetapi juga memastikan setiap ekor sapi mampu produktif optimal. Manajemen kesehatan, pakan, dan breeding harus berjalan seiring,” tuturnya.
Masalah distribusi menjadi tantangan lain. Meskipun produksi daging ayam dan telur sudah surplus, masih 63 persen terpusat di Pulau Jawa, sehingga wilayah luar Jawa, Papua, Aceh, dan Maluku Utara mengalami kekurangan pasokan. Kondisi ini membuat harga pangan di luar Jawa lebih tinggi dan fluktuatif.
Pemerintah menyiapkan skema distribusi terintegrasi, memastikan pasokan daging dan susu merata di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan melalui kolaborasi dengan BUMN, koperasi, UMKM, dan pelaku swasta untuk mengelola produksi hingga distribusi.